Skip to main content

Posts

Investasi di Masa Pandemi

Sering enggak sih ngrasa punya uang, udah dibulatkan tekad tujuannya untuk anak masuk SD 3 tahun lagi. Tapi ditengah jalan, ada diskon gede-gedean, mobil ag*a cuma 50jt aja! Lalu tergiur dan... Yaudah kita sambil nabung aja lagi. Terus aja gitu sampai akhirnya anak semakin besar dan mau masuk SD. Bingung? Jelas. Ujungnya kalau uangnya ada sih gak masalah, tapi kalau berakhir kudu berhutang ke sana ke mari? Wah. Ini masalah.

Beberapa dari kita kurang menyadari munculnya sandwich generation adalah dari keluarga yang tidak paham bagaimana memenej uang. PNS sih, tapi uang pensiunan udah habis duluan buat bayar kredit mobil. See? Banyak loh. Orang tua yang tidak bisa mengatur cashflow keuangannya sendiri, tentu akan berimbas pada anaknya. Ketika berpenghasilan hidup mewah, senang, ketika pensiun, bingung, pemasukan tidak ada tapi gaya hidup jalan terus. Ujungnya? Minta ke anaklah, kan anak sendiri, hitung-hitung balas budi.
Jangan... Bukan berarti saya hitungan ketika memberikan pundi uang …

Alasan Menulis Blog Versi Milenials - Elsajalanjalan

Welcome to www.elsajalanjalan.com! 😍
Postingan ini saya tuliskan sebagai bentuk dorongan saya pada milenials lainnya. Banyak yang bilang milenials malas, maunya instant, tidak mau berusaha, hingga tidak mau menabung.  Baca juga: 5 Kesalahan Milenials dalam Mengatur Keuangan

Pengen rajin nulis tapi yang ditatap layar handphone terus, pengen ngblog tapi enggak pernah buka draft blognya, yaaaah sama aja. Kalau dibilang tips and tricks, tidak juga sih, saya hanya sharing alasan mengapa saya menulis blog. Ya, dari saya yang (sedang menjadi) milenials. LOL.
Milenials mungkin tidak wajib menulis di blog, ya sekarang sudah banyak sekali platform untuk sharing apapun. Mulai dari blog, podcast, video vlog, semua orang berhak memilih. Bahkan yang sedang in, microblog di instagram. Dimana gambar dan tulisan bisa dijadikan satu. Hanya bermodalkan aplikasi instagram dan aplikasi edit foto, kamu sudah bisa bikin konten dengan kunjungan yang banyak dari pengguna lain. Tenang... Saya tidak menyarankan ka…

Cerita Keluarga dari Hutan

Sering sekali dalam hidup ini kita dibebankan pada hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan. Mulai dari buang sampah sembarangan, penggunaan kapas sekali pakai, hingga pembalut sekali pakai yang mungkin memudahkan, tapi tidak dapat diuraikan menjadi zat terkecil. Malah menambah frekuensi sampah di TPA. Apakah kita merasa bersalah? Ya, beberapa orang mungkin tersadar lalu berubah, tetapi yang lain? Menjalaninya begitu saja, lalu yasudah dipakai lagi. Concern yang rendah akan lingkungan membuat saya mencoba mulai sharing tentang pentingnya mengganti pembalut plastik menjadi pembalut kain. Kalian penasaran? Boleh cek di RuangSayangBumi, selain menyediakan menstrual pad, saya juga menyajikan cotton pad sebagai pengganti kapas, dan wetbag, pengganti pouch plastik untuk membawa apapun yang bersifat mudah bocor, contohnya untuk tempat menstrual pad yang belum dicuci.
Hutan yang ada di Indonesia tidak sekadar hanya pohon, banyak sekali barang yang bisa kita jadikan jika berasal dari pohon. M…

#IniUntukKita - 5 Kesalahan Keuangan Generasi Milenials

Milenial menurut Wikipedia adalah orang yang lahir di antara tahun 1980-1990. Kamu termasuk juga, kan? Hehe. Oke, first step untuk semua milenial yang ada diluar sana, kita harus memahami dulu sebenarnya seberapa penting keuangan dalam hidup kita. Hal ini tentu erat kaitannya dengan literasi ekonomi, sebagai alat untuk mengubah mindset dari tidak tahu menjadi tahu mengenai ekonomi. Lalu dari mana adanya indikasi milenial tidak melek literasi ekonomi? Mudahnya, masih sering kan kita mendengar berita investasi bodong puluhan juta. Ngeri memang, tapi begitulah kenyataan minimnya literasi kita. Apalagi setelah indonesia merdeka ke 75 tahun ini, bagaimana nasib milenials ke depannya? Itulah perlunya melek literasi ekonomi, sebagai upaya preventif untuk terjadinya hal buruk di kemudian hari (lihat infografis dari validnews). Perlu adanya kemerdekaan keuangan, dimana ada keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran. 
Gaya hidup dinamis tapi minimnya literasi ekonomi membuat milenials sulit …

Lemari Penuh Sesak? Kok Bisa?

