Minggu Pagi Berkebun di Sendalu!

Bismillahirrahmanirrahim

Hari Minggu kemarin saya diajak oleh salah satu teman kantor saya berkebun. Guess what? Berkebun? Sebagai generasi urban yang kurang peduli dengan tanam-menanam kegiatan ini membuat saya excited. Kira-kira bakalan dikasi workshop atau semacamnya gitu atau gimana ya? Akan menanam apa aja ya? Banyak keinginan dan pertanyaan menumpuk di otak saya. Sampai akhirnya hari itupun tiba.



Acara itu dijadwalkan akan mulai dari pukul 08.30 sampai pukul 13.00. sesampainya di sana, hmmm lokasinya sebenarnya mudah ditemukan dari jalan persahabatan, pokoknya sebelum masjid. Hanya saja, bagian gerbangnya agak menjorok ke dalam dan penuh dengan rerumputan. Memang ada pamplet SENDALU PERMACULTURE dengan ikon kura-kura di sana, tetapi itu sangat kecil dan kurang membuat saya dan teman lainnya ngeh ada tulisan itu.

Sendalu Permaculture adalah sebuah tempat atau naungan mengenai tanam-tanaman, mulai dari sayuran, rempah, buah, bibit, sampai ke tanaman hias yang dibuat oleh seorang pemuda bernama Gibran sebagai hasil dari ekspedisinya di Bumi Langit Imogiri. Ini sebagai bentuk nyatanya akan kepedulian kepada lingkungan. Dari hasil chit chat dengan doi, ditemukan berbagai fakta bahwa alasan doi melakukan hal ini kerena doi menganut falsafah 5WHY. Jadi, ketika melakukan sesuatu kita harus tau dulu apa penyebab kita melakukan/ terjadi hal tersebut, kemudian begitu lagi, sehingga jika alasan yang dihasilkan terlalu banyak, fix lah sesuatu itu perlu kita selesaikan masalahnya.










Sama ketika beliau mulai berpikir kalau ini gorengan aman enggak sih dimakan? Sadar enggak sih, makan gorengan satu aja itu udah bikin beberapa pohon terpakai, mulai dari minyaknya, yang digorengnya. Minyak aja berasal dari kelapa sawit, at least kalau semua kelapa sawit terpakai hanya untuk makan gorengan saja gimana nasib ke depannya? Reforestnya gimana ini kalau semua lahan di pakai nanam sawit? Tentu enggak mungkin kan, harus ada alternatif lain. tapi, izin pembangunan sawit ini oleh siapa? Dsb.

Kita hidup di mana sebenarnya semuanya bersinggungan. Dulu, ketika London maju dengan pesatnya, daerah lain ada yang jatuh miskin? Mengapa? Karena mereka tidak memiliki sesuatu untuk ditanam, dikembangbiakkan, segala sesuatunya mahal. Bahkan mereka rela berkeluarga tetapi tidak memiliki anak hanya karena biaya yang mahal. Sampai akhirnya ketika peru datang dan membawa kentang kemudian menanami daerah tersebut dengan kentang, masya Allah. Kentang memberikan mereka kehidupan baru. Mereka mampu bersaing dengan warga London yang sudah lebih maju.  Setidaknya hidup mereka goes to be better, right?





















Sebegitu pentingnyalah makanan bagi manusia. Karena dari kentang saja sebenarnya manusia bisa survive dalam menjalani hidup. Tidak perlulah membanding-bandingkan hidup kita dengan lifestyle orang lain di instagram storynya. Banyak hal sederhana yang seharusnya kita syukuri. Tapi pikirkan kembali, apakah ini akan berefek kepada masa depan? apakah stok makanan di kehidupan anak cucu kita akan aman jika sekarang kita malah membuang-buang makanan, sampah plastik, dsb? Oke, kemudahan begitu mudah didapatkan di zaman sekarang ini. Mau makan tinggal go food, grab food, tapi emang dampak di hari esok enggak ada? Kegiatan konsumtif begini yang harusnya kita kurangi pelan-pelan.

Next, kemarin diajarin gimana caranya nanam ubi di tanah, dijelasin perbedaan kangkung lombok dan kangkung biasa. Kalau kangkung lombok batangnya lebih besar dan keras, cara mencabutnya juga hanya perlu dipetik, tidak dicabut sampai ke akarnya. Berbeda dengan kangkung biasa yang ramai dipasaran. Bentuk batangnya kecil, dan jika ingin di panen, diperlukan posisi tangan dengan jempol ke arah bawah, sehingga tercabut sampai ke akarnya.

Ada tanaman mint, timun jari/ mini yang bisa dimakan secara langsung, jinten, pohon bunga matahari yang belum berbunga, cabai, daun bawang, timun, dan tanaman lain yang sangat baru bagi saya. Umumnya memang founder dari Sedalu ini langsung mengurusi tanamannya sendiri. Mulai dari memilih tanah, kompos, sekam, serta bibit yang akan ditanam. Dan hal terpenting, semua yang ditanam di sana tanpa kandungan hidroponik. Kebayangkan panasnya Depok tetapi mampu menumbuhkan tanaman itu? Sesuatu yang dimulai dengan hal tidak baik, besar kecilnya pasti akan berpengaruh suatu saat ini. Mas Gibran beranggapan kalau “jika kita pakai hidroponik, oke tumbuhannya tumbuh tinggi, besar, suburlah, tapi sadar enggak tanahnya tercemar, jika suatu saat tanahnya digunakan untuk hal lain bisa saja malah tidak bermanfaat lagi. Banyak mikroba penting disana yang kita putuskan rangkai ekosistemnya demi sebuah tanaman. “ Hal seperti ini yang mendorong beliau untuk say no to hidroponik.









Acara kemarin diselenggarakan bareng Depok Berkebun. Selain diajarin tentang macam-macam tanaman, kita juga bisa petik kangkung langsung dari media tanamnya. Alhamdulillah, panen banyak. Mas Gibran juga emang peduli dan bibit tanamannya emang banyak banget. Suasana alamnya sangat menyatu ketika saya berkunjung ke ruang kerjanya. Hmmmm.

Setelah itu kami berfoto bersama, dan masak-masak! Excited sekali memang makan ngemper dengan rebusan kangkung, ikan asin, ikan teri, sambal, dan kerupuk. Ditemani dengan semilir angin dan kelinci yang berlari ke sana ke mari. Setelah itu masuk ke sesi perkenalan. Dari sesi perkenalan aja banyak banget ilmu yang didapat. Tiap orang punya background masing-masing dan ilmunya masya Allah. Alhamdulillah banget buat acara kemarin. Semoga bisa berkontribusi juga di dunia nyata ya!
Thank you.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengen Liburan Bebas Cemas? Tokio Marine Aja!

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?