Skip to main content

Kebaikan Cukup Dari Rumah

kebaikan cukup dari rumah

Banyak kegiatan seru yang bisa kamu kerjakan #CukupDariRumah, mulai dari memasak, berkebun, main games dengan keluarga di rumah, sampai bikin to do list biar pekerjaan beres! Duh, gimana-gimana? Penjelasan selengkapnya bisa kamu baca di sini ya! 5 Kegiatan Seru di Rumah tapi itu semua juga enggak akan bisa berjalan semulus itu kalau kamu belum tau rahasianya. Duh... Rahasia apaan? Iya! Selama covid 19 saya menemukan 5 Rahasia Agar Betah di Rumah, mau tahu apa saja? Kunjungi artikel saya yang ini ya. Tips Betah di Rumah.


Belajar Online

Besar atau kecil, tentu covid-19 ini berdampak bagi kehidupan kita. Mulai dari bekerja dari rumah, sekolah atau belajar dari rumah, bahkan berbelanja dari rumah. Perlu banyak adaptasi ke metode baru. Mulai dari pekerja, ibu rumah tangga, kakek-nenek di rumah. Jadi, sabar dulu. Semuanya tentu merasakan dampaknya. Mending kita isi ramadhan kita ini dengan hal-hal bermanfaat ya! Oke, jadi, di artikel ini saya akan cerita sedikit tentang kebaikan selama ramadhan yang saya dan keluarga bisa lakukan selama covid-19 ini. Karena kebaikanpun bisa #CukupDariRumah.


Baca juga : Dampak Covid-19 pada Milenial

Ramadhan setahun terakhir adalah ramadhan paling berat bagi keluarga kami di rumah. Alasannya berat, sungguh berat. Setahun belakangan adik dari mamak saya divonis terkena kanker. Bermula dari rahim, hingga akhirnya merambat ke seluruh tubuhnya. Perlahan tapi pasti, berat badannya menurun, dari yang dulu masih bisa beraktifitas bahkan buang air ke kamar mandi, sekarang harus di kamar saja, mengingat sistem pengeluaran di tubuhnyapun sudah tidak normal. Operasi demi operasi dilakukan, membuat lubang di sana sini agar ia bisa tetap membuang hasil dari apa yang ia konsumsi.

Awalnya saya kira bisa diobati dengan cara tradisional, di bawa ke sana, ke mari. Tapi masyaAllah, selain berusaha lewat cara tradisional kita juga perlu berusaha lewat dokter. Qadarullah, ia sudah sedikit bersemangat, walau ketika memandang wajahnya saja, saya tidak sanggup. Ada perasaan yang berkecambuk di dalam hati. Bertanya, ya Allah, kenapa keluarga kami yang kau berikan cobaan begini? Perlahan, seiring waktu berlalu, badannya semakin lemas, sesekali ia mau berjalan ke teras untuk menikmati ramainya hiruk-pikuk jalanan depan rumah kami.


Orang sakit butuh dorongan.

Tapi, jika salah satu saluran yang dipasang tadi bermasalah, tersumbat, sudahlah, ia akan meraung kesakitan. Bisa kalian bayangkan kalian ingin buang air tapi tidak bisa karena lubang pembuangannya tidak ada? La haula wala quwwata illa billah. Begitulah yang ia rasakan. Awalnya saya denial, menggerutu, tapi akhirnya di bawa berdoa, karena sejatinya, yang sehat merawat yang sakit tidak boleh sedih dibandingkan yang sedang sakit. Pernah suatu ketika saya menyulangi beliau, hingga akhirnya saya meneteskan air mata karena tidak tahan melihat kondisinya.

Jangan kalian tanya, bagaimana kondisi mamak saya, om saya (suami beliau), hingga atok saya (orang tua ibu dan mamak saya) menghadapi keadaan begitu. Hancur, sedih, tapi wallahu a'lam. Ada rahasia Allah mengapa keluarga kami yang mendapatkan kisah begini. Ramadhan tahun lalu beliau masih bisa ikut sahur bersama, karena kami serumah. Sekarang, hanya kebaikan lewat materi yang bisa ia berikan, ia sudah sulit untuk membantu di dapur. Untuk semua yang membaca ini, mohon doanya ya untuk kesembuhan ibu saya, semoga dengan sakitnya, insyaAllah diampuni segala dosanya, Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Kebaikan yang saya sharing di sini, bukan kebaikan saya, tapi kebaikan orang-orang di sekeliling saya. Adik kedua mamak saya, hampir tiap hari datang ke rumah, hanya untuk membersihkan, memandikan, membantu keramas ibu saya yang sedang sakit. Jujur, itu berat. Saya pernah memandikan beliau. Ingin rasanya berteriak sembari berkata, "ya Allah kenapa harus ibu yang kena penyakit begini?", berulang kali saya hanya bisa menghela nafas. Tidak bisa saya bayangkan kalau saya ada di posisi beliau, mungkin saya tidak mau dikunjungi, mungkin saya berubah menjadi pendiam dan menutup diri. Tapi dia tidak. Begitu juga dengan mamak saya. Pagi pergi bersiap ke sekolah, kebetulan mengajar di salah satu SMP negeri di daerah kami. Sebelum pergi, ia sudah menyiapkan sarapan hingga cemilan yang bisa disantap oleh ibu saya di hari itu. Siang ketika pulang, mamak saya bersiap lagi untuk memasak makanan ibu saya. Masya Allah, hal ini yang selalu saya pertanyakan, apa iya saya bisa ya seperti mereka berdua ini. Dan itu terus berlanjut hingga sekarang. 

Kami selalu berupaya agar ibu saya mendapatkan gizi terbaik, walau kadang dibarengi dengan keinginannya makan ini itu, selain karena berat untuk menolak, melihat dia makan dengan lahap saja sudah syukur Alhamdulillah. Kebaikan apa yang berubah? Kami semakin dekat dengan orang-orang di rumah, memperhatikan ibu yang sakit. Semoga dengan adanya covid-19 dengan pembatasan sosial di tengah ramadhan, menjadi simbol bahwa kebahagiaan harus di mulai dari rumah.


Cuci darah.

Kisah itu belum berhenti. Doakan kebaikan mamak dan ibu saya mengalir terus. Ramadhan kali ini, berbeda lagi ceritanya. Bertambah. Kebaikan itu seyogyanya haruslah bertambah. Setelah dikatakan dokter harus cuci darah, amangboru saya, ipar abang saya, harus bolak-balik Medan-Siantar. Tidak jauh memang, hanya 3 jam perjalanan. Namun, bisa kalian bayangkan betapa terpukulnya Bunde (kakak Ayah) saya menerima berita tersebut?

Bermula dari bulan Februari, ia jatuh sakit. Padahal sebelumnya ia sudah sehat-sehat saja semenjak pulang dari umroh. Kemudian muncul bisul di tubuh amangboru, sakit, hingga akhirnya membesar dan sangat mengganggu. Akhirnya pergilah ke rumah sakit, dokter mengatakan harus cuci darah. Karena ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi dengan baik. Mendengar ini sontak dua keluarga dari pihak Ayah dan mamak shock sekaligus. Di satu sisi ibu juga belum sehat, ditambah lagi dengan sakitnya amangboru. MasyaAllah...

Kalau boleh dikatakan, rumah kami ini sudah semacam tempat persinggahan tiap ada yang sakit. Sudah tiga bulan sejak Februari, amangboru dan Bunde tinggal bersama kami. Bukan karena rumah kami bagus, mewah, dekat dengan rumah sakit tujuan, bukan. Karena kebaikan Ayah dan mamak sayalah mereka tetap bertahan di sini. Pelajaran nomer sekian ketika berumah tangga, hubungan kita dengan ipar itu perlu di jalin. Tidak hanya ketika sehat, bahkan sakit sekalipun. Karena jika sudah menikah suami dan istri ibarat satu tubuh, dan harus menutupi aib keduanya.

Banyak kebaikan sepele yang saya rasa mudah untuk dilakukan, tapi tentu sulit untuk dilakukan. Kalau masalah biaya hidup, mungkin ini tidak begitu besar, toh hanya menerima dua orang saja. Tapi dengan covid-19 ini semua memang menjadi begitu berubah. Sampai akhirnya saya ingat kembali, di hari Sabtu, tanggal 25 April 2020 yang lalu ketika siang datang, amangboru dan Bunde seperti biasa cuci darah. Sepulang dari sana tetap beraktivitas seperti biasa. Kebetulan saat itu saya sedang tidak diizinkan berpuasa. Sehingga saya tidak taraweh dan cenderung tidur lebih lama. 

