Skip to main content

Covid-19 Berakhir dan Rencana Kedepannya

Tulisan ini diolah setelah saya mengikuti kelas inspirasi perempuan untuk perubahan lingkungan yang diselenggarakan oleh National Geography Indonesia. Thanks to kak Siska Nirmala - founder dan penulis buku Zero Waste Adventure.


Setelah gagal berangkat liburan di akhir Februari kemarin, tentu semakin banyak dan semakin matang rencana liburan saya ke depan. Kenapa? Mungkin ada trauma yang saya hadapi setelah proses kegagalan begitu. Saya menjadi lebih terpacu untuk mencari cara agar setelah covid-19 ini berakhir, akan ada banyak hal baik yang semakin saya ikuti. Apalagi terkait jalan-jalan.

Nah, rencana yang seperti apa? Semakin ke sini saya semakin tertarik belajar zerowaste, kalian boleh cek di instagram saya di @elsahlbs dan beberapa postingan saya di blog. Zero waste sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama. Bahkan untuk tokohnya di Indonesia sendiri tidak dapat disebutkan satu per-satu, sangkin banyaknya. Di blog ini saya akan berikan tips bagaimana kedepannya agar jalan-jalan kita bermanfaat, dianggap beribadah karena mendekatkan diri kepada Allah, dan sebagai usaha untuk menghasilkan banyak sampah ketika berlibur. Kalau istilahnya, jalan-jalan minim sampah. Apa saja yang perlu diperhatikan?

Pertama, be responsible travel yaitu mengunjungi sebuah tempat kemudian perlu memerhatikan keadaaan sosial budaya tempat yang kita kunjungi. Dampak yang kita berikan pada tempat wisata merupakan hal yang harus kita perhatikan. Jangan sampai ketika kita berlibur ke sebuah kota, kita malah menghasilkan sampah yang banyak dan meninggalkannya di kota tersebut. Jika kita berlibur, jangan hanya sekadar datang, foto lalu sharing di medsos. Karena setelah covid-19 ini, tempat wisata akan berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas tempatnya. Belum lagi, biaya yang mereka keluarkan tentu jor-joran demi menarik wisatawan. Nah, lumpuhnya keadaan kota akibat corona dapat kita bantu misalnya dengan tidak menginjak terumbu karang, mencoret gua atau batu peninggalan. Hal mudah yang sebenarnya dapat dilakukan oleh siapapun. Artinya kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita kerjakan selama melakukan traveling. Tidak membawa pasir ketika ke gurun pasir, membawa bunga edelweis bahkan.

Kedua, slow travel, adalah sebuah pola pikir, bukan destinasi. Artinya lakukan perencanaan secara matang. Kamu tidak diharuskan untuk membuat budget liburan yang mahal, tetapi benar-benar membuat schedule dan menikmati lingkungan tempat kamu travelling. Sehingga kamu akan benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjadi warga lokal, karena kamu harus meluangkan waktu utntuk melihat bahkan membantu kegiatan yang ada di tempat itu sendiri.

Green travelling, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan 2 hal sebelumnya. Sebenarnya menjaga lingkungan bukanlah sebuah keharusan bagi kita, tetapi kewajiban yang jika tidak kerjakan maka akan muncul berbagai macam masalah. Green travel berarti kamu mengunjungi wisata alam, cagar alam, pantai, pegunungan. Lebih dari itu, kita harus peduli terhadap keberlangsungan alam dan lingkungannya. Tidak meninggalkan sampah, tidak merusak barang-barang di tempat kita menginap, dsb. Langkah mudahnya, kita tidak perlu mencetak tiket pesawat, bawa botol minum dari rumah, dan isi ketika ada refill stationnya, biasanya di tempat umum sudah banyak kok. Kalau kamu berdomisili di Jabodetabek, silakan gunakan aplikasi Refill Station, sudah jelas sekali di sana di tempat umum mana saja refill station tersedia.

Mengurangi penggunaan tisu, kantong plastik, dan menggunakan transportasi umum adalah cara kita untuk menerapkan green travelling. Mudahnya dengan membawa zerowaste kit, jangan meninggalkan kebiasaan baik yang sudah kita lakukan selama pandemi, misal cuci tangan, pakai masker, dan terpenting harus sehat ketika jalan-jalan!

Selanjutnya, volunturism artinya kita berwisata sekaligus menjadi relawan. Banyak kok kegiatan yang mengadakan konsep acara semacam ini. Terlebih dari komunitas. Kegiatan berjalan-jalan tidak sekadar membuat tubuh dan pikiran refresh kembali, tetapi ada kepeduliaan kita terhadap lingkungan yang kita tunjukkan pada alam ketika melakukan volunturism. Kenapa begitu? Ini sebenarnya tanggung jawab semua orang yang datang ke tempat tersebut. Tidak melihat agama, suku, ras, bahkan jenis kelamin. Hanya saja, beberapa orang belum merasa itu sebagai tanggung jawabnya. Ada kok langkah lain yang bisa kita lakukan, misalnya ketika jalan-jalan ke suatu daerah, kamu menemukan potensi yang tidak biasa di daerah tersebut, lalu sebagai influencer, kamu posting hal baik di daerah tersebut. Secara tidak langsung kamu sudah menjadi volunteer bagi daerah itu. Karena dengan begitu, banyak masyarakat yang menjadi tahu terkait info potensi lokal tersebut.

Zero waste adventure, dimana kita berusaha semaksimal mungkin untuk megurangi sampah ketika mendaki, camping, atau sebagainya. Banyak muncul opini, "naik gunung aja sudah ribet, gimana mau zero waste." Membangun proses yang baik tentu tidaklah mudah. Yakini dulu dari hari bahwa sampah itu bukan hal yang jelek. Sebelum bilang sulit, coba aja dulu dari yang paling mudah menurut kamu.
Ubah dulu keseharian hidup kita, misalnya dengan membawa botol minum, wadah makan, tidak menerima plastik. Hal mudah yang kalau sering dilakukan akan membentuk kebiasaan baru.

Contoh mudahnya lagi, jika kita bepergian seharian dengan keluarga, coba mulailah membawa galon di mobil, agar tidak perlu membeli air minum kemasan dari luar. Gunakan rantang, atau kalau saya sih biasanya membawa piring plastik yang banyak kemudian semua lauk pauk dimasukkan ke wadah box seperti tupperw*re. Kemudian untuk tisu diganti dengan lap kain.

Sulit? Ya, jika kamu tidak memulainya dari sekarang! Hal yang perlu kamu mulai adalah dari segi perencanaan, karena di tiap keluarga, akan berbeda-beda hasilnya dalam menerapkan zero waste ini. Cobalah dengan mulai bertanggung jawab kepada plastik yang didapat, kamu bisa mengolahnya dan dengan tidak membuang smpah di destinasi yang kita kunjungi setidaknya sudah merupakan sebuah usaha kita dalam mengurangi sampah. Tentunya dengan tidak membeli makanan berkemasan ya!

Nah, kalau di hotel bagaimana? Jangan di pakai bahan plastik di hotel! Karena potensi sampah yang dihasilkan di hotel sangatlah banyak, mulai dari toiletries, sendal, air dalam kemasan, dan lainnya. Coba yuk, kita mulai zero waste dari sekarang. Bismillah, kita niatkan sebagai ibadah kepada Allah! :)

Comments

  1. Wah, samaan nih, Mbak. Rencanaku buat traveling juga tertunda gara-gara Corona. Semoga pandemi ini segera berakhir ya, Mbak.

    Kalau masalah zero waste, aku masih susah banget menerapkannya. Mungkin sedikit demi sedikit kali ya, seperti bawa minum di tumbler daripada beli air minum kemasan dan gak pake sedotan waktu makan di tempat makan.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah, sampai saat ini semua poin yg Elsa javarkan sudah kk jalani setiap bepergian. Dampaknya pada diri benar2 membuat kita semakin jauh lbh baik

    ReplyDelete
  3. Slow travel sama gak ama konsep ekowisata ya Sa,, jd gak sekadar rekreasi, berbaur dr lingkungan yg dikunjungi juga

    ReplyDelete
  4. Selama pandemi ini 2 kali jalan2 , tp yg plosok2 dan masi di sumut hehe. Makasih pencerahannya, kadang kita lupa kl dah jalan2 harus pedulu dengan lingkungan dan kearifan lokal๐Ÿ˜€๐Ÿ™

    ReplyDelete
  5. Elsaaa, senang ada teman yang satu visi tentang konsep Go Green, termasuk dalam berwisata yah ^^ Go Girl!

    ReplyDelete
  6. Awak mainnya kurang jauh ya sa.. soalnya baru tau soal volunteer saat travel. Biasanya organisasi lokal atau internasional ini sa?

    ReplyDelete
  7. Zero waste adventure ini memang punya tantangan tersendiri ya Elsa.
    Tapi kalo semua pengunjung melakukan hal ini tentunya kawasan wisata aman dan nyaman ya

    ReplyDelete
  8. Udah lama naksir buku Zero Waste Travel itu, tapi belum kesampaian belinya.

    Cerita soal travel, kayaknya saya pribadi sekarang masih belum berani. Kalau habis pandemi ditanya gimana, pastilah kayak katak dalam tempurung, mau berjalan aja kerjanya wkkwkw.

    Semoga pandemi cepat berakhir. Aamiin.

    ReplyDelete
  9. Plus minus sih sebenernya mau zero waste ini. Harus punya komitmen kuat agar kebiasaan untuk minim sampah dapat selalu dilakukan. Secara pribadi saya masih belajar. Kadang masih suka lupa bawa botol minum atau pas mo travelling lebih milih beli air kemasan yang gak harus disimpan kalo isinya udah abis demi space mobil yang lega. Semoga saya semakin baik ke depannya untuk zero waste ini. Nice sharing els!!

    ReplyDelete
  10. Baru tau kakak ada istilah slow travel dan green travel gini biasanya kk kalau ke hotel memang minim sampah els, tapi entah mengapa kalau di rumah masih belum bisa menerapkannya dgn total

    ReplyDelete
  11. Banyak yang ga sadar tentang Zero Waste Adventure. Berwisata tapi buang sampah sembarangan. Mungkin ini teruz digalakkan agar mereka sadar. Naik ke gunung, masih aja ditemukan sampah berserakan. Nyelam, masih aja rusak batu karang. Mirias liat begituan ya

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan