Nikah Syar'i?

Nikah Syar'i? yay or nay?

it's not 

"I need to get married, I have to find someone"
but try,
"I have found someone, I wanna marry him."

sebenarnya ini lebih ke hasil kajian yang saya ikutin hari kamis lalu. kenapa ikut ini? alasannya klasik sih, ingin berubah ke arah yang lebih baik. itu doang? yashhhh. semakin ke sini saya perhatikan semua orang semakin konsumtif, semakin pintar tapi semakin senang makan fast food. semakin banyak uang, tentu semakin banyak uang yang dihabiskan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan. kenapa begitu? mari kita bahas satu-per satu.

sama seperti hukum ekonomi. semakin banyak barang permintaan semakin sedekit, begitu pula sebaliknya. semakin banyak uang yang kita punya, semakin sering juga kita memfoya-foyakan uang yang kita punya. jadi, tidak jauh berbeda ketika seseorang punya harta, penampilan oke, dikenal banyak orang, kenapa tidak bermewah-mewahan? toh, nikah untuk seumur hidup, kan? begitu mungkin pemikiran beberapa orang.

saya tidak membenarkan dan tidak menyalahkan orang yang menghabiskan uangnya demi melangsungkan pernikahan. toh itu uang dia, apa urusan saya? tapi sebaiknya, kita gunakanlah harta yang kita punya untuk sebaik-baiknya. lagi pula, masih banyak yang lebih membutuhkan bukan? nikah memang sekadar mengucapkan ijab kabul saja, tidak perlu mewah-mewahan kan?

sebelum membahas bagaimana nikah syar'i itu bagaimana, mari kita persiapkan pra-nikah yang terkadang suka salah di kehidupan masyarakat. apa itu?

pertama, kita harus memantaskan diri terlebih dahulu. berdoa kepada Allah agar diberikan seseorang yang benar-benar sekufu dengan kita. fokuskan diri hanya beribadah kepada Allah. ketahuilah kita nikah juga semata-mata karena mengharapkan ridho dari Allah. sejatinya, ibadah terlama dalam hidup adalah membangun rumah tangga atau menikah. ketika puasa hanya diberikan satu bulan penuh, menikah adalah hal yang benar-benar harus dipersiapkan secara matang, tidak hanya membutuhkan kemampuan finansial, dan kesiapan mental.
nah, pertanyaannya bagaimana cara kita memantaskan diri di hadapan Allah? banyak caranya, berikut ini saya kutip dari HijabAlila yaa:
1. belajar pada syariat islam. jika kita memang sudah melakukan segala sesuatu demi Allah, maka insha Allah kita juga menikah karena Allah ta'ala. jika kita sudah melaksanakan ini, biasanya kita sudah punya visi dan misi untuk menikah. nah biasanya kesamaan dalam visi tersebutlah yang akan mempertemukan kita dengan sang pujaan hati.
2. pelajari cara berumah tangga rasul dan sahabat. selain menggunakan firman Allah sebagai acuan dalam berumah tangga, hendaknya kita juga berkaca pada kehidupan rumah tangga ala rasul dan sahabat.
3. latihan mengambil peran ibu dirumah. nah, untuk anak-anak tertua ini biasa dilakukan ya sepertinya, tapi kamu sudah ikhlas belum menjaga adikmu? ehe
4. sering-sering bantu mengasuh anak. banyak hal lainnya yang perlu dipersiapkan, cuma cobalah dengan hal kecil misalnya: latih diri untuk menyukai anak-anak, ya kebayang kalo nikah tapi nggak suka sama anak-anak gimana ceritanya ehe



bukan hanya penghasilan, tetapi PERTANGGUNGJAWABANbukan hanya rumah, tetapi IBADAHbukan kendaraan, tetapi KETAQWAANbukan jabatan, tetapi ILMU PERNIKAHAN


mengapa mengatur visi misi itu penting? banyak sekali manfaat jika sejak awal kita sudah melaksanakan visi-misi bersama, diantaranya:
1. sebagai bahan diskusi dan kesepakatan pada ta'aruf dengan calon
2. sebagai tujuan dan pengingat ke mana arah bahtera pernikahan dijalankan
3. menjaga kebersamaan keluarga agar tetap berkualitas sesuai syariat Islam,
dan jangan dilupakan bahwa menikah diniatkan untuk ibadah mengharapkan ridho Allah swt. agar ketika ada masalah dalam rumah tangga, kita mengembalikannya kepada Allah.

sama seperti kisah ayah dari Sholahuddin Al-Ayyubi, Najmuddin. ketika umurnya sudah siap untuk menikah, ia tidak mau dijodohkan dengan siapapun. hingga bingung dan menanyakan, lalu wanita seperti apa yang hendak kau nikahi?, lalu anaknya menjawab: "Wanita sholehah yang bisa menggenggam tanganku ke surga dan melahirkan anak yang jika dididik dengan baik akan menjadi kesatria yang mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin". sampai suatu hari ia pergi ke masjid dan bercerita kepada seorang syaikh di daerah Irak. tiba-tiba seorang gadis dari balik tirai memanggil syeikh tersebut dan berkata: "mengapa kamu menolak pemuda sebaik dia?" lalu perempuan itu menjawab apa? "aku ingin seorang pemuda sholeh yang bisa menggenggam tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi kesatria yg akn mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin'. menolehlah Najmudiin, dan syaikh juga tersenyum. visi misi itu dipertemukan di dalam masjid. dialah, Sholahuddin Al Ayyubi, anak Najmuddin, penakluk Baitul Maqdis.

sesimpel itu sebenarnya mencari jodoh. niatkan lagi dengan benar, mau ke mana arah pernikahan ini dibawa? pernikahan bukan lagi permasalahan dengan siapa akan menikah, tetapi apa tujuan dari menikah itu tersebut.
kita terlalu sibuk mencari yang begini-begitu tapi lupa memperbaiki diri sendiri huhuhu kembalikan lagi ke Annur:26, yang artinya: "Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik. dan wanita yang baik tentu untuk laki-laki yang baik". 

nah, persiapan untuk nikah syar'i apa saja?
pertama, dekatkan diri kepada Allah. segala sesuatunya sudah diatur oleh Allah. 
kedua, diskusi dan musyawarahkan keinginan kita untuk nikah syar'i, keimanan perlu dibahas.
ketiga, sabar. karena segala daya upaya yang kita lakukan semua kembali lagi kepada Allah.

masuk ke nikah syar'i itu bagaimana?
hal yang saya dapatkan selama kajian ialah:

  1. tamu undangan dipisah antara ikhwan dan akhwat
  2. semua tamu diberikan kesempatan untuk duduk, tidak ada cerita standing party ya...
  3. tidak ada pelemparan bucket bunga ala-ala
  4. tidak ada prewedd, bridal shower, dan semacamnya
  5. bisa jadi di beberapa bagian akan ada biaya membengkak, seperti menambah kursi, tapi toh demi mencapai ridho Allah
  6. omongan kondangan mah jgn dibawa hati ya tsaaaay
  7. tidak berlebihan dalam berhias: tidak memakai bulu mata palsu, mencukur alis, menyambung rambut, usahakan gunakan pakaian yang menutup dada yaaa

untuk nikah syar'i emang nggak semudah keliatannya ya dear, perlu usaha keras dari diri sendiri bersama pasangan untuk menyatukan persepsi antara kedua keluarga. jadi, masih mau nikah secara syar'i kan? barakallah for us.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengen Liburan Bebas Cemas? Tokio Marine Aja!

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?