#ElsaReview Matahari Tere Liye


Judul : Matahari
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia 
Tahun Terbit : 2016 
Kota Terbit : Jakarta
Tebal Buku : 400 hlm; 20 cm
Harga : Rp. 82.000 (http://tbodelisa.blogspot.com/)
Jenis Buku : Fiksi

Tere Liye, seorang penulis berbakat yang dengan karya-karyanya, saya semakin semangat membaca buku lokal. Diawali dengan membaca Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, saya mulai menyukai satu demi satu tiap kata yang dirangkai di dalam novel-novel Tere Liye. Pulang, Ayahku Bukan Pembohong, Sunset Bersama Rosie, Sepotong Hati yang Baru. Bukan memuji, gaya bahasanya berbeda dengan novel lainnya. Bagaimana caranya menuangkan perasaan yang berlebihan tetapi dalam balutan kata yang tidak terkesan lebay. Saya semakin suka ketika nama saya digunakan di novel Rindu, walaupun sudah banyak yang menggunakan nama itu hahahaha! Dan, novel hujan yang saya pikir ceritanya begitu menguras perasaan, tetapi disampaikan dengan gaya yang berbeda.

“Lapisan – lapisan bumi secara sederhana dibagi menjadi tiga. Paling atas disebut dengan lithosphere atau crust ….” , “Lapisan kedua disebut mantle….” , “Lapisan ketiga atau terakhir disebut inti bumi, yang dibagi menjadi dua, outer core dan inti core. …” (hal. 124 – 125)“Kebanyakan ular merasakan getaran udara melalui organ yang disebut membran typhani. Ular akan mendeteksi segala sesuatu yang ada di sekitarnya dengan menggunakan lidahnya yang bercabang. Itulah sebabnya mengapa ular sering menjulurkan lidah.“ (hal. 142)

Tapi sejak dia mengetahui ada yang aneh pada diriku dan Seli, teman sekelasnya, hidupnya yang membosankan berubah seru. Aku bisa menghilang, dan Seli bisa mengeluarkan petir.
Ali sendiri punya rahasia kecil. Dia bisa berubah menjadi beruang raksasa. Kami bertiga kemudian bertualang ke tempat-tempat menakjubkan.
Namanya Ali. Dia tahu sejak dulu dunia ini tidak sesederhana yang dilihat orang. Dan di atas segalanya, dia akhirnya tahu persahabatan adalah hal yang paling utama.


Tere Liye menuangkan pikirannya dengan ilmu pengetahuan baru yang membuat saya dan pembaca lainnya tidak sekadar menikmati alur cerita, tetapi juga memperoleh pengetahuan baru seperti sejarah ataupun geografi dan lain sebagainya dengan tidak perlu berlama-lama membaca buku tersebut seperti kebanyakan. Seperti:

Teruslah berkarya. Buktikan kalau penulis lokal juga mampu memiliki paradigma baru mengenai kepenulisan, bagaimana liarnya otak ini berfikir secara alamiah. I’m proud of your style, Mas Tere Liye! 



Sinopsis Buku:
Namanya Ali, 15 tahun, kelas X. Jika saja orangtuanya mengizinkan, seharusnya dia sudah duduk di tingkat akhir ilmu fisika program doktor di universitas ternama. Ali tidak menyukai sekolahnya, guru-gurunya, teman-teman sekelasnya. Semua membosankan baginya.
Matahari, sudah saya duga dari awal ketika membaca Bumi, pasti ada empat fase didalamnya. Novel ini menceritakan bagaimana petualangan Raib, Seli dan Ali. Tiga orang dengan kemampuan dan sifat yang berbeda dan tak ayalnya menjalin sebuah persahabatan. Masih bertema seperti novel sebelumnya, bagaimana perjuangan ketiga orang sahabat melawan berbagai rintangan demi sebuah rasa penasaran. Hanya saja pada novel matahari, ketiganya berpetualang ke Klan Bintang.
Sebuah klan yang berada jauh di permukaan bumi, bahkan tidak ada yang tahu keberadaan klan tersebut. 
Berawal dari Ali, dengan rasa keingintahuan yang begitu tinggi dan setelah berhasil melalui Klan Bulan dan Matahari, ia semakin berambisi untuk mengadakan perjalanan ke Klan Bintang. Awalnya Raib dan Seli ragu, tidak mau dipaksa bagaimanapun untuk berpetualang ke Klan manapun. Namun itulah Ali, si beruang antar-klan yang mempunyai kecerdasan luar biasa.
Hanya dengan sebuah tabung yang berisi soft copy buku-buku di perpustakaan milik Av, Ali rela tidak sekolah demi bereksperimen di basementnya. Ia begitu tertarik dengan kecanggihan teknologi di sana. Sampai akhirnya ia berhasil menciptakan sebuah kapsul perak yang bernamakan Ily (diceritakan di novel BULAN). Hal tersebut sebagai bukti bangganya kepada apa yang sudah dilakukan Ily kepada Ali dan teman-temannya dahulu ketika berkunjung ke Klan Matahari. Kapsul tersebut perpaduan antara Klan Bulan dengan Klan Matahari. Bahkan diciptakan untuk dapat menghilang serta  mengeluarkan petir.
Sampai akhirnya Ali berhasil mengetahui keberadaan Klan Bintang dari kapsul berisi soft copy yang diberikan Av kepadanya. Setelah melalui perdebatan panjang, kompromi dengan orang tua Seli, dan kejujuran Raib akan statusnya di keluarga, akhirnya mereka bertiga mengunjungi Klan Bintang tersebut. Tak lupa membawa Buku Kehidupan Raib, sebagai pertolongan jika mereka tidak dapat kembali.
Jam demi jam dilalui, Ali hafal betul dimana letak Klan Bintang, walau di penghujung menuju portal yang terakhir, mereka merasa kebingungan dan kapsul Ily tidak dapat mengetahui informasi sampai kepada hal yang begitu detail. Tapi bukan Ali namanya kalau tidak banyak akal, setelah  menghadapi ular dan kelelawar raksasa, akhirnya mereka sampai juga di Klan Bintang.
Hanya saja, keberadaan mereka dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, karena sebelumnya tidak pernah ada seorangpun mengunjungi Klan Bintang, apalagi anak-anak seperti mereka.
Hari demi hari terlewati sampai mereka bertemu dengan Faar, orang tua baik hati yang juga mewarisi dua klan sekaligus. Selanjutnya Meer ahli desain dan rancang bangun yang membuat Kota Zaramaraz menjadi kota terhebat sejagat raya, namun pada akhirnya meninggalkan kota tersebut karena ketidaksukaannya terhadap rencana Sekretaris Dewan Kota.
Selanjutnya, Faar seorang Kepala Koki Restoran Terkenal, Lezalel di Kota Zaramaraz. Ia juga merupakan keturunan Klan yang diceritakan akan membantu bagaimana perjalanan kunjungan Raib, Seli, dan Ali.
Dikarenakan sebagai ancaman bagi kota, keberadaan mereka terus diawasi, hingga akhirnya hilanglah Buku Kehidupan Raib, sontak mereka tidak bisa diam, karena mereka tidak akan bisa pulang ke Klan permukaan jika buku itu hilang. Usaha demi usaha mereka lakukan, hingga kemampuan dari masing-masingnya habis. Kaar dan Faar malah diculik, begitu pula mereka. Namun berada pada sel yang berbeda. Ironisnya Seli justru diisolasi diruangan yang tangannya dilapisi gips, agar kemampuan petir ditangannya tidak dapat digunakan.
Perjuangan yang mereka lalui sangatlah berat, hingga Ali berubah lagi menjadi beruang tetapi dengan peningkatan kemampuan yang sangat derastis, ia mampu menghilang bahkan mengeluarkan petir. Ia mampu memiliki kemampuan antar-klan. Sungguh cerdas anak itu. Sampai akhirnya mereka mampu keluar dari penjara, dan langsung meminta ke Buku Kehidupan untuk pergi ke Perpustakaan Sentral Klan Bulan.
Penggunaan sudut pandang maju-mundur mengingatkan bahwa ketika membaca kita tetap harus mengingat bagaimana jalan cerita di novel sebelumnya, untuk memperlancar pemahaman kita mengenai cerita selanjutnya.
“Hidup ini adalah petualangan, Ali. Semua orang memiliki petualangannya masing-masing, maka jadilah seorang petualang yang melakukan hal terbaik.” (hal. 362)

Ada bagian yang mudah ditebak, diantaranya pin yang diberikan ibu Raib tentu ada hubungannya dengan pertarungan yang akan mereka lewati di Klan Bintang. Dan ada bagian bab yang saya rasa membosankan, Tere Liye terlalu bersemangat membahas perlawanan antara Dewan Kota dan ketiga anak-anak itu, sehingga pembaca merasa perlu membaca cepat ketika berada di bagian bab itu. But, so far so good. It’s enough to make my imagination being a liar. Ditunggu Bintang selanjutnya!

Novel ini layak dibaca untuk kalangan dengan umur berapapun, profesi apa, dan status yang bagaimanapun. Imajinasi kalian akan semakin diasah untuk menebak-nebak jalan cerita yang akan dilalui Raib, Seli dan Ali. Semoga dicerita yang menggantung ini, Bintang bisa memberikan cahaya yang lebih, dan menjadi berita yang menggembirakan untuk ending tetralogi sebuah novel.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengen Liburan Bebas Cemas? Tokio Marine Aja!

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?