Kalau Tidak Percaya, Terus Apalagi?

"Kamu kalau mau cepat, kabarin aku ya."
"Ha? Cepat apa? Wisuda? Ya mau cepat lah."
"Bukan, kalau kamu udah siap, mau cepat dibanding yang kita bayangkan, bilang ke aku."
"Oh, oke."





Dalam hati bergumam, "ini anak kenapa ya? berasa lagi di sinetron tapi kayaknya enggak deh". Banyak hal penting dan non penting yang saya bahas ketika berada diantara sekelompok orang, kecuali ya memang orang baru. Saya cenderung diam dan agak sulit memulai percakapan. Apa yang biasa kita lakukan biasanya akan kembali ke kita juga. Kalau kita pendiam, yang mendekat biasanya yang pendiam dan memperhatikan kita dari jauh saja. Bukan yang grasak-grusuk jadi influence orang lain. Mungkin yang sudah menikah bisa beropini ya.

Pertemuan saya dan seseorang itu bagaimana? Nanti kalau jadi akan saya tulis. Kalau tidak, saya tulis juga sebagai pengingat hidup saya. Dapat dihitung jari berapa kali kami bertemu setelah sibuk dengan dunia masing-masing. Alhamdulillahnya selalu ada waktu yang disiapkan untuk bertemu, karena kalau ada yang ngaku sibuk, hmm coba dilihat lagi, seberapa pentingkah kita di hidupnya hingga sesibuk itu?

Termasuk ketika berjumpa dengannya. Sudah cukup lama dia pulang, tapi saya banyak acara dengan keluarga. Dia juga sih sebenarnya hmmm. Kami cenderung diam, sibuk dengan makanan, handphone atau pikiran masing-masing. Benar adanya, perempuan juga berhak membuka obrolan. Yaaa benar, tidak jarang kadang saya yang membuka topik bahasan. Tapi kali ini berbeda, mungkin karena masih shock, loh kok cepet banget pulang lagi, kok udah mau balik aja, kok jadi jerawatan, kok makin putih, kok gak gemuk-gemuk. Shaming sekali.

Semua pertanyaan secara fisik itu membuat beberapa kita sebagai manusia cenderung males menjawabnya. Yaaa, jujur saja. Saya juga katakan itu padanya. Hingga menyebutkan, saya tidak mau berpikir hari ini. Kayak pengen refresh pikiran aja gitu. Tapi, nyatanya tidak. Saya kelimpungan menghadapi tingkahnya. Otak saya tetap mikir hari itu. Dasar aku.

Barangkali kami grogi atau memang tabiat kami kurang suka basa-basi. Acap kali mengobrol, lalu hening, lalu sibuk sendiri dan akhirnya mengobrol lagi. Sering saya baca, masa depanmu itu dengan pasanganmu, bukan anakmu. Jadi, kalau kamu tidak enjoy ngobrol ngalur ngidur dengan pasanganmu bagaimana? Umur kalian habis di diem aja gitu? MasyaAllah segitunya ya.

Kalau ditanya ini nama hubungannya apa? Ya berteman toh. We don't get married until now. Saya hanya mencoba meyakinkan hati saya bagaimana caranya kalau ini memang the right one bagi saya? Selain dari tahajud dan permohonan jawaban atas doa-doa saya pastinya (kamu juga bisa dengerin bahasan ini di podcast SHEGGARRIO DAN FELLEXANDRO; podcast ibuk vendryana dan benakribo; atau dari CATWOMANIZER). Kalau ditanya yakin atau tidak yakin. Ya saya yakin. Percaya? Tentu. Karena tidak ada modal terpenting dalam hidup dua orang yang sedang berkomitmen kecuali dengan percaya satu sama lain. Selain itu? Banyak juga sih memang.

Saya cuma anak bawang kemarin sore. Yang kadang masih suka bingung menghadapi tingkah orang lain dari balik kamar saya. Ada beberapa hal yang membuat kita percaya pada seseorang. Tapi, kekhawatiran kita juga banyak. Sejak menjalani berjauhan GMT+7 dan GMT+7+1 saya semakin sadar butuhnya kata pengertian dalam hubungan. Mengerti kalau ibu lagi sakit ya, ibu istirahat. Kalau ayah lelah seharian, di pijit. 

Rasa percaya memang harus dipupuk tiap hari. Kalau tidak percaya. Ya bilang. Tugasnyalah yang membuat kita percaya. Kita bukanlah anak SMP yang cek handphone sana sini melihat dengan siapa dia berkomunikasi. Tidak. Saya membebaskannya. Walaupun handphone saya dibuka whatsappnya oleh beliau. Toh, memang tidak ada apa-apanya kan, ya silahkan saja.

Bahasan tentang kepercayaan ini membuat saya tertarik dan mencoba menggali lebih dalam kepada followers saya di instagram, apalagi yang berkenaan dengan 'pernikahan' biasanya semuanya respek. Saya mengawali dengan posting tentang tingginya perceraian di Indonesia, sumber didapatkan dari video yang diunggah seseorang dari berita tentang, bagaimana banyaknya perempuan antre untuk mendaftarkan diri dalam proses cerai. Subhanallah, ini sebelumnya enggak bisa dikompromikan lagi atau gimana hubungannya? Cek videonya di sini!

Miris memang, sedh. Ibarat kata, ini persiapannya dulu nikah gimana? Kok semudah itu sih gugat cerai? Kebanyakan yang menggugat adalah pihak perempuan. Umumnya mereka beralasan ekonomi, agama, tabiat, bahkan sampai ada yang disebabkan oleh media sosial. Ya, kalau orang dulu itu pergi kerja, pulang kerja buru-buru ke rumah. Sekarang, yang dirumah juga bisa dipantau melalui medsos. Hal inilah yang membuat hubungan rumah tangga riskan akan perselingkuhan.

Apa yang kita lihat di media sosial belum tentu nyata adanya. Orang tentu share tentang yang baik dong, yang bagus, pas lagi cakep, masa lagi bulukan abis masak di upload? Jarang. Hal itu secara gak sadar membuat kita suka membandingkan hidup sendiri dengan orang lain. Pasangan sendiri dengan pasangan orang lain. Terlalu banyak ekspektasi yang muncul. Ya, tidak jauh-jauh. Lihat Raisa Hamish nikah wow gitu siapa yang tidak mau? Pasti semua orang, apalagi perempuan ingin diistimewakan.

Sampai sekarang saya pribadi bukan orang yang fix yakin dengan pernikahan, di satu sisi ada rasa takut yang muncul akibat melihat kenyataan banyak yang gagal dalam berumahtangga. Well, menyatukan dua keluarga tidak mudah. Tapi, di satu sisi juga ingin menuju jenjang yang serius. Dasar labil. Cuma, persiapan untuk pernikahan itulah yang perlu dipelajari, disamakan persepsi, jangan ditengah memilih mundur dan berpisah, nah ini akibatnya cerai.

Saya juga tidak tahu pasti alasan mengapa orang bercerai. Sampai suatu kisah masuk ke DM saya dari seorang senior. Temannya perempuan, sebelumnya pacaran dengan seorang lelaki dan kandas akibat lelaki itu selingkuh. Dia pun menyesal, stress, dan memutuskan hijrah. Hijrahnya beliau untuk menikah. Ilmu lainnya saya tidak tahu apakah beliau pelajari atau tidak.

Dikenalkan dengan seorang pria melalui guru ngaji mereka berdua, ta'aruflah mereka dan menikahlah mereka. Selang beberapa bulan sang istri hamil dan melahirkan. Dikarenakan anak pertama, istri memilih untuk tinggal bersama orang tuanya. Suaminya? Suaminya memilih tinggal bersama orang tuanya juga. Saya tidak tau persis apa alasan mereka memilih berpisah rumah begini. Sebagai single saya berencana jika keadaan begitu ya mau tidak mau suami bersama saya di rumah orang tua saya. Resikonya ya mungkin jauh ke tempat bekerja. Setelah melahirkan begitu, sang suami jarang mengunjungi, bahkan ketika sang istri berkunjung ke rumah mertuanya, suami melarang. ya Allah, nyesek bacanya. Kenapa? Karena katanya lagi sibuk bekerja.

Allah memang maha baik, datang teman sang suami menceritakan bagaimana tingkah suaminya tadi kepada istrinya (sebagai istri saya harus kroscek ke teman/ rekan/ bosnya seharusnya). Dan teman suami mengatakan bahwa sang suami sudah lama main perempuan. Innalillahi, seketika hati istri mana yang tidak hancur mendengar berita begitu? Setelah berita itu, pihak istri dan orang tuanya meminta agar pihak suami dan keluarga kompromilah mengenai hal ini. Namun, sungguh disayangkan, ternyata kedua orang tua suami sama sekali tidak tahu menahu bahkan tidak menyangka anak kesayangan mereka selingkuh.

Mendengar itu, keluarga istripun berniat menceraikan suami dan rela mengurusnya ke pengadilan. Case seperti ini sangat rumit. Bagaimana seharusnya pasangan mendidik anak yang baru lahir, bahkan belum setahun umur sang anak, malah dia mendapatkan drama seperti ini. Awalnya saya shock dan tidak yakin, seolah kayak sinetron, wallahu'alam, ternyata yang di TV ini terkadang benar adanya.


Kau yang memilihnya, kau juga yang meninggalkannya.

Dari sini poin pentingnya, rasa percaya itu butuh, harus, tapi kalau percaya terus yang diberikan kepercayaan malah menyia-nyiakannya bagaimana? Hal seperti ini tentu menjadi kekhawatiran kaum single. Memang, kita harus berserah diri pada Allah, ikhlas, pasrah. Tapi sebenarnya apa sih yang mendorong seseorang untuk berselingkuh? Merasa mapan, bosan, istri terlalu cuek? Benar-benar cerita yang saya juga tidak menyangka ada yang begini ceritanya. 

Setelah itu DM terus ramai. Bahkan ada 2 orang teman yang menikah dengan jangan ta'aruf lalu berakhir divorced. Saya tidak memihak kepada ta'aruf atau tidak, tentunya yang berasal dari Allah ada kebaikan didalamnya. Mereka yang menikah hanya bermodalkan melihat sang calon sholeh, lemah lembut. Subhanallah, ternyata ketika sudah menikah, berubah menjadi kasar, bahkan main tangan, tidak jarang juga keluar omongan yang tidak baik. Yang mengherankannya, orang tua sang suami mendukung dan menelantarkan sang menantu tadi ke rumah orang tua kandungnya. Posisi baru melahirkan, kuliah belum selesai. Sedih? Banget! Saya tidak menyalahkan ta'arufnya. Tapi kitanya sebagai individu yang akan menempuh mahligai rumah tangga, kudu serius, tanya sana sini, karena nikah tidak seperti sekolah yang bisa berhenti lalu pindah sekolah lain. Kita tentu mendambakan yang seiman, sedunia dan akhirat, bukan?

Untuk yang belum menikah, semoga ke depannya diberikan keyakinan dan kepercayaan pada pasangan, dan kepercayaan pada Allah tentu lebih besar. Karena pasangan kitapun milik Allah, bukan milik kita, maupun orang tuanya. Tidak ada yang meninggalkan kita kecuali Allah, dan jangan bertumpu pada manusia. Karena kita tidak pernah tau niat atau hal apa yang membuat seseorang meninggalkan kita selain karena ajalnya.

Biarlah keyakinan kita dan pasangan hanya Allah yang tau. Saya memasrahkan semuanya pada Allah yang maha mengatur. Banyak sekali hal-hal yang patut di syukuri. Bahkan, kedatangan orang-orang terdekat yang berbaik hati juga saya berterima kasih sekali karena mereka sudah lahir ke bumi ini. Jodoh atau tidak ya saya tidak tau. Mohon doanya saja, apapun yang terbaik semoga dilimpahkan bagi kita semua, karena yang pasti ajal akan menjemput. Aamiin ya rabb.

Komentar

  1. Aamiin, semoga teman menjadi teman hidup, hehe....

    BalasHapus
  2. Saya juga sepemikiran dengan mba. Ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, tapi takut. Karena itu bukan main main. Apalagi kalo sudah punya anak. Saya ingin hidup bersama, tapi takut dengan konsekuensi entah itu mertua, ekonomi, mendidik anak atau kisah pilu perselingkuhan.
    Rasanya mumet sendiri kalo mikir pernikahan, tapi iri (bukan iri negatif ya) liat orang yang sudah menikah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada perasaan pengen nikah tapi ini tapi itu wkwk

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengen Liburan Bebas Cemas? Tokio Marine Aja!

5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beralih ke CASHLESS

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?