Skip to main content

Pemikiran Baru di Umur 25

Malam sebelum hari itu saya masih berharap seolah-olah waktu diperlambat. Jangan sampai umurku bertambah. Tidak mau, karena hidup sudah terlalu berat. Tapi apa daya, semua harus dijalani. Banyak sekali orang yang excited merayakan ulang tahunnya, tapi aku tidak. Sedih, sesedih itu, udah seumur begini sudah memberikan dampak apa pada keluarga, agama, lingkungan huhu.


Pemikiran baru
Muncul pemikiran baru di umur 25 ini. Banyak hal baru yang saya sadari, ternyata tidak bisa dianggap remeh. Perihal uang, tidak bisa saya dan keluarga tidak terbuka. Ketika disuruh untuk kuliah lagi pun, walau dibilang biayanya ada dari orang tua. Jika saya mengiyakan, tapi apakah benar saya butuh? Terkadang hidup ini butuh saran-saran dari orang banyak, tidak sekadar pemikiran sendiri.

Banyak yang bilang, dengan kamu menempuh pendidikan, maka pekerjaan akan mengikuti. Jabatan akan semakin dipertimbangkan, dan lain sebagainya. Padahal, itu tergantung kitanya kan, ingin berkembang seperti apa? Di bilang berat, ya, banyak yang merasakan quarter life crisis di umur 25 ini. Mau pilih bekerja atau kuliah. Mau pilih nikah atau ya kerja aja dulu sampai mapan.


Feel free ya untuk yang punya pemahaman berbeda. I just sharing what I thought about this month.


Pertama, pekerjaan dan uang.




Pekerjaan dan uang.

Setiap keluarga tentulah memiliki value yang berbeda. Ada value dimana bangun lama di weekend adalah hal lumrah, karena  ketika weekday ya anaknya sudah full banting tulang kadang sampai jam 12 malam di kantor. Sementara mertua melihatnya, aduh kamu ini males banget nak, gimana cucu saya nanti. Perihal suami istri bekerja juga di tiap keluarga itu berbeda. Ada yang oke-oke saja kalau istri bekerja. Ada yang, sudahlah istri fokus saja di rumah hmmm. Sejak awal hal ini perlu ditanyakan ke pasangan.


Jangan ketika di tengah pernikahan, kamu bosan di rumah, kamu ingin bekerja, sementara suami kamu melarang keras. Alasannya yasudah fokus dengan perkembangan anak saja. Uang bisa dicari. Tapi sebagai istri kamu paham, bahwa memang uang bisa dicari tapi, kebermanfaatanmu lebih terasa di orang banyak jika bekerja misalnya. Banyak hal urgent yang disesalkan beberapa istri setelah menikah. So, monggo sebelum nikah dipastikan dulu, mau kerja atau tidak. Kalau suami menolak mentah-mentah dan kamu bersikukuh mau bekerja? Sudah, cari yang lain saja hehe. 


Atau simpel saja, jika orang tua kita masih menganggap PNS adalah segalanya dalam hidup. Kalau kerja di tempat lain itu, aduh riskanlah. Nanti di pecat, apalagi di start up, nanti bangkrut, aduh yang lainlah nak. Setidaknya kalau kamu PNS uang kamu tetap ada meskipun tidak banyak. Yaa, saya mengakui. Tapi tidak semua orang bisa dan mau jadi PNS. Semua yang halal baik insyaAllah. Karena lubang rezeki tidak hanya menjadi PNS, insyaAllah.


Tidak jarang juga saya dikenalkan ke ibu A, bapak B, tante C, berharap agar saya bisa masuk ke perusahaan melalui beliau-beliau ini. Tapi entah kenapa, hati saya begitu berat, seolah-olah memanfaatkan sekali networking itu. Tapi selagi bisa usaha mencari pekerjaan sendiri, kenapa tidak?


Tidak perlu jauh-jauh, tentu ada di sekitar kita yang rela membayar banyak biaya demi anaknya sekolah di A, B, tapi saya tidak. Saya menolak, itu seolah mengajarkan anak tidak mandiri sejak awal. Apakah kelak ini menjadi investasi haram? Karena kita menyogok agar anak kita masuk ke sekolah favorit? Wallahu'alam. Tapi value ini penting untuk dibahas kiranya mencari seorang pasangan.


