Skip to main content

TIPS MENGHADAPI SBMPTN UTBK 2020




Halo! Gimana nih hari Jumatnya? Alhamdulillah banget tanggal merah, jadi bisa rehat sejenak dari hiruk pikuk grup pekerjaan. Walau ada aja yang japri-japri agak bikin emosional, sabar, namanya dunia. Ya semua cobaan emang di dunia.
Awalnya banyak pertimbangan kenapa akhirnya saya menuliskan ini. Sebenarnya ini pengalaman saya langsung ketika duduk di bangku SMA, diputuskan tidak lulus SNMPTN (undangan), kemudian harus berjerih payah mengejar SBMPTN (seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri), yaaa kalau akrabnya kalian akan mengikuti UTBK (Ujian Tertulis Berbasis Komputer).

Resolusi 2020 lulus SNMPTN, tapi malah tidak lulus? Tenang! Masih ada SBMPTN dan mandiri. Tapi kan kak, mahal, capek harus belajar lagi, biaya lagi untuk les. 

Aduh... Apaan sih, Sa? Untuk sebagian orang yang mungkin tidak merasakan beratnya berjuang masuk PTN, mungkin biasa saja, tapi perjuangan dari sebelum masuk hingga akhirnya luluspun punya banyak cerita di hati saya.

Ceritanya begini... Saya adalah salah satu murid di sekolah agama negeri di kota saya pada zaman itu. Pintar? Cerdas? Baik hati? Hmmm... Julukan itu sering terdengar di telinga saya, tapi sayang, tidak semua mengenal saya karena saya cenderung diam.

Kalau tahu diam, kalau tidak tahu ya diam saja. Bukan tipe siswa yang aktif ketika di kelas. Otomatis nilai rapor saya bisa tiba-tiba menjulang rendah akibat kenon-aktifan saya di kelas. Ya, saya akui. Saya tipe introvert yang kalau memang pintar ya ditunjukin aja ke diri sendiri, tidak perlu merasa paling benar hingga semua guru tau. Maklum, dulu saingannya ketat sekali. Bahkan tidak tahu nilai saya dengan polosnya saja begitu dikirim ke PTN tujuan saya, dengan jurusan yang... Tidak saya minati.




SNMPTN saya mendaftar ke UPI, (kalian tahu kan UPI? Bukan universitas prima di Medan ya, silakan ke link ini UPI - Universitas Pendidikan Indonesia, sungguh disayangkan selama kuliah sampai sekarang pamornya belum seterkenal yang lain wkwk)tetapi dengan prodi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Fisika. Berat? Jelas! Dari hati? Yaaa tentu tidak, hahaha. Saya termasuk orang yang patuh kepada perintah orang tua, termasuk dalam soal jurusan ketika kuliah.

Ketika ingin mendaftar SNMPTN di ruang BK, (ya dulu sih daftarnya didaftarkan sama pihak sekolah, jadi masing-masing tahu bersaing dengan siapa hmmm), saya baru tahu kalau setiap siswa jurusan IPA, wajib mengambil jurusan IPA, begitu juga dengan IPS. Tidak boleh lintas jurusan. Saya? Shock. Kenapa ini tidak profesional ketika di hari H saya mendaftar baru dibilang begitu?

Jadilah saya mendaftar agak telat. Menelfon orang tua, menimbang masukan sana-sini dan keinginan hati. Ternyata orang tua bilang ikutin sekolah saja, baiklah saya lanjutkan. Walau dalam hati saya ingin masuk ke prodi Teknologi Pendidikan. Kenapa? Kedua orang tua berasal dari dunia pendidikan yang lengket akan profesi widyaiswara, mereka melihat saya punya bakat untuk berbicara dan berkomunikasi, serta kemampuan akan teknologi, dan suka jalan-jalan, sehingga mereka merasa itu prodi yang tepat untuk saya.

Saya hanya sebatas tahu bahwa prodi itu IPS, dan akan belajar mengenai kurikulum dan media. Oke, yang ada digambaran saya hanyalah media media, bagaimana caranya memanfaatkan media sosial, membuat desain, film, foto, tentu seru. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya final, pihak sekolah melarang siswa lintas jurusan, walaupun sudah saya jamin, tidak ada saingan saya di sekolah itu.

Tapi ya sudah, yang penting sudah berusaha, tinggal tawakkal sama Allah. Kalau memang yang terbaik yang saya pilih dari jalur SNMPTN, tentu akan ada jalan. Dulu sih belum ada sistem LTMPT, lalu daftar sendiri, lalu isi data sendiri, kemudian di ACC sekolah, lalu memilih jurusan dan kampus sendiri. Tidak. Maklum, mungkin teknologi dan peraturan di zaman saya masih sangat ketat.

LTMPT, kekurangannya, tidak ada yang bisa menjamin semua siswa akan mendaftar di sana. Sistem tidak bisa mengingatkan dengan detil hal penjelasan mengapa sebuah akun gagal mendaftar. Banyak hal yang teknis saya baca di komentar akun tersebut. Bahkan, sejak memberikan kabar terbaru bahwa tahun ini semua UTBK menggunakan tes TPS (tes potensi skolastik: penalaran umum, bahasa, kuantitatif, dll), justru semakin banyak yang menghujat. Seolah pemerintah dengan gampangnya mengganti mata ujian begitu saja, tidak menghargai orang yang sudah mati-matian belajar TKA (Tes Kompetensi Akademik: Biologi, Fisika, Kimia, Ekonomi, Sosiologi, dll). Bahkan sangkin posesifnya mereka gembok akun instagram mereka loh! ini kocak sih. Tapi ya sebagai tindakan preventif aja setelah keluar edaran baru tentu ada saja komentar.

Cuma dengan keberadaannya, seharusnya siswa lebih mudah akses tentang sebuah kampus, prosedur pendaftaran UTBK, dan lain sebagainya.

Lanjut, setelah usai mendaftar. Ya tiap doa hanya minta ditunjukkan saya ke mana tempat saya terbaik untuk menimba ilmu, sesuai dengan kemampuan dan hati saya. Alhamdulillah, terjawab. Saya tidak lolos SNMPTN. Yang lolos SNMPTN ke UPI? Hmmm lumayan ada lebih dari seorang. Tapi mereka bagaimana? Tidak mereka ambil, hanya satu yang mengambil. Sesuatu yang kita idam-idamkan, sudah kalian dapatkan, malah kalian sia-siakan. Kita ini manusia, jangan egois.

Teruntuk kalian yang lulus SNMPTN, selamat! Jika usahamu sudah maksimal, pertahankan. Jika tidak? Faktor rezeki sangat berpengaruh bagimu. Banyak bersyukur, diluar sana banyak yang sudah yakin lulus tapi belum bagiannya. Tolong, jaga hati yang belum lulus. Sakit hati? Tentu. Saya mengurung diri seharian habis pengumuman. Tapi untuk apa lagi. Kalau enggak belajar buat SBMPTN, ya sama aja.

Dengan berbagai alasan, mereka yang lulus tetapi tidak memilih mengambil, memberikan penjelasan ke sekolah. Kalau saya sendiri termasuk orang yang selalu terplanning, jadi jika satu gagal, ada opsi lain. Saya juga punya alasan kuat mengapa saya melakukan A, B, C. Kalau menolak begini, bagaimana nasib adik kelas saya berikutnya? Sudah bisa kalian tebaklah.
Ujian demi ujian diikuti, sampai pendaftaran kedinasanpun diikuti, ya namanya usaha. Sampai pendaftaran SBMPTN dibuka, saya putuskan ambil yang sesuai dengan kata hati dan orang tua saya. Alhamdulillah, selain dengan restu, usaha saya les di bimbel juga tidak perlu diragukan (duh... kok kayak sombong).




Saya pribadi terplan, saya jurusan IPA namun ingin mengambil jurusan IPS tentu banyak sekali pertimbangannya. Karena saya harus belajar dari awal lagi tentang ekonomi, sosiologi, sejarah, geografi. Mau pecah kepala? Ya tentulah! Belum lagi saya tipe introvert yang tidak bisa diganggu. Kalian introvert juga? Baca disini yuk >>> 5 Tips Belajar untuk Si Introvert! .  Bahkan tidak jarang semakin kita gagal di SNMPTN, teman kita mulai terfilter secara langsung, siapa yang beneran teman, sahabat, bahkan hanya ada di saat butuh wkwk. Karena ketika gagal, galau, kalian akan lebih sensitif terhadap sesuatu, tapi yaudah namanya usaha wkwkwk. Baiklah, sepertinya openingnya panjang sekali hehe.

Berikut ini tips sederhana buat kamu yang siap buat menghadapi SBMPTN! 
Semoga bermanfaat!
  1. Tetap beribadah kepada Tuhan sesuai agama masing-masing.
  2. Patuh kepada keluarga, guru, tentor, menghargai teman.
  3. Hargai waktumu yang semakin sedikit, dan jangan ketinggalan info!!!
  4. Jaga kesehatan, apalagi covid-19 belum mereda.
  5. Buat perhitungan mundur, hitung berapa hari yang akan kamu jalani buat menghadapi SBMPTN.
  6. Fix kan pilihan kamu mulai sekarang. Kalau mau lintas jurusan, harus benar-benar dipersiapkan.
  7. Luangkan waktu bermain min. 1 jam untuk bermain. Kalau hari minggu/libur tetap belajar ya ^^
  8. Belajar tapi santai, jangan terlalu serius (ilmunya harus nempel ya hehehe)
  9. Ikuti try out dari mana saja.
  10. Siapkan mental untuk menghadapi SBMPTN.
  11. Usahakan mendapatkan poin tertinggi di TPA.
  12. Bahas soal min. 20 soal/pelajaran/hari. Dulu sih karena ada TPS dan TKA, minimal TPS 50, TKA 50 per hari. Dan itu harus sekalian di bahas hari itu juga wkwk, ambis banget anaknya 😂
  13. Jangan ikut-ikutan temen soal jurusan. Diskusikan ke orang tua, guru, tentor, dan orang yang bisa kamu percaya.
  14. Kamu harus sudah siap dengan konsekuensi di kampus dan jurusan pilihan kamu.
  15. Dan, tahun depan kamu belum tentu lulus,  jangan ada dipikiran kalian bahwa kalian akan mencoba lagi tahun depan.


Semua step itu setelah saya laksanakan , alhamdulillah dinyatakan lulus ke UPI dengan pilihan pertama. Senangnya masyaAllah. Karena itu, menurut Allah ya memang itu yang terbaik. Allah tidak akan mengecewakan makhluknya kok. Kalau dulu sih media belajar itu lewat bimbel, sekarang kan media sosial saja sudah dimanfaatkan sebagai media belajar, bisa dari whatsapp, instagram, telegram, youtube, bahkan ada bimbel online. Wah, apaan tuh? Baca postingan saya yang ini! 5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru, Hihi.

Untuk kalian semua yang gagal SNMPTN, tenang. Hidup akan tetap berjalan walaupun kalian tidak lulus. Kalau mau mengemis ingin lulus tapi dengan cara yang tidak jujur buat apa? Sudahlah, kita itu apa yang kita niatkan, apa yang kita lihat dan pikirkan serta apa yang kita lakukan. Covid-19 masih merajalela, tapi maksiat jalan terus? Innalillahi. Anggaplah ini semua teguran, kalau kita itu hasil dari kita di masa lalu. 



Tidak boleh sombong, usaha sekeras apapun kalau Allah belum izinkan ya belum. Kalau tidak usahapun kalau memang rezekinya ya, kita bisa apa. Berusaha, berdoa, mudah-mudahan ada hasilnya ya. Semangat semua! 💚

Comments

  1. Semangat dong, meski pendemi gini belajar harus tetep jalan. Lulusan sekarang ni jdi lulusan corona ya, ga ada selebrasi hehe
    Moga adik2 yg mau kuliah di mudahkan testnya ya

    ReplyDelete
  2. Jadi teringat dulu saat ujian spmb. Ahahaa, masih spmb namanya dek, dulu orangtua menyerahkan seutuhnya mau kuliah apa.
    Kebetulan pas naik kelas 3 kakak pengen jurusan bahasa saja, tapi karena gak buka, masuk IPS. Yang lucunya malah dimasukkan IPA. Jelas minta pindah karena kuliah udah tau pengen masuk ilmu komunikasi.
    Ngapain nyiksa otak masuk IPA biar nampak keren, wkwkwk.

    Pokoknya terstruktur deh .
    Dan Alhamdulillah lulus.

    Nah suami, kuliah itu modal terserah emaknya .
    Hingga kini, gak terpakai lah itu ilmu kuliahnya.
    Padahal kalo dia gak telat tau passion dia, dia tipe pembelajar yang serius sama yang dia suka .bahkan hanya lewat tontonan yutup dia langsung bisa.

    ReplyDelete
  3. Jadi ingat masa2 sibuk ikut bimbel dulu, namanya Medic*, kayaknya masih ada ya sekarang cm gak ngehits kayak dulu lg. Palagi naik ke kelas XII ya ampiuunn itu pergi masih gelap pulang pun udah gelap, gila aja demi lulus PTN. Tp smua terbayar setelah duduk jadi mahasiswa UGM. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  4. Dulu aku ingat setelah tamat SMU langsung daftar bimbel untuk persiapan UMPTN (nama dulu) sayang nggak jebol juga universitas favorit, mungkin karena aku kurang maksimal. Btw. Tipsnya bagus bisa bermanfaat bagi adek2 calon mahasiswa

    ReplyDelete
  5. Ya Allah mba Elsa, banyak sekali singkatan yang saya gak tau panjangannya.
    Jadul kali saya ini kwkwkwwkkw

    ReplyDelete
  6. Dulu pas udah mau lulus SMA, saya juga heboh ikut bimbel ini bimbel itu. Belajar dan ngerjain soal tiap hari. Pengen coba jalur bebas tes, UM-UGM, ujian stan, pokoknya lulus salah satunya. Udah lulus dua universitas pun bingung mo pilih mana, haha,,,

    ReplyDelete
  7. Mbak saya lulus lewat jalur snmptn, tapi malah galau salah jurusan. Punya bakat di situ tapi nggak minat. Akhirnya lama di proses akhir. Nyes. (Belajarkuatdarihati yang suka baper)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?

Mengapa Harus Pilih MRT?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!