Jarak

Jarak adalah segalanya. Sepanjang apapun kau berjalan, jarak adalah hal yang harus kau tempuh. Bukan benci akan jarak. Hanya saja sekadar tidak terlalu suka dengan kata itu. Entah apa salahnya. Entah mengapa rasa tak bisa jauh itu selalu datang. Masih kunjung takut untuk memulai hubungan kembali. Dia yang dulu selalu ada disaat goyah, yang selalu hadir dikala gundah. Tiba-tiba menghilang dengan alasan yang tak jelas. 

Awalnya saling menguatkan, jarak bukan apa-apa. Kita bisa melalui bersama. Hanya diperlukan sebuah pesawat untuk mengantarkanku kepadamu, tak harus berpuluh-puluh jam, bukan? Hal-hal sederhana yang membuat yakin itu semakin banyak. Tak terhitung banyaknya. Tapi yang membuat aku kembali jatuh dengan jarak juga banyak. Ah entahlah.
Setahun. Kita masih sendiri, menjalani hidup kita masing-masing. Saling menjauh dan bahkan tidak bertegur sapa. Meskipun terbilang cukup dekat pertemanan di kelas itu. Bukan, bukan rasa yang masih (ada). Hanya ingin menjaga jarak. Biarkan saja yang lain menganggap kita layaknya saling bermusuhan. Daripada aku terjatuh kembali ke lubang yang sama? 
Rindu. Lima huruf itu hadir kembali. Semenjak hubungan yang dirajut berbulan-bulan itu membuat kebiasaan. Dan di semester baru ini, kau malah ke surgaku, ke tempat aku hidup. Kau muncul dengan sekonyong-konyongnya tak bersalah. Berapapun biayanya kau pergi. Entah untuk menemuiku atau bukan. Aku membencimu saat itu. Otakku menghapus anggapan jarak kemarin. Ia sekarang suka dengan jarak. Entah mengapa. Hatiku menolak, sangat. 
Jarak itu sudah dapat dihitung sekarang. Tak perlu memburu tiket untuk bertemu, sudah ada jalan raya yang tersedia disana. Bahkan hingga umurku berkurang, kau mengucapkannya dan tetap seperti biasa, semua biasa saja, hanya teman kita saja yang menghebohkannya. Berbeda dengan ulang tahunmu yang lebih menarik, entah sama siapa.
Bahkan dikala jarak sudah tak berarti kau datang kembali memberi harapan. Entah harapan untuk yang lebih baik atau harapan yang hanya disampaikan tersirat saja. Apapun itu aku membencimu. Hanya saja lidah ini tak sanggup berkata, ia hanya bisa merasakan apa yang hati rasakan, dan menyuruh otak dan tanganku untuk menuliskannya pada tulisan ini. 
Apa yang membuatmu begitu? Tidakkah kau inginkan hal yang lebih baik? Bukan tak senang akan tindakanmu. Sekota denganmu kembali sudah cukup meremukkan hatiku kembali. Cukuplah yang kemarin itu saja, tak perlu kita saling kenang. Tak perlu bertemu, apalagi bertegur sapa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?

Anak itu Titipan