Qadarullah, kamar tempat Bunde dan amangboru adalah kamar adik laki-laki saya. Dan kamar itu hanya di sekat dengan dinding batu, dan ditengahnya tetap ada lubang, agar AC nya bisa memfasilitasi dua kamar. Sayup-sayup mata saya sudah mulai terlelap, tapi ada suara Bunde yang tidak begitu jelas saya dengar.

Amangboru tidak bersuara. Tapi lama-kelamaan muncul suara seperti Bunde mengetuk pintu kamar Ayah mamak,
"Yan, yan, yan,... ooo yan".
Menyebut-nyebut nama Ayah saya. Sontak saya langsung keluar dari kamar dan menjumpai Bunde, 
"Ada apa?". Terlihat jelas dari raut wajahnya seperti orang capek, lelah, mengantuk, tapi dia shock, dan bingung harus berbuat apa. Sayapun langsung mengetuk pintu kamar Ayah mamak, karena tahu kalau Ayah mamak agak sulit dibangunkan. Bahkan belum tergubris untuk melihat bagaimana keadaan amangboru. Hingga akhirnya terbukalah pintu tersebut.
"Kenapa, kak?", sahut Ayah. Mamakpun keluar juga dari kamar.
"Itu, tengoklah dulu abangmu itu, dicabutnya selangnya". Kata Bunde.
Ayah langsung bergegas ke kamar melihat kondisi amangboru, begitupun saya. Shock, kepala seperti mau pecah, terkejut batin, ya Allah ini apalagi... Sekujur dadanya penuh dengan darah, bajunya yang awalnya putih mendadak menjadi merah segar.
"Kok bisa, bang?", sahut Ayah.
"Enggak tahu aku, mimpi aku tadi, gak sadar aku tercabutku", kata Amangboru.

Ilmu tambahan agar kalian tahu, setiap cuci darah, harus ada selang yang dimasukkan ke dalam tubuh agar darah atau cairan yang ada di dalam tubuh yang sakit dapat dikeluarkan dengan cepat dan lancar. Kebetulan amangboru menggunakan metode Hemodialisis atau HD, yaitu proses cuci darah menggunakan ginjal buatan atau hemodializer. Darah penderita akan dipindahkan dari tubuh yang sakit dan disaring melewati hemodializer tadi. Nah, darah yang sudah disaring tadilah dikembalikan ke tubuh menggunakan mesin dialisis. Untuk mengalirkan darah tersebut, dokter harus membuat titik akses ke pembuluh darah, salah satunya melalui pembuluh darah di bawah leher atau sekitar dada.

Insting perempuan memang begitu ya, membawa perasaan, masih mematung melihat keadaan, bukan langsung mencari solusi hmmm. Ayah saya langsung bersiap-siap pakai baju yang ada lengkap membawa sarung dan mulai mengeluarkan mobil. 
"Udah, ayok sekarang ke rumah sakitlah, gak mungkin itu kayak gitu".
Bunde masih terdiam dan bergumam, sembari mencari pakaian terbaiknya, membawa semua obat-obatan amangboru. Karena mamak saya juga masih shock, akhirnya saya yang ikut ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan amangboru bilang...
"Aku enggak sadar, aku mimpi kayak lagi di hutan terus banyak rumput dan ilalang, aku enggak bisa jalan, jadi aku merasa harus mencabut yang membuatku sulit berjalan, aku enggak sadar".
Bunde sudah diam saja. Kalian bisa bayangkan itu berupa besi berukuran kecil namun panjang karena dimasukkan ke dalam tubuh agar darahnya mengalir? Ya, begitulah. Tapi, ya namanya mimpi, kami juga tidak bisa menyalahkan amangboru.

Kebaikan berikutnya, di kala malam sudah mulai pekat, tepat pukul 00.00 pagi, kami berangkat dari rumah. Terlihat jelas wajah saya mengantuk, bahkan sesekali menguap ketika di perjalanan. MasyaAllah semoga kebaikan kami semua engkau berkahi. Sesampainya di rumah sakit, mungkin memang protokolernya begitu ya, ditengah covid-19 begini, di saat Bunde saya sudah lemas, saya dan Ayah tidak diizinkan masuk. Jadi, kami hanya menunggu dari luar. Tanpa tahu bagaimana keadaan amangboru. Sampai akhirnya Ayah berjalan ke ruangan UGD yang parkiran mobil, ternyata amangboru di sana. Dokter jaga semudah itu mencabut selang, membersihkan darahnya, dan mengoleskan dada amangboru dengan salap, dan diperbolehkan pulang.


Amangboru dan anggota keluarga lainnya.

Sepanjang perjalanan pergi dan pulang saya hanya bisa beristighfar. Mungkin cobaan orang lain di luar sana lebih berat dari apa yang saya dan keluarga rasakan. InsyaAllah, mudah-mudahan Allah berikan keberkahan dalam setiap langkah kami. Kepada mamak dan ibu yang sudah merawat ibu yang sedang sakit, tidak lupa juga kepada Ayah saya yang rela mengorbankan waktunya demi amangboru. Karena sesungguhnya kebaikan tidak mengenal tempat dan waktu. Begitu banyak kisah walau #CukupDariRumah . Kalau kamu, apa kisahmu? :))


Cerita di atas hanya sebagian kebaikan yang bisa kita kerjakan mulai dari rumah. Tentu banyak kebaikan lainnya yang bisa kita sebarkan di bumi ini. Apa aja tuh? Yuk, Jadikan Setiap Hari adalah Momen Terbaik melalui 10 Ide Menebar Kebaikan



Idul fitri makin dekat, kita sudah di penghujung ramadhan, tidak terasa ya, waktu begitu cepat berlalu. Zakat fitrah jangan sampai terlupakan! Kenapa? Zakat termasuk rukun Islam yang harus kita kerjakan agar membersihkan harta yang kita punya. Dengan zakat fitrah tentu kita semakin memberdayakan petani lokal. Dompet Dhuafa mengelola dan membina petani-petani yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Disebar ke seluruh pelosok Indonesia. Tidak hanya di kota besar, mereka yang berada di pelosok daerah juga mendapatkan manfaatnya. Bayarnya mudah. Kamu bisa #CukupDariRumah. Tunaikan via gadget kamu, kewajiban selesai. Mudah kan?

Baca juga: Sedekah Tidak Akan Mengurangi Harta

Yuk, jangan biarkan kesempatan emas berbagi di bulan penuh berkah ini kita sia-siakan. Yuk saling mengingatkan di hari-hari yang tersisa ini. Tinggal klik di donasi.dompetdhuafa.org/zakatfitrah ya!


Buka Link Donasi Dompet Dhuafa.


Metode pembayaran yang beragam.


Mudahnya bisa berbuat baik dari rumah kalian bisa simak dari capture-an ini ya. Kebetulan saya nyobain waqaf hehe. Semoga bermanfaat.



Setelah dibuka linknya akan muncul tampilan seperti ini. Lalu klik lagi. Donasi sekarang.


Kamu akan diingatkan tentang maaf sedekah. Jadi kamu enggak akan berpikir ulang dan semakin mantap untuk berbuat kebaikan. Lalu tinggal isi formnya ya.



Setelah semua form kamu isi. Kamu akan mendapatkan notif kalau kebaikan kamu sudah diproses dan diterima. Setelah itu akan ada pemberitahuannya juga via sms dan email. Thank you dompet dhuafa! Sudah mewadahi kebaikan untuk berbagi dari mana saja dan kapan saja πŸ™πŸ»πŸ’š


Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition "Ceritaku Dari Rumah" yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan"




#CeritakuDariRumahDDSulSel
#BlogCompetitionCeritakuDariRumah

Sumber: Memahami Cuci Darah dari Sehatq


Ket:
Mamak : ibu kandung
Ibu : adik mamak
Amangboru : abang/adik ipar Ayah
Bunde : kakak kandung Ayah

Comments

  1. luar biasa perjuangannya... sehat-sehat buat keluarga ya kak.
    eh ngomong-ngomong kalau berkenan mampir ke blog saya kak
    Berbuat Baik Bisa dari Rumah #CeritakuDariRumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, terima kasih. semoga kamu dan keluargamu sehat-sehat juga.

