#ElsaReview Pulang Tere Liye

finally setelah melewati ujian terbesar di Indonesia, kali ini mencoba mengumpulkan niat lagii untuk menulis. masih sama seperti sebelumnya, Tere Liye masih termasuk penulis favorit yang kisahnya selalu ngena di hati saya. mengapa? karena beliau selalu membahas kisah di rumah, perkampungan, sekolah, hidup yang seperti nyata adanya. dan tentang kepulangan, selalu ada part yang menyenangkan, tetapi sekaligus menyedihkan. novel ini saya baca ketika masih merantau di kota orang, jadiii kebayang ngga tuh kerasanya sendirian di kota orang hmm. baiklah, bismillah kita mulai resensinya ya.





judul : pulang
penulis : tere liye
jumlah halaman : 400 hal
penerbit : republika
tahun terbit : 2016


SINOPSIS
“Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.”Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Novel ini berkisahkan tentang seorang anak, yang dipaksa merantau oleh bapaknya, akibat janji bapaknya kepada bosnya di masa lalu. berat memang, apalagi melepaskan anak laki-laki satu-satunya. seberat apapun itu, mungkin kita akan merasakan ketika seseorang yang dekat dengan kita pulang, entah untuk sementara atau selama-lamanya.

anak laki-laki itu bernama Bujang, nama yang sangat kental saya dengar ketika masih tinggal di Medan. maklum, wilayan Sumatera pasti akrab mendengar nama ini. saya duga, perkampungan yang menjadi latarnyapun berada di Sumatera, terlebih sang penulis adalah orang Sumatera hehe

“Aku tidak takut. Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” Bujang itu kuat, sangat kuat, sampai melawan babi hutan raksasa saja, ia menang. kalian tau bagaimana kuatnya si Bujang itu?

bab demi bab dibaca, novel ini perlahan mulai mengisahkan pribadi Bujang secara mendalam. begitu sayangnya bapak dan mamaknya, iapun tetap harus direlakan pergi dengan Tauke Muda. perjanjian itu sudah lama adanya. walaupun akan pergi jauh, mamak tetaplah mamak. mamak memberikan petuah demi petuah demi anak kesayangannya itu. mulai dari melarang makan babi, anjing, minuman keras dan memabukkan, sampai keluar kalimat:
“Berjanjilah kau akan menjaga perutmu (dari makanan dan minuman haram dan kotor) itu, Bujang. Agar…. Agar besok luka, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik yang putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.” (Halaman 24)

di part kalimat itu saya semakin menyadari, sesering-seringnya mamak marahin saya, tentu itu untuk kebaikan saya, bukan untuk kebaikan orang lain. it's really relate with every condition of us. kalo orang tua itu selalu memberikan yang terbaik, nggak peduli anaknya udah jahatin dia juga, dia tetap baik.

kisah demi kisah mengalir begitu saja. Bujang lahir sebagai pribadi cerdas, cekatan, dan berakal panjang dalam menghadapi berbagai masalah. ia tidak mudah menyerah, ia selalu membaca buku, kemampuan bahasanya tidak dapat diragukan lagi. ia sangat khatam akan ekonomi, black market, underground economy, dan banyak hal lainnya yang kalo seperti saya, akan terasa bingung membacanya 😶

oke go ahead, di sini saya yakin betul Tere Liye sudah membaca banyak buku dan berita sehingga dapat memaparkan ekonomi ini dalam bentuk berbeda, yaitu novel. thumbs up!

kenapa Bujang diajak ke kota? tentu ada maksud tertentu, tidak hanya agar fisiknya kuat, ia juga harus berintegritas tinggi agar mampu melawan ketidakadilan melalui sebuah pena, yaaa doi harus cerdas dong ya.

ia belajar bela diri, pedang, katana, shuriken, dsb. Bujang memang pintar, sebagai keluarga Tong ia sangat dihargai dimanapun berada. selalu ada kejadian menarik saat Bujang berjuang melawan orang yang berbuat curang, pemerintah yang semena-mena dan bangsawan yang punya daya tipu licik.

hingga di hampir penghujung novel, ternyata ada pengkhianatan yang amat mendalam. padahal keluarga Tong berada di puncak kejayaan. tidak ada yang dapat membantu perekonomian dan keadaan aset Tong kecuali Bujang. perjuangan Bujangpun semakin berat. ia harus mengatur rencana dan strategi yang tepat demi melawan pengkhianat.

novel ini ringan, jalan ceritanya juga tidak mudah ditebak, semua orang dapat membacanya, hanya di bagian ekonominya saja saya kewalahan hehe so far so good. banyak hikmah yang bisa diambil, bahwa sejatinya semua yang kita usahakan akan berbalas dengan apa yang kita dapatkan. sejauh apapun pergi, kelak suatu hari kita akan pulang, sekalipun perjalann itu menyesatkan, gelap, Tuhan selalu memanggil kita untuk pulang.



thanks!
medan, 151118

Komentar

  1. Saya kok jadi sedih ya meski baru baca sedikit reviewnya.
    Belum pernah sempat dong baca semua karya Tere Liye :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa kalo berkaitan dgn org tua suka gitu ya mbak, sedih hehe

      Hapus
  2. Sukaaak kalii sm Tere Liye Darwis inihh.. thanks reviu nya ya Kak. Mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa mbak hihi ditunggu baca novel tere liye juga hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!