Lika-liku Kereta



Sejak memutuskan untuk hijrah ke ibukota, mau tidak mau saya harus menerima segala konsekuensi yang akan muncul. Mulai dari udara yang sudah tidak segar dan sejuk, lingkungan individualis, biaya hidup mahal, social life juga begitu tinggi, hingga moda transportasi massal yang sengaja diciptakan demi menghindari kemacetan di wilayah ibukota. 
Semua proses itu akan saya alami sendiri selama berada di ibukota. Kali ini saya hanya bercerita sedikit tentang suka dan duka ketika saya menaiki kereta, mau itu KRL jabodetabek sampai kepada kereta argo parahyangan yang super nyaman.

Oke saya akan menceritakan tentang krl. Pertama kali ketika naik kereta cepat ini saya cukup dikejutkan dengan kenyataan bahwa kaum ibu-ibu atau perempuan lebih ganas jika naik krl ini. Mengapa? Selain karena sifat egoisnya yang melebihi makhluk lain, ibu-ibu ini terkadang sangat memaksakan keadaan. Walaupun tidak menutup kemungkinan kaum adam juga suka maksa kalo udah pintu mau ditutup. Mereka akan memaksakan diri mereka untuk masuk ke krl.
Mengapa? Waktu adalah uang, saya ingin cepat pulang, saya akan menghabiskan beberapa menit saya lagi untuk menunggu, untuk apa? Lebih saya desak saja, toh masih muat. Itu mungkin beberapa alasan mengapa seseorang rela mendorong terus-terusan. Padahal dia tidak tau orang di dalam krl sudah berebut oksigen, kegencet, mau pingsan, dia seenak jidat masuk dengan mendorong orang. 
Pembahasan ini sangat sensitif memang, bisa saja dia ingin cepat pulang karena suami, istri, anaknya sakit, atau bahkan meninggal, who’s know? Iya memang. Tapi terkadang perasaan kita tinggalkan demi sebuah logika. Memaksa memang… Tapi toh semuanya juga mau cepat, siapa yang mau santai dan membuang2 waktunya di stasiun?
Kedua, perempuan memang lebih egois. Iya akan rela tidur sementara ada ibu hamil yang lebih membutuhkan tempat duduk. Hal ini sangat sering saya temukan. Hendak menegur sudah malas, rasanya individualisme ini mulai tumbuh dan berkembang. Kesadaran dari diri sendiri memang sangatlah penting. Menunggu orang lain untuk peka sangatlah lama, sulit. 
Satu hal yang sangat saya tidak suka ialah ketika seorang gadis duduk di tempat duduk, main handphone, buka tutup medsos, atau nonton drama korea, sedangkan di depannya ada nenek tua renta. Hal yang sebenarnya bisa kita lakukan di sela-sela waktu kita bukan?

Hal-hal kecil seperti inilah yang akan berkembang secara terus menerus menumbuhkan mental-mental tak tahu diri, tak berperasaan, tidak peka.
banyak-banyak istighfar dah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?

Anak itu Titipan