Kemudian, ketika menikah, uang akan dikendalikan oleh siapa di keluarga? Mau ikut berinvestasi atau yasudah sekadar menitipkan uang di bank? Bagaimana jika penghasilan istri lebih besar dari suami?


Memilih karena harta? Kalaulah pandai mengolah harta, alhamdulillah. Kalau tidak? Harta tergerus begitu saja habis tak bersisa. Apalagi kalau pasangan merasa hutang adalah hal wajar, hal lumrah. Hutang boleh jadi diwariskan, tapi setega itu? Demi dunia? Perlulah kiranya kita mencari yang tidak menganggap dunia adalah segala-galanya. Pandangan tentang uang perlu disamakan persepsinya sejak awal, tentang kredit, cicilan, KPR, bank syariah atau tidak.


Setelah membaca postingan ini, dari halalcorner saya semakin tergerak untuk benar-benar pindah ke bank syariah. Walaupun masih ada uang yang akan terus masuk ke rekening konvensional. 





Setidaknya kita berusaha, berupaya, agar hidayah yang sampai ke kita, kita kerjakan sesegera mungkin. Coba, simak kajian dari Buya Yahya berikut:





Kedua, fisik dan anak.



Fisik dan anak.
Lambat laun dulu sempat hampir menjadi budak cinta sampai akhirnya menyadari bahwa cinta itu tidak ada, cinta itu hanya perasaan yang membuat kita merasa tenang, nyaman, yang tidak begitu saja ada, tapi harus ditumbuhkan. Kalau kamu cari yang cakep, ingatlah suatu saat kecakepan itu akan hilang, muka penuh keriput, rambut penuh uban, bahkan tak jarang muncul penyakit dari tubuh.

Terkait fisik, tentu erat kaitannya dengan keturunan. Apakah begitu menikah ingin punya anak. Punya anak berapa? Mengenai ini saja banyak nilai berbeda di masyarakat. Ada yang menganggap banyak anak banyak rezeki. Tapi ada juga yang berpendapat, cukup 2 anak, maka saya akan kembangkan semaksimal mungkin, karena pertanggungjawabannya sulit di akhirat kelak. Nah, samakan persepsi dengan pasangan ya :)


Jika sudah menikah, apabila 5 tahun tidak memiliki anak, bagaimana? Akankah mengadopsi anak? Berusaha bayi tabung? Atau akan menikah lagi jika istri tidak punya anak? Wanna cry 😢 Enggak kebayang kalau jawaban yang kita harapkan tidak sama dengan calon kita. Mending sudahi, cari yang lain.


Tidak berhenti di situ, jika punya anak, siapa yang akan menjaga anak? Apakah dititip ke neneknya? Daycare? Atau pakai nanny? Bagaimana jika istri lelah, berkenankah suami membantu? Terkait pendidikan anak, apakah diserahkan semuanya ke istri?


Fenomena sekarang, banyak yang membuat saya miris. Melihat keluarga yang terlihat harmonis, tapi istri hampir stress. Perkara apa? Semua pekerjaan dikerjakan oleh istri, mencuci, memasak, menyetrika, menjaga anak. Bahkan antar jemput anak. Suami? Bekerja di kantor, sampai rumah, makan, mandi, tidur. Begitu seterusnya. Hal yang sering saya lihat dan saya pikir tidak sesuai dengan value saya di umur 25 ini. Suami bukanlah raja, walau istri harus mengabdi pada suami, tapi hendaknya di zaman seperti sekarang ini, mengertilah... Bahwa keluarga adalah tanggung jawab bersama. "Itu urusan istri saya", kata-kata itu seolah-olah ya itu hanya anak istri, dan suami tidak mau tahu. Saya pikir, kita perlu sama-sama membaca buku berjudul Istri Bukan Pembantu karya Ahmad Sarwat, Lc. InsyaAllah jika sudah selesai akan saya review.


Tidak jarang, hal itu yang menciderai pernikahan. Bahkan dulu Rasulullah mau membantu Aisyah di dapur. Jadi, siapakah kita kenapa sesombong itu tidak mau membantu istri? 😢😢😢


Ketiga, mertua dan keluarga besar.



