Anak itu Titipan

sore itu tidak tahu kenapa rasanya aku sepertinya begitu lapar. sudah sarapan, makan siang, tapi kenapa ya begitu lapar. lalu aku pergi ke meja kafe di kantorku, lekas mengambil sekotak mie tiaw goreng dengan bawang goreng yang renyah, serenyah tawamu. ku ambil sekotak, lalu pergi menuju meja dimana aku sering berhenti, menghadapi orang-orang baru.

aku beranjak duduk di kursiku. menatap hingar bingar jalanan kota medan, lalu kejadian yang tidak kusangka terjadi. seorang ayah masuk dengan tenangnya ke ruangan ini, menyapa kami begitu ramah dengan lesung pipi di sisi kanan kiri wajahnya. dia tersenyum, lalu menjelaskan semua maunya. 

awalnya aku mengira ia calon orang tua siswa, tetapi tidak. oke, aku harus siap. kutinggalkan sekotak mie yang masih hangat di mejaku. sang bapakpun tidak merasa dia sedang mengganggu jam makanku. iya, karena itu sore hari. di saat semua orang memang sudah makan siang, tapi aku lapar.

dia berdalih membahas banyak hal, mulai dari mempertanyakan program di kantor, evaluasi anaknya bagaimana, ini itu dan segala macam hal yang sebenarnya sudah ada jawabannya. semakin ke sini semakin banyak pertanyaan, aku lebih memilih banyak diam, ya karena aku lebih suka menulis ketimbang bercakap tentang hal-hal yang sebenarnya aku sedang tidak mood membicarakannya. sekali dua kali ku sela, ia terus berdalih. sampai akhirnya anaknya datang dan bergeming penuh senyum.

aku bisa merasakan bagaimana jiwa seseorang ketika merasa tertekan, bahkan dengan orang tuanya sendiri. sang anak tidak melihat mata ayahnya. dia menatapku lurus sembari tersenyum. sesekali ia menunduk, melihat jalanan yang padat merayap. ada hal yang aku lihat begitu berat dipelupuk matanya. ekspektasi orang tua padanya besar. ia adalah si sulung di keluarga, usaha ini itu dilakukan oleh orang tuanya demi anaknya. tapi ia masih dalam masa remaja yang penuh dengan canda tawa dan permainan. yang sedang berkembang menuju dewasa, wajar menurutku kalau dia sedikit kurang menyukai belajar. akupun berada di zaman yang tidak jauh dengannya.

banyak hal yang bisa dipelajari, tapi tidak untuk menjadi orang tua. orang tua sebelajar apapun tentu tidak akan pernah sampai ke garis finish layaknya SMA lalu ujian nasional. ujiannya setiap hari, setiap waktu. bagaimana orang tua mentreat anaknya, bagaimana anak tak terbuka dengan orang tua, adalah hal penting dalam sebuah keluarga yang berada dalam sebuah kewajiban bernama "komunikasi".

penting tidak penting, tidak hanya ke anak, dengan pasangan kitapun harus berkomunikasi. kita bukan cenayang, tidak bisa berharap seseorang ini mengerti maunya kita. tidak bisa memaksa orang ini menghargai kita. set ekspektasi bersama adalah poin penting yang harus dijalankan. setiap anak punya minat dan bakatnya masing-masing.

orang tua harus mengembangkan apa saja yang dimiliki anak, tidak terfokus pada apa kekurangan anak. aku memang belum menikah, apalagi berumahtangga dan punya anak.

namun dari sorotan mata seorang anak, aku mengerti ada rasa takut, cemas, khawatir terselip di bola matanya itu. aku kasian pada kesehatan mental dan jiwanya. sampai akhirnya ada seseorang yang menyampaikan padaku. "anak itu hanya berisik di sini, di sekolah dia tidak pernah berisik sama sekali". sang ayahpun bertanya, "bagaimana anak saya ini disini? ributkah". refleks, yang disebelah saya menjawab ya. kemudian sang ayah berkata lagi, "loh kok dia dirumah diam ya...". satu tanda tanya muncul lagi. bagaimana ia di rumah, di sekolah, bahkan di tempat kami sekalipun tentunya tidak akan jauh berbeda karakternya. hanya saja ini berbeda, mungkin dia merasakan lebih relaks di tempat kami, kami lebih welcome, walau yaaa tiap anak tidak dapat dipaksa untuk belajar, apalagi mengikuti kata orang tuanya. it's sooo hard.

satu kata sejak saat itu, anak itu titipan Allah. kita harus menjaga, merawat, melindungi. tapi bukan untuk kita bentuk seperti apa yang kita inginkan. banyak sekali sudah bacaan yang memperlihatkan dimana anak menjadi stress akibat keinginan orang tua yang tidak dikomunikasikan dengan anak. orangtua ingin anak menjadi dokter, sementara anak lebih suka menggambar di bidang arsitektur. 


ataupun jika dulu sang ibu ingin menjadi teknisi, nilai tidak mencukupi. apakah sebaiknya sang anak terpaksa menjadi teknisi demi cita-cita ibu? jikalaupun terpilih di kedokteran atau di jurusan manapun, rasa ikhlas dalam hati seorang anak apa sudah 100%? perlakukanlah dengan baik anak-anak kita. nanti semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.

Komentar

  1. Self reminder buat para orang tua, buat saya sendiri, buat semua yg bakal jd ortu. Ini juga jawabannya, kenapa saya dan suami sementara ini meninggalkan hobi, pergaulan, dan jadwal² yg sebenarnya penunjang passion kami. Kami punya hari wajib berkunjung ke pesantren, tempat sepasang anak kami menuntut ilmu saat ini. Di sana kedua remaja itu berlomba² menceritakan kisahnya selama seminggu tak bertemu kami. Biarlah saat ini kami mungkin ketinggalan dr yg lain², asalkan kami msh menjadi sahabatnya anak², tempat curhat yg asyik bg titipan Allah itu. Insyaallah, aamiin

    BalasHapus
  2. Dulu sering marah-marah kalo ngajarin anak belajar, sekarang Insya Allah gak lagi..
    karena dulu terlalu memberi standard yang tinggi sama anak. Dan ekspektasi yang ingin si anak seperti emaknya ketika kecil. Maklum, emak masih tk udah lancar baca tulis dan huruf sambung.

    Akhirnya sadar, gak mau lagi membuat anak begitu..
    hiks,, malu.

    BalasHapus
  3. seringnya kita memaksakan keinginan atau cita-cita kita ke generasi penerus kita, padahal setiap anak punya pilihannya sendiri ya.

    btw, ini tulisannya memang sengaja gak pake huruf-huruf besar kak? #galfok hihi

    BalasHapus
  4. Kadang sebagai orangtua seringkali ego dan merasa lebih tahu. Padahal memaksakan kehendak kita kepada anak-anak sangatlah tidak baik.

    BalasHapus
  5. Inilah sulit jadi orangtua kadang khawatir kita tanpa sadar menitipkan obsesi pada hidup anak yg bs jd anak gak suka kan huhu

    BalasHapus
  6. Setuju....anak itu tamu yang kita undang. Jadi anak akan bertumbuh sesuai fitrahnya. Jangan memaksa spt maunya kita.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!

Day 8: Nivea Intensive Moisture, Solusi Tepat untuk Kulit Kering!