Diam itu Sunnah

Selama hijrah ke ibukota, banyak hal yang membuat saya lebih memahami sisi dalam hidup. Dan semua diawali dari hal kecil nan sederhana. Kita hidup diantara orang-orang yang berlomba-lomba demi kehidupan dunia, tapi lupa kalau dunia ini hanyalah permainan saja, kehidupan sesungguhnya berada di akhirat nanti. Kita lupa kalau kita hidup hanya sebentar, bahkan kita lebih mementingkan istilah YOLO (you only love once) daripada hadist nabi, bahwa hiduplah untuk akhirat seolah-olah engkau akan mati besok.



Terlalu banyak hal yang terbesit dalam pikiran saya dan perlahan-lahan harus diubah dalam menyikapinya. Salah satunya dalam hal Sunnah ini. Saya tidak akan membahas tentang sunnahnya. Tetapi satu hal sepele yang membuat kita akan mendapatkan pahala jika melakukannya.

Mencela atau mengejek makanan, bagaimana? 

Seringkah kita berbuat demikian? Hal kecil tapi berdampak besar. Kita hidup di zaman serba canggih. Kemajuan teknologi membuat sekali scroll, klik, makanan datang ke tempat tujuan. Namun rasanya? Kita hanya dapat berspekulasi sebelum makanan itu tiba di mulut kita. Kita hanya mengganggap, “ah, rasanya tentu enak, ukurannya besar, warnanya menarik”. That’s the point.
Memang tidak semua patut dijudge sedari melihat covernya saja. Tapi coba, ketika kita ingin membeli makanan tersebut, ingat niat kita membeli makanan tersebut apa? Agar kita tidak lapar, sang penjual laku barang dagangannya, dan abang ojek juga diberikan limpahan rezeki dari orderan kita. Tapi kita dengan lantangnya mengatakan, “Ah apaan nih!” “Kok rasanya gini?” “Gue udah beli mahal-mahal kok kecil banget?” “Tau gitu tadi beli di toko yang lain”.
Terlalu banyak komplen yang diterima sang makanan tersebut sehingga dosa kitapun bertambah akibat mencelanya. Astaghfirullah. Oleh sebab itu, maka alangkah baiknya jika kita diam. Atau memang begitukah watak kita sebagai manusia? 
Mungkin ada beberapa hal yang membuat makanan itu begitu, sudah terlalu lama dijalan, sehingga tidak hangat lagi, atau dsb. Banyak hal yang patut kita syukuri sebenarnya. Bagaimana kalau tidak ada ojek yang mengambil orderan kita? Tentu akhirnya kita tidak makan bukan?
Satu hal sederhana yang membuat kita hendaknya tergubris. Di luar sana masih banyak orang yang bahkan bisa makan saja syukur Alhamdulillah, eh kita malah menyia-nyiakan bahkan menghardik makanan. Setega itukah kita pada mereka? Pada orang yang mungkin sudah meninggalkan anaknya yang sedang sakit demi sesuap nasi menjual makanan tersebut? Ya Allah, maafkan kami…
Pelajaran pentingnya ialah jika makanan tersebut kurang berkenan dihati kita, maka hendaklah kita diam dan tidak mencelanya apalagi menyebarluaskannya kepada khalayak ramai. Kecuali makanan tersebut memang mengandung hal yang tidak baik atau memberikan mudhorot. Setelah sadar makanan tersebut tidak cocok di lidah kita, hendaklah kita tetap memakannya atau membeli makanan lain tanpa membuang begitu saja makanan yang kurang enak tadi.
Masha Allah. Semoga bermanfaat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengen Liburan Bebas Cemas? Tokio Marine Aja!

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?