Skip to main content

Posts

Sensatia: Cantik, Lingkungan Terjaga dan Masyarakat Sejahtera!

2021 semua orang masih di rumah saja. Virus covid belum usai. Orang semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental selama pandemi, dan kesehatan diri. Salah satunya tampilan fisik. Tapi bagaimana bentuk menjaga kesehatan diri tersebut? Pertama, ucapkan Alhamdulillah atas semua nikmat yang Allah berikan pada kita semua. Nikmat sehat, tidak terkena covid, dapat berkumpul bersama keluarga. Nikmat tetap memiliki pekerjaan di saat yang lain sedang di PHK. MasyaAllah Alhamdulillah. Dan tentunya usaha kita untuk menjaga dan merawat apa yang sudah diberikan oleh Allah. Tentang Skincare Bentuk penjagaan tersebut juga saya upayakan dalam urusan skincare. Bagaimana memilih skincare yang tepat dengan kondisi fisik, tetapi juga ramah di kantong. A walnya saya lupa persis tau produk  lokal  ini dari mana, mengingat setelah perawatan di salah satu klinik kecantikan gratis, mau repurchase yang kedua, muka malah makin enggak bener , selain pikiran juga sedang enggak baik pada waktu itu, pola ma

Covid Datang, Kita Bisa Apa?

2020 covid hadir di tengah sibuknya masyarakat akan kegiatan sehari-hari. Porak poranda. Semua berubah. Belajar offline menjadi online, rapat yang biasanya bertatap muka kini menjadi online. Sampai ke restoran, semua memberlakukan take away, diantar oleh ojek. Kalau gaptek, lalu bagaimana bisa mempertahankan bisnis? Bukan masalah gaptek atau tidak. Bagaimana kita mengubah mindset dari yang awalnya semua secara tradisional, kini berubah menjadi GO TO ONLINE . Semua terdampak akibat covid ini, mulai dari dokter yang kewalahan di rumah sakit untuk menjaga dirinya sendiri hingga merawat pasiennya juga. Mahasiswa yang baru lulus dan bingung, bagaimana kelak lapangan kerja? Apakah tersedia? Atau malah pengangguran semakin banyak. Adanya bencana virus yang menelan banyak korban ini, tidak lupa juga menegur pemerintah kita untuk lebih peduli kepada masyarakatnya, termasuk oleh bapak presiden kita, Joko Widodo, melaksanakan apa yang sudah direncanakannya sewaktu kampanye, yaitu peluncuran kartu

Mengapa Harus Swab Test?

Covid per kemarin, 13 Januari 2020 sudah menyentuh angka 858.043 pasien positif. Angka ini begitu naik dibandingkan hari kemarin. Semakin banyaknya masyarakat yang terkena, harusnya kita juga semakin aware akan diri kita sendiri. Bagaimana bentuk aware yang sebenarnya? Kebanyakan dari kita parno jika pernah bertemu atau kontak fisik langsung dengan orang yang dinyatakan positif covid-19, padahal dengan sikap parno tadi, suasana hati dan fisik kita mengikuti menjadi panik. Bentuk aware yang disarankan jika kamu merasa diri kamu sudah suspek nih, banyak gejala yang muncul di kamu, kamu perlu Swab test. Atau kedua, ada kontak fisik langsung dengan pasien covid namun tanpa disertai gejala seperti demam, flu, batuk, dan sesak napas, baiknya menjauhkan diri dan mulai isolasi mandiri di rumah. Hal ini disebut tracing contact, sebagai upaya melihat siapa saja yang memang kontak langsung dengan pasien positif. Nah selama isolasi perlu kiranya kita makan makanan yang bergizi, minum vitamin, berj

Masih Tidak Peduli? Covid Masih Ada!

Wah, sudah masuk di 2021 ya. Postingan saya nih di tahun ini. Alasan postingan ini sih muncul sebagai kegeregetan saya kepada banyaknya masyarakat yang abai atau tidak peduli lagi akan protokol kesehatan. Apakah harus anggota keluarga dan orang terdekat kita divonis covid-19 lalu kita menyadari adanya virus ini? Beberapa bulan yang lalu ketika kasusnya masih tinggi di kota Medan, saya diberikan kebijakan parsial di kantor, Work From Home dan Work From Office, artinya dijeda, beberapa minggu masuk, lalu tidak. Tibalah saya WFO, saya bertemu dengan rekan kerja lainnya. Sebagai manusia yang berakal dan berusaha mencegah masuknya virus, saya menerapkan 3M, memakai masker, mencuci tangan, hingga menjaga jarak dan kerumunan.   Sudah segiat itu saya, muncullah seorang rekan yang hendak meminjam headset saya. “Mbak, pinjem headsetnya dong”, sembari mengangkat telefon genggamnya. Sontak saya langsung berkata, “Maaf mbak, lagi covid, enggak mau minjemin barang-barang pribadi, hehe”. Kalian bisa

Siap Mental Hadapi Diskon Akhir Tahun

Memasuki akhir tahun 2020 kerasa enggak sih waktu begitu cepat berlalu? Suka berasa cepat banget gak sih? Kadang suka mikir, enggak setahun ini udah ngapain aja? Seproduktif itu atau malah mageran? Atau malah jadi rajin banget akibat banyaknya kelas online dan webinar? HAHAHA. Akhir tahun identik dengan diskon dimana-mana, mulai dari shopee, tokopedia, bukalapak. Bahkan tidak jarang banyak produk yang mengeluarkan produk baruuu huaaa, menjerit gak tuh dompet melihatnya wkwkwk. Lalu, bagaimana kiranya kita menghadapi diskon tersebut? Yuk dibaca tips berikut ya! Khususnya buat ibu-ibu yang beli barang cuma perkara LUCU doang hahaha. Pertama yuk kita baca diagram berikut ya dari sustaination dan mbak Puty Puar. First of all, butuh tidak sih kita akan barang tersebut? Jika ya, cek dulu nih apakah ada barang yang fungsinya sama seperti barang tersebut di rumah? Kalau ya, cek lagi apakah bisa kita gunakan barang yang sudah ada di rumah, kalau bisa ya bagus banget artinya tidak perlu beli bar

Makna di balik Khitbah dan Pernikahan

 Bismillah... Di umur segini, saya termasuk agak was-was dengan keadaan sekitar saya yang mempertanyakan kapan saya akan menikah, termasuk dari keluarga inti sendiri. Ketar-ketir, apalagi jarak saya tidak begitu jauh dengan sang adik yang mungkin lebih siap menikah. Tapi, semakin ke sini, rasa khawatir saya berkurang. Justru saya lebih kasian melihat diri saya yang tidak ada ilmu yang saya dapatkan setiap harinya. Ya, misalnya sepele, mendengarkan kajian 5 menit, tapi dampaknya masyaAllah. Semenjak mengikuti kelas pengembangan diri di Bengkel Diri oleh Ummu Balqis, saya semakin sadar akan tujuan hidup saya. Bahwasanya hidup tidak melulu tentang nikah. Wajib memang, jika sudah sanggup dan dikenakan hukum wajib. Tapi, dianalisis lagi, betulkah saya sudah siap? Atau, tujuan saya menikah itu sebenarnya apa? Anak saya mau dididik seperti apa? Pasangan apa yang saya inginkan? Pertanyaan ini juga pernah saya bahas di postingan Pemikiran di Umur 25 . Menikah adalah salah satu bentuk kesempurna

9 Penyebab Seseorang Futur, Apakah Kamu Merasakannya?

Beberapa bulan terakhir walaupun masih pandemi, tidak tahu rasanya malas saja begitu membaca buku yang bertengger di rak padahal masih banyak sekali yang belum selesai. Bahkan ada yang masih dipinjam dari orang lain, ya Allah maafkan :( Tidak tahu mengapa, mungkin ada perasaan kurang tertarik atau merasa sudah jenuh dengan aktivitas yang ada, sehingga membaca dirasa semakin membuat hidup ini jenuh. Padahal buku kan jendela dunia. Lalu ditegur sama bloger yang suka membaca hehe. Rasanya memang ada yang kurang, kalau biasanya membaca, menulis, ini menjadi nihil. Banyak hal baru yang terlewat begitu saja tanpa ada tambahan asupan ilmu di hidup saya ketika tidak membaca buku. Baca artikel? Tentu. Postingan akun favorit? Ya! Tapi mengapa buku yang sudah dipilih dan dibeli dengan uang hasil jerih payah sendiri disia-siakan?  Gambaran diatas adalah contoh real dari rasa malas dalam tubuh. Kalau di agama Islam, rasa malas akan berbuat kebaikan disebut Futur. Tahukah kamu apa itu futur? Futur a