Skip to main content

Semua Perempuan Bisa Masak

Semua perempuan bisa masak

Dulu...
Dulu sekali ketika masih kecil, saya suka bermain masak-masakan. Bermodalkan tanaman, rerumputan di halaman rumah nenek. Diulek, digunting, dipotong, segala macam dilakukan agar benar-benar memasak. Mulai dari beli kuali yang berbahan plastik, sampai ke besi yang kalau dimasukkan air jadinya meletup-letup. Saya tidak ingat persis bagaimana saya kecil, mungkin itu juga yang akan saya alami ketika semakin dewasa nanti, tidak ingat bagaimana cerita masa muda saya sekarang, ah dunia ini dunia.

Masuk ke usia SMP, saya sekolah di salah satu sekolah negeri, full day school, dari pagi sampai sore, ya sesampainya di rumah mandi, sholat maghrib, makan malam, belajar lagi. Itu terus rutinitas yang dilakukan sehari-hari. Dapur? Saya tidak pernah berkunjung ke sana selama sekolah. Tidak peduli apa yang terjadi di sana. Orang tua saya? Tidak, mereka juga tidak menyuruh saya ke sana. Jadi yang saya tahu saya hanya wajib belajar saja di kamar. Kebiasaan itu terbawa sampai SMA. Apalagi SMA sudah banyak mau, pengen ini itu, kuliah di sini, les sana-sini. Jelas, jadwal semakin padat, dapur tetap gitu-gitu aja.

Sampai akhirnya saya kuliah di luar kota. Shock? Tentu. Tidak punya pengalaman memasak sama sekali. Dunia saya hanya baca, baca, tulis. Memasak itu tidak menarik bagi saya. Kuliah jauh dari rumah membuat saya sadar, oh iya ini yang bener aja kalau semuanya dibeli, mulailah cari cara biar bisa masak. Dimulai dari masak nasi, beli magic com dong. Lalu berlanjut pinjem kompor tetangga kosan nebeng buat masak, minimal masak telur ceplok. Sisanya? Saya beli di luar, karena ya sibuk. Sampai kosan udah tepar aja gitu. Maklum, anak organisasi halah wkwkwk.

Kesadaran memasak belum tumbuh di hati saya, ya begitu mungkin ya intinya. Masih hobi jajan cilok kopma dan berakhir dengan sakit. Ya, saya sakit akibat konsumsi makan yang salah. Makin ke sini, tiap ketemu orang yang doyan makan pedas, dan saya menolak, mereka berceletuk, "Duh, gimana sih masa orang Batak enggak tahan pedas? Masa segitu aja udah kewalahan?", dan omongan lainnya yang ingin saja menutup mulut mereka :)

Bukannya tidak mau makan makanan pedas, saya hanya menjaga apa-apa yang dititipkan Allah sejak dulu yang pernah saya lewatkan, yaitu lambung. Lambung saya luka, akibat apa? Akibat dari makan bon cabai kebanyakan, makan saos berlebihan, kandungan buah dan sayuran yang di makan kurang. Jadilah, perut sakit sejadi-jadinya. Bahkan ketika pulang ke rumah untuk berobat, saya masih baik-baik saja, 3 hari berselang. Benar, yang ditunda-tunda tidak ada baiknya. Perut sakit-sesakit-sakitnya sampai di perjalanan nangis terus. Kebayang enggak tuh Ayah sama Mamak kek mana rasanya? Wkwk. Perjalanan dari rumah ke klinik saat itu bisa 45-60 menit, saya ke dokter Refly Hasan, kalian bisa searching juga ya. Sampai di sana saya juga sudah tidak bisa berdiri, bayangkan saja anak umur 20 tahun pakai kursi roda, diliatin semua orang, ini anak hamil atau gimana dah hahahaha.

20 menit berlalu, giliran saya masuk ke ruangan. Alhamdulillah penyebabnya adalah makanan yang terlalu pedas, dan kotor. Ya, bisa dipastikan karena saya terlalu suka jajan di luar, tanpa memerhatikan kebersihan. Sejak sakit itu, saya sering masak di kosan. Di rumah juga, selama WFH membuat saya semakin produktif memasak. Biasanya belajar masak lewat apa saja? Banyak, terutama instagram, youtube, bahkan aplikasi menu resep makanan seperti yummyIDN dan cookpad. Semua lengkap di sana. Jadi, keahlian apa saja yang bisa di petik di balik WFH? Ya memasak ini. Semua bisa di bikin asalkan ada bahan dan peralatannya, dan jangan memaksakan ya jika tidak ada.

Mau tahu apa saja yang sudah saya masak? Ini dimasak hanya pakai teflon seadanya ya, soalnya anaknya enggak mau ribet, microwave belum punya wkwkwk.


Pizza teflon ala elsahlbs

Maka dari itu, intinya bukan perempuan tidak bisa masak, tapi mau atau tidak. Minimal bisalah bikin yang ginian pas orang rumah, kebaikan itu kan menular, jadi tidak ada salahnya kita menyenangkan orang rumah hehe. Saya juga tidak setuju dengan pernyataan, "Gimana mau nikah kalau enggak jago masak, nanti suamimu makan di tempat orang lain lho, nanti ini anu itu...". Ketika menjadi istri, urusan perut adalah tanggung jawab istri, tapi bukan berarti semua perempuanpun harus jago masak. Dan kalau nunggu sampai jago, kapan nikahnya? Kan mau nikah sama diri pasangan itu sendiri, bukan masalah bisa masak atau tidaknya. Tidak ada salahnya kan laki-laki juga jago dalam masak-memasak? Toh, membantu istri dalam rumah tangga adalah sunnah ya. Jadi, dear laki-laki bantulah istri Anda ketika di rumah.

Semua perempuan bisa masak

Comments

  1. akhirnya ada yg menulis isi Pikiran ku di awal-awal paragraf Karena gak pernah ke dapur.
    Dan bener dong, pas kuliah, anak kosan sepakat masak karena disediakan dapur, mulailah tiap mau masak telpon org rumah wkwk
    Sekali dua kali rajin, besoknya pas males beli lagi wkwkkwk

    Tapi calon suami aing dari skrg udah mengingatkan dia mau nya makan masakan istri biar lebih sehat dan hemat,,.
    Artinya gw bakalan ke dapur nanti 🤣🤣 semoga kek jargon si els "SEMUA PEREMPUAN BISA MASAK" ✊

    ReplyDelete
  2. Buat pizza ternyata bisa pake teflon ya, btw buat adonannya susah gak sih elsa?

    ReplyDelete
  3. Dulu saya termasuk yng cari istri yg pande masak.. kl dikasi yg jago lebih bgs. Dan sekarang brasa bgt enaknya dimasakin istri, sesekali suami bantu atau sesekali makan diluar okelah.. hehe

    ReplyDelete
  4. Yups setuju semua perempuan "bisa" masak. Tp ada sambungannya tuh, karena bisa masak belum tentu "pandai" masak, hihi... Katanya gitu, antara bisa dan pandai berbeda.

    ReplyDelete
  5. Perdana sekali diriku memulai debut memasak di dapur adalah sehari setelah menikah.

    Dan hasilnya, bikin suami jadi mules.
    Mules karena makanan yang kumasak ternyata alot dan belum Mateng.

    Akhirnya Lewat tekad yang kuat, beberapa tahun setelahnya, aku mulai bisa memasak dengan rasa yang tidak mengecewakan

    ReplyDelete
  6. Saya jadi teringat semboyan di salah satu film kartun, saya lupa judulnya.
    "Everyone can cook"

    Filmnya tentang masak masak juga.
    Yg ajaibnya yg pinter masak itu tikus gotnya.

    Saya juga dah pernah ubek ubek aplikasi yummy ini.
    Keren isinya

    ReplyDelete
  7. Ngerih kali akibat jajan sembarangan itu ya sa.. sama kayak tetangga dulu..
    Sakit Hepatitis akibat jajan sembarangan dan gak higienis.
    Zaman now emang udah mudah banget ya.. cari resep apa aja udah ada di aplikasi. Mudah ditiru asal rajin ya kan..

    ReplyDelete
  8. Betul banget fitrahnya wanita itu slaah satunya sebenarnya bisa masak. Cuma kadang males jadi penghalangnya. Tapi kalau aku merasa harus rajin masak karena kalau beli itu kurang terjamin kebersihannya plus bikin kantong bolong juga.

    ReplyDelete
  9. Prinsipnya sih apapun bisa dilakukan kalo ada niat. Niat itu muncul kalau kita merasa butuh. Makanya setelah saya hidup ngekos, baru muncul niat masak sendiri biar bisa menghemat pengeluaran. Saya banget ituuu

    ReplyDelete
  10. aduh itu gambarnya makanannya ituh manggil2 minta diicip dek sa. ku gagal fokus krn liat foto makannnannya menggoda kalbu. hehehhee....maulah dibuatin kirim ke rumah sesekali

    ReplyDelete
  11. Betul... Tak ada salahnya kalau laki laki memasak. Bisa bantu istri atau ibu. Banyak kog tukang masak atau chef laki laki. Bahkan rasa masakannya pun enak banget.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!