Mertua dan Keluarga Besar.

Keturunan keluarga ternama, dermawan, baik banget. Ya alhamdulillah. Tapi, yakin mau nikah sama yang begitu? Suatu saat ada salah satu anggota keluarga yang berbuat maksiat, lalu keluarga ramai diperbincangkan. La haula. Sesungguhnya semuanya akan kembali pada Allah.


Ini terkait jauh atau tidaknya jarak rumah ke keluarga. Pernah ibu saya seolah menolak, "aduh nak, janganlah jauh-jauh gitu", seolah karena saya anak sulung, tidak ada nanti yang peduli pada keluarga di sini. Dan lain sebagainya. Ini tentu membuat saya sedikit terotak, dan ya kalau jodoh pasti kan dimudahkan Allah. 


Tanyakan memang, apakah ada hal yang kurang disukai dari mertua, bagaimana jika ada perdebatan diantara mertua dan istri. Jika ingin memberikan bantuan ke keluarga, sebesar apa? 50:50 kah? Atau bagaimana?


Bahkan, dari tunangan dan resepsi harusnya sudah keliatan sih. Kemarin ketika pandemi lagi parahnya, bunde saya nyeletuk, "jangan mau ya nikah di masa pandemi, mana enak gak ada kawan yang datang". Hahaha. Saya hanya tertawa saja. Karena menurut saya yang penting akad nya. Sebaiknya tunangan dirahasiakan, dan resepsi ya sekadarnya saja. Karena biaya kedepannya sungguh lebih besar. Gak lucu pesta mewah di gedung, lalu tinggal dikontrakan. Value ini yang perlu disamakan, bahwa menikah itu tentang masa depan. Tidak di hari resepsi saja.


Keempat, privasi.

Layaknya password media sosial, email, bahkan handphone sekaligus. Kalau saya ya, jika sudah menikah ya terbuka saja, toh hal lebih dari itu dilakukan. Apa yang perlu ditutupi? Tapi ada juga yang mempertahankan pendapatnya, jika handphone ya jangan dibuka-buka pasangan, itu privasi. Tapi ya daripada suuzon kan, ngapain sih di password hahaha.

Maka, kata nabi. Bila ingin menikah, pilihlah yang baik agamanya. Yang sholat wajibnya tidak pernah tinggal. Kadang sayapun miris dengan beberapa anggota keluarga yang berceletuk, "Sudahlah itu temanmu kan banyak, pilih saja salah satu. Kerjaan mereka sudah mapan, keluarga mereka juga baik-baik, anak MAN, kan?". Seolah iya, anak MAN dan agamanya sudah benar-benar baik. Saya menyayangkan, saya sendiri sebagai anak MAN merasa kurang ilmu, tidak tahu apa-apa. Apalagi mereka yang saya lihat diajak sholat saja masih uring-uringan.


Itulah bukti bahwa harta, tahta, jabatan hanyalah hal duniawi yang akan tergerus oleh waktu. Hanya pemahaman agama yang bisa menjamin masa depan. Kita tidak bisa mengubah seseorang, apalagi tabiatnya. Jadi, jangan berharap menikahi seseorang lalu dia akan menjadi begini, begitu sesuai keinginanmu.


Sering saya bertemu jawaban, jangan menikahi orang yang merokok, karena kamu tidak suka ke perokok. Tapi, suatu saat ia akan berubah. Ketika punya anak ia akan tahu diri dengan tidak lagi merokok demi anaknya. Demi anaknya? Bahkan demi dia sendiripun dia tidak mau berkorban, konon demi anak?


Perubahan pola pikir macam ini yang akhirnya saya sadari, bahwa menikah tidak semudah itu. Harus ada tujuan pernikahan yang saya dan pasangan punya. Tidak hanya sekadar halal ke mana-mana berdua, ada value yang dihasilkan di keluarga, yang memberi kebaikan bagi ummat. Sungguh, visi dan misi pernikahan itu perlu disamakan. Semoga yang menjadi imam saya membaca ini ya hahahaha.


Selamat menyelami 25+++. Semoga banyak keberkahan di umur yang semakin menua. Seharusnya ibadah semakin meningkat, sedekah semakin giat, dan kepada Allah semakin taat.


Mohon doanya, agar penulis dan semua pembaca yang masi single dipertemukan dengan pasangan halalnya. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.




sumber foto: canva.

Comments

  1. Saya yg bulan 6 berumur 24 sudah mulai memikirkan hal2 semacam ini. Tp tulisan kayak gini emang jd refleksi tentang kehidupan, tujuan dan apa yg sebenarnya dicari dalam hidup

    ReplyDelete
  2. Sebagian besar masyarakat di Indonesia memang memiliki asumsi pendidikan tinggi berbanding lurus dengan pekerjaan dan penghasilan.
    Padahal hal tersebut tidak bisa dijadikan patokan.
    .
    Kalo di keluarga kami, yang terpenting adalah menumbuhkan semangat menuntut ilmunya.
    Karena menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim sejak lahir hingga meninggalkan dunia.

    Esensinya terletak pada kepatuhan terhadap perintah Allah untuk menuntut ilmu. Bukan asbab pekerjaan

    ReplyDelete
  3. Yang jelas jangan mau pergi jalan make sepatu orang lain sa. Gak pas payah.

    Menetapkan standart dari kacamata Kita kadang jadi pemicu kerusuhan.

    Pernikahan memang mempersatukan orang yang berbeda. Tapi kata Allah Kan Aku sudah menciptakan kamu berpasang-pasangan. Dan Allah Kasi Kita segala hal yang sebenarnya Kita butuhkan walau kadang bukan yang Kita inhinkan. Selain Iman, menghadapi pernikahan butuh Ikhlas dan penuh kesadaran.

    Semoga dipertemukan Allah dengan jodoh yang baik ya sa. Amin..

    ReplyDelete
  4. Luar biasa dek Elsa..
    Memang sebelum menikah, banyak hal yang harus dipertimbangkan.
    Bahkan ketika sudah ajeg dengan pasangan di tahun ke 10 pernikahan misalnya, kita bisa saja mengalami turbulensi ketika hidup berubah. Misalnya tadi hidup jauh dari orangtua, sekarang dekat dengan orangtua. Ada banyak hati yang harus dijaga . Lalu bertanya pada diri sendiri, lah... Hatiku siapa yang menjaga..
    Hahaha
    Jadi curcol

    ReplyDelete
  5. Semua itu masalah hidup. Apapun pilihan dan keputusan kita ga akan lepas dari permasalaham hidup. Pilih A ada masalah, pilih B ada juga, pilih C pun ada masalahnya, gitu terus sampe mati hehe. Jadi jalani n nikmati aja... Hhihi

    ReplyDelete
  6. Kk di usia 25 pernah ngerasain kayak gini juga terus akhirnya pasang target kapan mau nikah, eh udah lewat umur target pun belum nikah2 juga ya akhirnya tawakal sajalah, allah pasti akan memberikan jodoh buat kita di saat yang tepat :).
    Oiya mengenai kriteria calon suami, jangan berpikiran bahwa suami yang perokok pas punya anak akan berhenti merokok, belum tentu sih akan seperti itu karena itu sudah kebiasannya, lebih baik cari calon suami yang memang tidak merokok atau berhenti sebelum ia menikah, hehe..semangat mencari jodoh dunia akhirat ya elsa :)

    ReplyDelete
  7. Aaamiin ya Allah.. Semoga segera dipertemukan dengan pasangan halal yang sejalan ya..
    Mencari pasangan memang tidak mudah, tapi mudah-mudahan cepat dipertemukan.
    Dan Selamat memasuki 25++ ya Elsa..

    ReplyDelete
  8. Momen bertambahnya usia memang bagus untuk muhasabah diri. Sebab idealnya, semakin meningkat umur insyaallah semakin bijak pulalah pemikiran dan semakin lembut pula hati sebagai perempuan. Btw, pesan mak saya, 2 hal yg membuat orang bersusah hati, berpikir tentang masa yang sudah dilewatinya dan masa yang belum dijalaninya. So, do your best now. Barakallah fi umrik, Elsa

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

TRUST ISSUE? sehat nggak, sih?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!