Pola Asuh Orangtua, Pentingkah?

Pola asuh orang tua itu 70% berpengaruh terhadap kehidupan sang anak. Lingkungannyalah yang mempengaruhi bagaimana pola pikirnya selanjutnya. Saya dilahirkan dari keluarga disiplin yang bisa dibilang kalau dirumah itu tontonan kita hanya berita, ilmu pengetahuan, atau talkshow ringan. Tidak pernah saya disajikan akun gosip, atau acara unfaedah dengan pembawa acara yang masha Allah sangat tidak sopan maaf pakaiannya. Mungkin itu juga yang membuat saya merasa risih ketika berkunjung ke rumah orang lain tetapi sama sekali tidak tertarik dengan tayangan yang mereka tonton. Apalagi jika sinetron, ndak pernah emak saya nonton begituan sampai berepisode. Jadi, bingung kenapa ya orang-orang suka pada nonton sinetron? Kalau drakor ya beda ya wkwkwk ngeles.

Pola asuh emang bikin anak punya pola pikir sendiri. Mungkin karena kehidupan saya tidak dicekokin dengan hal tadi, pola pikir saya begini. Alhamdulillah enggak julid, tapi cenderung lebih tertutup dan mengganggap semua orang baik. Padahal mah bisa aja ditikung dari kanan kiri atas bawah.

Karena secara enggak sengaja, kalau orang tua suka nonton sinetron, mau enggak mau anak juga nonton kan? Nah, pola pikirnya akan sama dengan sinetron itu. Dan biasanya ada perasaan butuh pas enggak bisa nonton sinetron. Padahal masih SD loh, tapi kenapa gitu ya? Apakah tayangan kita yang tidak mendidik? Atau memang orang tua yang enggak sadar akan tingkah mereka yang membentuk pola pikir anak menjadi seperti itu?

Kadang suka heran, banyak orang berbondong-bondong ke KPI protes tayangan ini itu. Coba, keterangan di TV yang ada simbol REMAJA, SEMUA UMUR, itu diliat enggak sih? Acara remaja aja anak-anak sering nonton kok. KPI itu udah ngasih preventif. Tapi eksekusi dari rumah masing-masinglah yang kurang. Kalau perlu tidak usah punya TV, tidak masalahkan?

Duhai orang tua didiklah anak kalian sesuai masanya.
Jangan disamakan masa kalian dan anak kalian sekarang.
Pola pikir anak itu dibentuk dirumah, bukan di sekolah.
Semoga perjuangan orang tua tidak pernah sia-sia.
Untuk anak-anak, tolonglah, jangan cepat menjadi dewasa.




terkadang kita mau enaknya saja
tidak tau perjuangan orang lain
sampai saban waktu kita santai saja
padahal orang tua banting tulang demi makan

hidup kita sudah enak, makin dibikin enak
orang tua tidak bisa berkata tidak
akibatnya anak tidak berakhlak
lontaran kata demi kata lalu jadi menyenggak

bukan tak tahu diri, tau tapi begitu
terlalu sering dimanjakan jadinya belagu
walau hati berat ingin mengutuk jadi batu
tapi apa hendak dibuat, tingkahnya membuat kelabu

sampai suatu saat keranda itu berjalan datang
dia baru sadar hidupnya selama ini ada dimana
yang dia tak tau bahwa seseorang sudah berpulang
kadang kita lupa bersyukur sampai kehilangan makna

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?

Anak itu Titipan