Kita itu Sesuai Niat Kita

jadi, kemarin sore pas lagi siap-siap mau sholat magrib tiba-tiba ada yang nelfon, pas lagi azan di masjid. nomernya sama sekali saya nggak kenal. bingung antara mau diangkat atau nggak, tapi kalo nggak diangkat ntar saya dikira sombong.

baik. saya angkat tuh buru-buru karena mau sholat juga.
"halo!!"
"iya, halo"
"elsaaaa, ini martabak!"
"woh, kenapa, magrib nih?"
"keluar yok, kami lagi kumpul nih."
"siapa aja?"
"aku, bang bola sama bang basket"
"oh, maaf nggak bisa hehe"
"oh, yaudahlah sip susah orang sibuk"
"lah haha maaf"

begitulah kira-kira percakapan itu lewat telefon. tapi sampai sekarang nomer itu tidak saya simpan, kenapa? bisa jadi orang iseng, ya walaupun saya sudah yakin itu pasti nomer salah satu diantara mereka hahahaha

kenapa saya tolak bertemu? pertama, jelas itu akan berdampak pada ikhtilat, saya sedang mencoba mengurangi hal-hal unfaedah begitu, udah mah cewek sendiri, kebayang, saya malah jadi bully-an mereka. karena pernah dulu pas ngumpul, saya sebagai bahan obrolan sana-sini, seperti tidak ada topik lain selain membahas saya dan kehidupan saya.

alhamdulillah, Allah ngasih petunjuk pelan-pelan untuk menemukan yang terbaik diantara yang baik. kemaren sih minta emang pengen ditunjukin gitu, jauhkan dari yang tidak baik. Allah memang maha Baik maha benar-benar baik. padahal nggak berdoa tentang itu lagi, tapi Allah ngasih petunjuk lagi.

seorang laki-laki yang tidak acuh pada azan dan memilih menelefon orang lain, layakkah kita jadikan imam kita? sama Allah saja dia tidak peduli, apalagi sama kita nanti ketika kita sudah tidak bisa apa-apa? Allahu Akbar.

atau seseorang yang menggombal janji buta, mengatakan "kalo aku lulus tahap awal nih, aku ke medan, kita makan, dan kalo aku lulus CPNS, yaaaaa aku ke rumahmu." sebuah paksaan menurut saya. padahal saya tidak minta, dan belum tentu mau juga. tetapi ada saja lelaki yang berani berjanji seperti itu. padahal sampai sekarang orangnya udah mau dapat NIP, belum ke rumah juga tuh. everything's change ya.

sebelumnya juga ada sih, tenang, nanti kamu pasti saya undang kalau kakak saya menikah, tetapi 6 jam lagi sebelum menikah, dia tidak kunjung mengundang saya, ketika saya membalas statusnya barulah ia mengundang. subhanallah. seseorang yang dipegang adalah ucapannya. oleh sebab itu berhati-hatilah mulai sekarang. mungkin kita lupa akan apa yang kita janjikan, kita terlena, senang, jadi semua yang baik dan indah-indah kita ucapkan. hanya saja ketika sudah sibuk ke sana- ke mari kita lupa. sejujurnya ini susah banget nih rasanya buat diinget.

benar adanya, orang baik akan bertemu dengan orang baik. dan kalau terus ingin mendapatkan yang terbaik tapi diri sendiri tidak berubah menjadi lebih baik, lalu bagaimana? banyak hal sepele yang tidak kita ketahui tetapi Allah tau. banyak dari kita yang berharap dijodohkan dengan si A, B, tapi sudah pantaskah kita disandingkan dengannya?

ingin menikah dengan yang bisa mengimami, sholat lima waktu tepat pada waktunya. sedangkan kita masih sholat di penghujung waktu, akankah bertemu? coba teman-teman perbaiki lagi niat teman-teman. apakah kita memang berubah demi Allah, baik di mata Allah atau hanya agar berjodoh dengan orang baik?

sering kali yang menginginkan kebaikan dunia hanya mendapatkan dunia saja, habis dunia ya habiis, tidak ada amalan yang bisa dijadikan ibadah sebagai  bekal di akhirat.



semoga niat kita karena Allah ta'ala

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengen Liburan Bebas Cemas? Tokio Marine Aja!

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?