Skip to main content

Wisata Sawah Murah Meriah di Pematang Johar

Halo semuanya, apa kabar? Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal'afiat yaaa, aamiin. Nah, gimana nih dengan resolusi 2020 nya? Sudah berjalan sampai mana nih progresnya? Kalau saya pribadi, di tahun ini tidak menargetkan sama sekali. Beberapa hal yang saya inginkan cukup saya simpan dalam hati. Hanya saja, saya ingin lebih produktif menulis di blog berdomain ini. Maklum, sayang sekali rasanya kalau tulisan itu hanya sedikit. Nah, untuk produktif menulis tentu saya harus mempersiapkan konten yang akan saya sampaikan, bukan? Lalu seberapa pentingkah?

Begini, kemarin pagi menjelang sore, saya dan teman-teman dari blogger sumut berkumpul aka kopi darat 3.0 di rumah senior kami, kak Siska Hasibuan, atau lebh dikenal dengan usahanya mumubutikue. Bertempat di jalan Jemadi, jalan yang tidak pernah sebelumnya saya kunjungi akhirnya saya kunjungi. Agak shock memang, dimana ini, kesasar tidak ya hmmm. Tapi syukurnya ada google maps dan abang gojek yang selalu siap siaga mencari lokasi dengan tepat. Alhamdulillah. Apa yang kami bahas kemarin? "Personal Branding", bagaimana caranya agar orang lain mengenal kita dengan apa yang memang bisa kita berikan manfaat dari sana. Misalnya, mumubutikue, ya sebaiknya semua akun dibuat usernamenya begitu, agar publik ngeh dan benar-benar memanfaatkan kita sebagai pedagang kue, begitu juga dengan konten di blog, usahakan berhubungan dengan kue, masak-memasak, makanan, dan sebagainya.



Tulisan saya di blog ini memang campur aduk, ya seperti salad dan rasanya nano-nano. Terkadang saya ikut challenge 30 hari menulis dan yaaa, semua tulisan mengalir begitu saja kadang tanpa saya persiapkan terlebih dahulu. Lalu setelah belajar personal branding kemarin, saya mikir lagi. Hmmm bagaimana ya ini nama domainnya elsajalanjalan kenapa kontennya lebih sering tentang lingkungan dan sudut pandang? Namanya ya suka random, begitulah kira-kira. Tapi ternyata itu salah, orang akan mencari saya ketika ingin jalan-jalan, sehingga konten yang harus saya sampaikan adalah berkaitan dengan jalan-jalan.

Lebih baik lagi jika username instagram juga disesuaikan dengan nama blog atau nama panggung kita. Jujur saya pribadi bukan orang yang begitu terbuka dan pede akan beberapa hal, bahkan ketika teman-teman yang lain berlomba mengedit video untuk vlog, saya biasa saja, Mungkin karena dahulu sudah terbiasa ngedit video ketika tugas mata kuliah di kampus ya wkwkwk.

Semenjak itu resolusi fix saya ya hanya satu, menulis di blog secara aktif, minimal satu minggu sau blog. WOW ELSA! Berani sekali anda hahahaha. Yaudah innamal' a'malu binniat. Segala sesuatu yaaa mari kita mulai dari niatnya. Sebenarnya konten ini sudah bersewileran di kepala, cuma yang benar saja. Kerja di start up dengan sistem shift ya lumayan bikin kelabakan, bisa baca buku dalam sehari aja udah alhamdulillah sekali.

Sungguh ini opening yang sangat panjang hahaha. Tidak masalah ya,  manatau kalian kangen dengan bahasa tulisan saya. Hmmm. Untuk produktif di blog saya harus fokus pada domain saya, yaa seharusnya konten saya jalan-jalan. Baik, hari Minggu kemarin, saya berkunjung ke salah satu kawasan wisata desa di Deli Serdang. Ya, di Wisata Sawah Pematang Johar. Setelah ikut acara kopdar, saya dan keluarga langsung bergegas pergi ke sana. Kebetulan ibu kadesnya teman mama hehehe. Langsung kita kontak, setelah itu ternyata macetnya masya Allah. Akhirnya kami singgah sebentar untuk sholat ashar di masjid Haji Anif Cemara. Setelah itu ya lurus saja. Sampailah di lapangan di daerah Sampali menjemput ibu kades. Kamipunb pergi bersama-sama.

Sebagai anak yang sibuk wara-wiri di daerah kota, cukup terhitung berapa kali saya melewati sawah. First impression? Biasa aja sih, karena dulu ketika bikin buku tahunan, di saat kelas lain pada bikin foto di hotel, mall, hutan, apalah kami yang no budget jadi bikinnya di kawasan sawah daerah percut itu. Jadi, saya sudah tidak heran dengan perwasahan di sana yang bagus-bagus. Menempuh waktu sekitar 30 menit dari masjid Haji Anif, teman mamak yang menunjukkan jalan. Jalannya cenderung aspal, hanya saja agak sempit, jadi jika mobil sedang berpapasan ya jangan ngebut, kalau ngebut, siap-siap aja di kanan kiri ada parit pinggir sawah. Belokan yang kami lewati juga banyak, kalau ke sana saya sarankan pakai google maps saja. Karena untuk petunjuk lokasinya, sengaja belum ada umbul-umbulnya, dikarenakan belum launching.

Perjalanan yang akan ditempuh melewati kandang bebek, persawahan, dan pastinya dengan angin sepoi-sepoi. Tidak lupa, akan ada 2 jembatan yang kalian lewati. Untuk mobil, hanya bisa satu mobil, jadi harus bergantian ya. Biasanya ada petugas yang akan memberikan aba-aba sebelum naik ke jembatan tersebut. Dan ini agak curam, jadi gas perlu dipersiapkan. Mungkin kedepannya jalanannya harus lebih diperhatikan sih, jangan terlalu sulit, agar mudah juga orang lain untuk mengakses lokasinya.



Sesampainya di sana, ramai sekali dong. Nyari parkir juga sulit, kebetulan sampai di sana pukul 16.45, cuaca sudah hampir mendung tapi orang masih banyak yang datang. Balik lagi, ke kemudahan yang ada. Dikarenakan bawa bu Kades, alhamdulillah semudah itu dapat parkiran.Jadi, begitu ya, kalau dikenal pasti ya ada aja yang nolong, selama tidak berbuat curang. Ketika mobil parkir, kamu harus jalan kaki lagi ya sekitar 5 menit ke pintu masuknya. Kira-kira seperti ini gambarannya.



Kebetulan kemarin memang ramai sekali. Bahkan untuk berhenti lalu berfoto itu sulit sekali, kalau mau ya melipir ke sudut bambu yang lain. Wisata ini memang dikhususkan bagi warga yang memang sudah letih bekerja dan ingin mencari angin segar tetapi dengan harga terjangkau. Dengan harga 5000 kamu sudah bisa menikmati panorama sawah disini dengan tracking bambu untuk pintu masuk dan keluar yang berbeda. Ya, agar rapih dan teratur saja sih, biar tidak chaos, apalagi kemarin kan memang sedang ramai-ramainya. Tapi begitupun ada juga yang tidak mau ditegur ketika salah alur jalan.

"Ibu, maaf seharusnya dari sana ya bu, ini khusus pintu masuk", "loh, kan sama aja sih, toh ke situ juga", "iya bu tapi ini demi kenyamanan bersama". Itu saya perhatikan terus apa kata-kata yang dikeluarkan sang ibu sambil mendorong strolley anaknya. "Alah, kan ini jalan, ya dibuat emang untuk dijalani", sahutnya. Wah, dari situ saya semakin males ketemu orang. Terutama orang yang tidak mau mengikuti aturan, ibarat kata, egois. Semoga yaaa yang berkunjung ke sana setelah membaca ini tidak begitu hehe.



