Skip to main content

Posts

Skincare Vegan Lokal untuk Remaja

Di umur segini sering banget disangka anak SMA, kuliah, bahkan dikira anak SMP. Yaaa, sebenarnya bingung mau sedih atau senang. Senang ya karena wajah awet muda, sedih, dikira anak kecil terus jadi belum dewasa lol. Selain karena postur tubuh yang kecil, berat badan yang tidak naik membuat seolah-olah umur juga tidak bertambah hehe. Dan mau tahu rahasianya agar wajah tetap awet muda? Apalagi buat kamu remaja yang baru memasuki masa puber, dulu sih belum ada hype skincare, saya enggak pakai apa-apa kecuali deodoran. Alhasil ya muka mah biasa aja, dibilang glowing enggak, tapi ya gak kotor juga, kenapa aman-aman aja ya? Nah, sekarang kondisinya sudah berbeda, air sudah sulit, polusi udara apalagi, jadi penitng banget kita mulai peduli pada kulit kita sendiri. Selagi bisa mengantisipasi, mengapa tidak? Karena jujur saya pakai sunscreen saja ketika sudah mulai bekerja, pantesan milia ku semakin banyak hiks akibat proteksi yang kurang. Daripada salah beli, atau beli karena keracunan review

Makin Lengkap Skincare-an dengan Scarlett

Halo halo! Enggak kerasa banget ya sudah masuk bulan Agustus, artinya beberapa bulan lagi 2021 ini akan habis dan berganti dengan tahun 2022. Jadi, gimana rencana tahun ini? Wes kelar? Atau, wassalam? Haha. Sebenarnya kondiisi  dunia akibat covid yang belum mereda dan malah membawa varian baru, yaitu Delta jujur bikin makin parno kalau ke mana-mana. Pakai masker 2 lapis. Bahkan kalau emang enggak urgent, enggak usah deh ke mana-mana. Bosan, sudah tentu? Sedih? Iya, apalagi banyak keluarga kami yang berpulang akibat covid ini. I know, we're strong. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan umur yang berkah ya! Kehilangan di masa pandemi, sudah tertuang di tulisan ini:  Kehilangan di Masa Pandemi Sebenarnya tidak hanya tentang kehilangan, rasa bosan, muak dengan keadaan juga berulang kali tampil pada diri ini. Target di kantor tetap berjalan, tapi rasanya kita bergerak di rumah saja, antar ruangan. Hal itu yang membuat saya merasa, lelah, bahkan ingin cuti, tapi belum tahu kapan, kar

Me Time di Masa PPKM, Pakai Scarlett Whitening Aja!

Situasi pandemi kali ini sudah bukan PSBB lagi, tapi PPKM darurat , lonjakan covid makin naik tiap harinya. Kantor non-esensialpun harus di WFH -kan. Termasuklah perusahaan di mana saya bekerja. Di balik WFH yang bikin mobilitas berkurang, pertama yang harus kita lakukan adalah bersyukur dulu nih di masa begini kita masih diberikan rezeki pekerjaan, kesehatan. karena banyak banget orang diluar sana yang pergerakannya di batasi, enggak boleh jualan, padahal dia harus ke luar rumah untuk cari makan anak istrinya. Kondisi covid begini, enggak jarang bikin pikiran burnt out, rasanya media sosial tiap hari mempertontonkan fakta tentang covid, tingkat kematian. Dan sedikit banyaknya pasti berefek ke mental orang lain, contohnya ke diri saya sendiri. Banyak sekali kabar duka yang hadir di media sosial, bahkan dari keluarga saya sendiri. Tuntutan pekerjaan dan keadaan yang semakin memburuk bikin fisik dan mental terganggu, rasanya pengen teriak, sudahi semua ini! Tapi apalah kita, bahkan peme

Kehilangan di Masa Pandemi

Semua yang bernyawa pasti akan mati. Kata-kata yang sering kali terlontar jika ada sanak kerabat yang berpulang. Lalu bagaimana rasanya? Selama 25 tahun, saya belum pernah merasakan kehilangan yang berarti. Yang meninggal itu bukan orang terdekat, jadi rasanya? Biasa saja, sedih, esok hari hidup berjalan lagi, bahkan saya hampir lupa. Tapi ditinggalkan oleh orang terdekat di masa pandemi membuat saya kembali berpikir dan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah pada saya. Sebagai bahan introspeksi diri juga, kalau saya yang dulu bukanlah yang sekarang. 2,5 tahun yang lalu saat memutuskan kembali ke rumah karena ingin melanjutkan studi menjadi awal terungkapnya penyakit yang diderita ibu saya. It's means adik kandung mamak. Saya juga sempat bercerita tentang perjuangan dan mohon doa dari teman-teman semua. Kanker, kata dokter. Bermula dari operasi mium, dan tidak tuntas, tidak dilakukan pengecekan dan pengkontrolan kembali. Sehingga apabila sudah ganas, dia kembali muncul, bahkan menj

Prioritas atau Dihargai, Pilih Mana?

Sebenarnya yang kita butuhkan itu apa? Rasa diprioritaskan atau sekadar rasa dihargai? Beberapa waktu yang lalu, saya all the time chit-chat about life dengan teman saya. She cares so much . Kalau ada apa-apa, dia respon, tetapi ya gitu, terkadang sehari, dua hari setelahnya. Awalnya saya senang, saya masih berasa diprioritaskan diantara kegiatannya sehari-hari. Dia masih mau meluangkan waktunya menghadapi saya yang mungkin kisahnya tidak begitu berfaedah sebenarnya 🤣 tetapi semakin ke sini, tidak jarang jika dia sedang sibuk atau tidak sibuk, sama sekali tidak membalas pesan saya. Kok bisa? Lalu tahun berganti. Saya sibuk, dia sibuk. Saya termasuk orang yang tidak begitu terlihat memprioritaskan seseorang kecuali keluarga dan pekerjaan. Sehingga jika ada hal urgent, saya balas, tetapi hanya sekadar menghargai keberadaannya. Saya menganggap, saya temannya, dia teman saya, dan kita berteman, tidak ada kata mantan teman. Saya menanggapi chatnya tapi ya seperlunya. Ketika balasann

5 Tips Sehat selama Puasa

Welcome Mei! Setelah melalui beberapa minggu puasa, dan mau finish nih, sudah bagaimana keadaannya? Istirahat cukupkah? Kerjaan aman? Hehe. Apalagi di musim hujan begini, rentan sekali kena hujan dan jadinya flu serta kepala pusing. Belum lagi kalau mau ke rumah sakit takut di suruh swab kita mah ya,  terus dikatain positif huhu banyak-banyak vitamin aja deh kalau sudah begitu. Tips olahraga yang membuat sehat? Gampang-gampang susah nih. Soalnya saya pribadi yang masih belajar bagaimana cara hidup sehat. Maklum tiap tahun ada aja sakitnya wkwkwk tapi ya Alhamdulillah aja, karena kan tiap sakit dosa yang sudah ada akan melebur menjadi pahala. Insha Allah. Ini hanyalah tips sehat nan mudah yang bisa dilakukan sehari-hari dan menunjang psikis. Untuk kesehatan fisik, mampir ke sini yuk! Hal Sederhana yang Bikin Bahagia Oke, pertama ! Jauhi stress! Stress ini emang berdampak banget sama kesehatan. Baru pas pagi kepikiran satu hal, eh malemnya udah muncul kemungkinan-kemungkinan lain

Momen Berkesan ketika Lebaran

Apa sih yang kalian ingat ketika berlebaran? THR? Makan ketupat, lontong, rendang, lemang? Berkumpulnya sanak famili dari banyak kota? Tidur rame-rame di ruang keluarga hingga menjelang Shubuh. Curhat sama yang gadis-gadis, mulai dari ngbahas kuliah, kerjaan, pacar, sampai ke calon suami. Yaaa gimana ya, belum ada yang menikah diantara cucu perempuan nenek, jadi pembicaraan tidak akan jauh dari pembahasan itu semua.  Lalu apa momen berkesan bagi saya? Ketika hari Eid nya, di momen ketika seluruh keluarga berbaris untuk bermaaf-maafan. Sebagai cucu tertua, rasanya tanggung jawab keluarga ini sedikit besar ada di pundak saya. Apalagi sebagai cucu pertama dari anak pertama. Berat, iya sepertinya. Semua mencontoh apa yang saya lakukan, jadi saya teliti betul akan hal-hal yang saya lakukan. Takut tiba-tiba ada yang mengikuti jejak kalau saya pacaran. Takut ada yang telminya menurun dari saya. Hal-hal yang sangat saya hindari sebagai seorang visioner dan perfeksionis. Walau ada juga hal-hal