Sudah masuk bulan Agustus. Minggu ke-3 tantangan #MulaiDariLemari balik lagi.⁣ Apa sih yang kamu rasakan ketika melihat lemari pakaianmu? Bingung? Bahagia? Mau marah? Atau... Tak bisa berkata-kata lagi hahaha. Saya cukup tenang di hampir setahun ini tidak begitu konsumtif dengan pakaian. Hanya membeli kalau (terpaksa) karena keluarga besar pakai baju seragam. Selebihnya? Ya karrna mamak saya kasian lihat baju saya kok itu-itu saja. Padahal saya nyaman dengan itu. Toh kalau keluar malesnya, baju yang dipakai yang berada pada susunan paling atas. Hayooo, kamu juga pernah gitu kan? Hahaha.


Kenapa sih lemari penuh? Sebenarnya lemari sendiri enggak penuh sih dibandingkan lemari anggota keluarga lainnya di rumah. Syukurlah, alhamdulillah. Rata-rata karena emang dibeliin, dikasi kantor, atau ada event, atau ya terpaksa terbeli akibat keluarga tadi :))  Sabar sabar... Ini adalah sebuah proses.



Atau kalau mamak-mamak nih paling suka membelikan baju baru buat anaknya. Mulai dari anak yang p…

Review Masjid Al-Ikhlas Lubuk Pakam

Alhamdulillah sampai juga umur kita di lewat pertengahan tahun ini. Bulan di mana mulai menentukan apakah resolusi di awal tahun terlaksana atau tidak. Banyak sekali orang yang berlomba-lomba untuk merencanakan begini begitu, namun di tengah tahun baru menyadari, "Oh sungguh mengapa aku begitu ambisius pada dunia ini", Hoho.
Hari itu aku dan keluarga mendadak pergi ke luar kota. Di situasi new normal begini, jujur aku tidak begitu melihat adanya perubahan di warga Sumatera Utara ini. Ke mana-mana ya bisa dihitung pakai jari berapa orang yang benar-benar melakukan protokol kesehatan. Awalnya aku ingin pergi kondangan ke salah satu teman SMP, atau sekadar menikmati indahnya hari Minggu setelah full banting tulang di hari Senin-Sabtu. Tapi, alhamdulillah amangboru agak baikan. Jadi, kami memutuskan untuk pergi karena sebelumnya amangboru demam sehabis HD.

Kami pergi ke sebuah pantai di daerah Perbaungan. Pantai ini sudah lama sekali, cuma ya apalah aku ini hanya bisa menikmati…

Pemikiran Baru di Umur 25

Malam sebelum hari itu saya masih berharap seolah-olah waktu diperlambat. Jangan sampai umurku bertambah. Tidak mau, karena hidup sudah terlalu berat. Tapi apa daya, semua harus dijalani. Banyak sekali orang yang excited merayakan ulang tahunnya, tapi aku tidak. Sedih, sesedih itu, udah seumur begini sudah memberikan dampak apa pada keluarga, agama, lingkungan huhu.


Muncul pemikiran baru di umur 25 ini. Banyak hal baru yang saya sadari, ternyata tidak bisa dianggap remeh. Perihal uang, tidak bisa saya dan keluarga tidak terbuka. Ketika disuruh untuk kuliah lagi pun, walau dibilang biayanya ada dari orang tua. Jika saya mengiyakan, tapi apakah benar saya butuh? Terkadang hidup ini butuh saran-saran dari orang banyak, tidak sekadar pemikiran sendiri.

Banyak yang bilang, dengan kamu menempuh pendidikan, maka pekerjaan akan mengikuti. Jabatan akan semakin dipertimbangkan, dan lain sebagainya. Padahal, itu tergantung kitanya kan, ingin berkembang seperti apa? Di bilang berat, ya, banyak yang…