      Delete
  2. Masyaallah tabarakallah cerita nya menggugah Kali Elsa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak ngetiknya aja sampai berlinang πŸ₯Ί

      Delete
  3. Berbuat kebaikan apalagi itu terhadap keluarga dekat kita memang sangatlah dianjurkan dalam Islam. MasyaAllah.. Barakallah untuk keluarha elsa. moga Allah senantiasa menjaga kalian

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah masih dikasi kesempatan berbuat baik sama sodara sendiri. terima kasih doanya kak dyah :))

      Delete
  4. MasyaAllah, memang hancur rasanya jika ada orang terdekat kita yang diuji dengan sakit yang parah. Semoga Mbak sekeluarga dikuatkan ya dan ibu segera sembuh & pulih seperti sediakala.aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin yaAllah makasih mbak meilawati πŸ™πŸ» smoga doa baiknya juga berbalik ke mbak yaa

      Delete
  5. # cukupdarirumah ,kita banyak belajar hal yang tergapai diluar. Semoga kita selalu dalam lindunganNya, dipermudah segala harap disembuhkan segala yang tak sehat, disabar kan segala yang terlibat ❤

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin ya rabb, thanks sister. semangat teruuus πŸ€—

      Delete
  6. Masyaallah yang kuat ya buat kakak sekeluarga semoga selalu dalam lindungan Allah.....aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin doanya berbalik pd kakak juga yaaa πŸ™πŸ»

      Delete
  7. Jadi teringat perjuangan mama kakak melawan penyakit ginjalnya hingga ia meninggal, memang saat selang itu ada di dalam tubuh rasa sakit pasti ada makanya secara tak sadar dia akan mencabut selang yg tak enak di badannya, semoga ini menjadi ladang amal buat orangtua dan dek elsa sebagai tuan rumah ya, menolong orang yang sakit itu pahalanya luar biasa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh mamak kk iid kmrn itu kena ginjal juga? yaAllah allahummaghfirlaha warhamha :( iyaaa kak smoga kak iid dan keluarga sehat2 yaaa πŸ™πŸ»

      Delete
  8. sa, masyaAllah dek. dengan ngelihat kebaikan2 disekitar kita otomatis bsa mendorng kita ingin melakukan lebih banyak lagi kebaikan yakan dek sa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kaaak smoga kita semakin terpacu untuk berbuat baik ya kaaak

      Delete
  9. Hiks.. jangankan selang untuk cuci darah dek.. dulu selang infus dan selang nafas aja secara gak sengaja selalu berkali-kali dicabut almarhum ayah kami. Semoga amangboru sehat-sehat ya dek, Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaAllah ternyata diluar sana ada yg gitu jg ya kak πŸ˜” kira cm amangboru kami ajaaa. iya kak, aamiin makasih kak ichaaa

      Delete
  10. Terharu bacanya kakak, semoga setiap kebaikan akan menyebar ke orang lain ya kak, sehat-sehat terus Keluarga kak Elsa

    ReplyDelete
    Replies
    1. masyaAllah smoga segala kebaikan ditulisan ini ngalir ya ke orang yg baca πŸ˜ŠπŸ™πŸ» aamiin, keluarga kak yanti juga yaaa

      Delete
  11. Semoga sehat selalu ibuk dan amangborunya ya Sa... Kl.ada anggota keluarga besar yg sakit gitu, rasanya seluruh keluarga ikut merasakan sakitnya ya

    ReplyDelete
  12. Awak nangis bombay la mbacanya.
    Semoga kebaikan dan ukhuwah keluarga kita diberkahi Allah SWT ya Elsa..

    ReplyDelete
  13. artikelnya bagus mbak, emoga amalan kebaikan kita bisa dirasakan oleh orang lain jga😊kunjingi balik ya mbak https://www.faronesia.com

    ReplyDelete
  14. Karena berbuat baik adalah fitrah manusia, hanya saja dengan porsi yg berbeda2.

    ReplyDelete
  15. Bersedekah saat lapang maupun sulit. Bersedekah memancing rezeki dan membuang bala.

    ReplyDelete
  16. Merinding membaca kisahnya. Pasti sedih dan berat banget melihat kondiai ibunda. Semoga segera membaik ya

    ReplyDelete
  17. Semoga sehat selalu untuk ibu kakak dan semoga amangboru bisa diberi mukjizat kesembuhan juga, agar nggak perlu cuci darah lagi ya. Amin. Keep strong kak!

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan