Sebuah Renungan... Akan Keuangan...





Jauh sebelum mulai bekerja di ibu kota. Gw terbiasa dengan hidup apa adanya. Kadang nggak mikir berapa biaya yang harus ditabung, mikirnya yang penting gw ngsave dalam sebulan itu, bebas mau berapa. Dan setelah gw kerja, gw baru sadar kalau harus ada kewajiban yang harus ditabungkan. Alih-alih mau hemat tapi nabung aja susah mau jadi apa ke depannya? Masa minta ke orang tua terus? Kan malu ya. Hmmmm.

Ini bukan keharusan sih. Semacam good toxic aja buat orang-orang di luar sana yang pengen bales dendam karena perdana nih bisa beli apa aja yang pengen dibeli dengan uang sendiri, tapi nggak lupa dengan kewajiban yang ada.

Casenya gini [from jouska]:
PERTAMA, Sama-sama dapet gaji 15jt dan single. Di satu sisi harus ngasih ke ortu 3jt perbulan, nah sementara orang tua temen kagak. Ya bedalah ya tempat nongkrongnya. Nggak usah dipaksain deh demi eksis. Nggak usah dibanding-bandingin juga, gak akan ada beresnya.

Kita bayar uang kosan aja udah 2jt per bulan, udah hemat banget tuh. Pake AC, wifi, loundry, eh doi tinggal sama orang tuanya. Ya jelas doi harusnya bisa ngsave lebih banyak dong ya? Yaudah, kalau ada uangnya segitu, ya nggak heran kalau cara travellingnya beda. Doi keluar negeri, kita ke pulau seribu aja 200rb udah happy.

Bener sih ungkapan: your life, your rules. Tapi kenapa masih pusing sama apa kata society? Yang penting, kita jangan gitu yhaaaaa....
KEDUA, adik gw first jobber gaji 3,5jt, nyicil beli hape yang harganya 12jt hehe. Alasannya? Yaaa Cuma pengen punya hape keren. Coba deh cek hape sekarang, kalau harganya separuh gaji atau lebih, siap-siap bakal masuk ke jebakan middle class berikutnya. PASTI.
Kata temen, REALITIES ARE BITTER, DENIAL IS EASIER.

Solusinya gimana? Jangan ketinggian gaya deh. Boleh deh society kita tinggi, tapi yaaa nggak tiap hari nongkrong sama mereka juga. Masih banyak diluar sana yang butuh sama bantuan kita. Dan hidup juga nggak melulu tentang uang ya guys.

Solusi pertama, alokasikan 10-20% buat tabungan. Kalau bisa nih spesial rekening buat tabungan doang, jadi kamu nggak tertarik buat ngambilnya. Dan latihan buat disiplin juga. Kebayang udah jadi ibu rumah tangga enggak bisa ngatur keuangan wuhooooozzz.

Selanjutnya, kurangi pengeluaran ekstra tiap minggu. Simpel sih, misalnya tiap pulang dari kantor pasti jajan dimsum dulu di statiun, 15ribu sih, tapi kalau dikali 25 hari, di kali 12 bulan udah dapat berapa tuh? Hihiii sama kayak rokok, sebatang, sebungkus, lama-lamaaaaa, lo nya yang bankrut :”) kalau mau plus sih cari peluang buat dapet penghasilan tambahan. Misalnya masak yang kecil-kecilan lalu dijualin, penulis, dll.

Nah, buat solusi ini agak susah sih. Negosiasi buat dapat penghasilan yang lebih baik ke atasan adalah sebuah kewajiban yang akan menentukan standar gaji diri sendiri dan standar di perusahaan tempat kita bekerja. Dan jangan lupa, tiap gajian biar makin berkah ZAKAT ya guys! 2,5% aja kok.

Mulai menabung demi masa pensiun. Banyaknya gaji yang diperoleh sebenarnya jadi saving buat masa depan sih. Nah, seberapa tahankah uang yang kita kumpulin tadi? Tentunya perlu didiskusikan sama yang ahli ya.

Perlu nggak sih mengatur rencana keuangan? Jelas. Biar dalam sebulan bisa kedetect abis berapa aja, buat apa aja, dsb. Pada akhirnya jangan sampai uang bikin kita gila harta, gila semuanya, sampai-sampai kerja dilemburin terus biar banyak uang. Sementara buat istirahat aja udah nggak ada waktu yang tersisa.

Gw nemu ini dari story kakak tingkat gw waktu kuliah, begini kira-kira:
Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita meninggalkan perbuatan baik?
Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita lelah hingga tidak ada tenaga tersisa untuk ibadah?
Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita melupakan orang tua kita?
Seberapa sering pekerjaan kita, mengambil waktu kita untuk berbakti kepada orang tua?
Seberapa sering pekerjaan kita, menghalangi kita berkumpul dengan orang-orang yang baik?
Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita melupakan hal yang sesungguhnya lebih penting?
Hati-hati, perhatikan kembali pekerjaan kita. Jika pekerjaan kita membuat kita jauh dari Tuhan. Maka hati-hati mungkin bisa jadi itu bukan pekerjaan, tetapi perangkat syeitan. Dan kita sedang tenggelam di dalamnya.

Semoga tidak.

#TOBATMASSALMILENIAL

Komentar

  1. Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita meninggalkan perbuatan baik?
    Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita lelah hingga tidak ada tenaga tersisa untuk ibadah?
    Seberapa sering pekerjaan kita, membuat kita melupakan orang tua kita?
    Seberapa sering pekerjaan kita, mengambil waktu kita untuk berbakti kepada orang tua?

    4 pertanyaan yang biasanya dijawab sama generasi millenial dengan hahahehe...dan kalau pun kita ngejawab nanti dibilang.....

    "sok ini lah"
    "sok itu lah"

    Mau gimana coba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada baiknya sebelum kerja di cek dulu bibit, bobot, bebet kantornya ya hehehehe jangan sampai di akhir baru nyesel, kenapa dulu aku milih di kantor begini begitu huhuhu

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengen Liburan Bebas Cemas? Tokio Marine Aja!

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?