Kawasan wisata ini sebenarnya punya warga, yang dikelola oleh KIM, kawasan industri Medan. Di tengah sawah akan ada pondok-pondok lucu yang bisa dijadikan tempat beristirahat. Sebelum launching, kalian bisa membawa makanan ke dalamnya, tetapi setelah launching tidak boleh ya hehe. Karena pengunjung diarahkan membeli makanan yang sudah tersedia di kawasan wisata.




Jika ingin ramai sekeluarga dan tidak masalah bergabung dengan keluarga lain, tenang ada pondok lebih besar di tengah sawah. Tersedia jus, indomie, mie tiaw disini. Kalian harus buka sepatu ya ketka masuk ke pondok resto ini. Kami memesan indomie dan jus. Mungkin karena memang ramai, jadi penjualnyapun kelimpungan, makanan kami sampai dalam waktu 25 menit, mungkin. Mereka juga masih menyediakan sedotan plastik, ini saya sangat sayangkan. Padahal mereka hendak mengusung ecotourism. Akhirnya saya kasi saran ke bu kades, pakai sedotan bambu atau stainless, atau ya kukup langsung sajalah, tidak perlu pakai sedotan hehe.






Mereka sudah mulai berusaha dengan menggunakan piring plastik, kaca, gelas, sendok. Kabarnya tenant di luar resto juga akan diarahkan, agar tidak menjual dengan harga mahal dan menggunakan stereofoam, karena itu sangat berbahaya, sampahnya tidak dapat terurai, kemudian sangat mudah terbang terbawa angin, sehingga terkadang petugas kebersihan kewalahan dengan sampah ini.




But, so far so good. Disarankan kamu tidak memakai sepatu tinggi ya. Untuk duduk di pinggir sawah boleh, tapi ya jaga barang masing-masing. Jangan sampai jatuh ke bawah jembatan. Bahkan kemarin ada yang anaknya kehilangan orang tuanya. Hmmm itu sangat disayagkan sih.

Sekian dulu #elsajalanjalan kali ini. Terima kasih. Yuk, berkunjung ke wisara sawah pematang johar!






Comments

  1. Wahh, kita ktemu dong ya di mumubutikue hihi
    Wahh wisata sawahhhhh, bisa nih kpn2 saya ksini hehe

    ReplyDelete
  2. Hihi... bebek-bebek an ya... kita memang sering kok menyebut sepeda air cem gitu, hehe. Wah belum sampe nih ke Wisata Sawah Pematang Johar. baru Taman Air Percut aja... btw beras organik dari Pematang Johar pun the best lah... scr ada sodara punya sawah di sana jadi kami beli dari dia... maknyuus n insyaallah lebih sehat. TFS ya Elsa... I'm Olaf's friend, hihi

    ReplyDelete
  3. Gerak cepat kali nulisnya ya.. ♥️

    Biasanya awak suka nulis lebih dari satu post seminggu. Tapi sekarang malah diturunin standar 1 kali post aja seminggu karena ada deadline yang belum awak kerjain. Mungkin kalo udah siap, baru dicoba lagi nulis minimal 2x seminggu

    ReplyDelete
  4. Makasih info sawahnya. Seru nya itu warna hijau dan udara segar nya. Sawah udah jarang dikota, meski masih ada.

    Mungkinkah lama kelamaan sawah sawah akan menghilang ? Atau berubah bentuk dan sistem ? Hehe ga perlu dijawab karna waktu yg akan menjawabnya.

    ReplyDelete
  5. Tak berani lah ke tempat wisata dalam kondisi ramai huhu. Mengenai pengunjung yg gak taat aturan, mmg hrs ditegaskan, sih, sebab gegara satu yg gak taat, malah jd byk korban kan. Suka gemes sama org kek gitu.

    ReplyDelete
  6. Yaa beginilah kalo sdg hit,, ramai org berbondong-bondong datang, tp awq dah pernah ngerasain wisata macam ni, waktu 2019 tapi yaitu bukan disini tp daerah palonaga, lagian lokasi pematang Johar dekat rumah koq hihiii

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan