Skip to main content

#IniUntukKita - 5 Kesalahan Keuangan Generasi Milenials


Milenial menurut Wikipedia adalah orang yang lahir di antara tahun 1980-1990. Kamu termasuk juga, kan? Hehe. Oke, first step untuk semua milenial yang ada diluar sana, kita harus memahami dulu sebenarnya seberapa penting keuangan dalam hidup kita. Hal ini tentu erat kaitannya dengan literasi ekonomi, sebagai alat untuk mengubah mindset dari tidak tahu menjadi tahu mengenai ekonomi. Lalu dari mana adanya indikasi milenial tidak melek literasi ekonomi? Mudahnya, masih sering kan kita mendengar berita investasi bodong puluhan juta. Ngeri memang, tapi begitulah kenyataan minimnya literasi kita. Apalagi setelah indonesia merdeka ke 75 tahun ini, bagaimana nasib milenials ke depannya? Itulah perlunya melek literasi ekonomi, sebagai upaya preventif untuk terjadinya hal buruk di kemudian hari (lihat infografis dari validnews). Perlu adanya kemerdekaan keuangan, dimana ada keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran. 

Gaya hidup dinamis tapi minimnya literasi ekonomi membuat milenials sulit mengatur keuangan. Bahkan tidak tahu perbedaan kebutuhan dan keinginan. Kalau begini saja tidak mengerti, inilah yang menyebabkan muncul lebih besar pasak daripada tiang. Solusinya dong, Sa! Sabar, tenang... Kita bahas kesalahan milenials dalam keuangan beserta solusinya ya.

 

Pertama, banyak milenials merasa, ah YOLO (you only live once) aja deh! Dengan alasan, rezeki mah ada aja, jadi ya gimana nanti. Wah kalau sudah begini, saran saya sih, coba kamu lihat berapa banyak sih yang meninggal di usia muda? Banyak. Karena meninggal tidak pandang usia :)). Tak hanya YOLO, fear of missing out atau FOMO, artinya takut kudet, ketinggalan zaman, dan hal materialistik lainnya. Misalnya kamu rela antre untuk membeli iphone keluaran terbaru, beli sneakers, kalau kamu ada budgetnya ya silakan. Asalkan tidak menjadikan kamu kelaparan atau berhutang.

Hasil riset oleh Credit Karma di 2018 menyatakan bahwa 39% anak muda rela berhutang demi gaya hidupnya. Duh, jangan sampai deh! Dunia ini emang enggak akan habisnya sis :)). 

Keduamenganggur tetapi tidak menghasilkan. Sejak covid, banyak yang menyayangkan sulitnya mencari pekerjaan. Mulai dari perusahaan banyak yang pailit, UMKM pun jika tidak mengerti strategi akan gulung tikar juga. Tapi, coba kita lihat lagi, mau tidak kita sebagai pengangguran mencari keran usaha lainnya? Misalnya jual makanan, jasa desain grafis, atau  reseller. Tidak perlu menyongsongkan badan di pinggir jalan. Via HP saja, whatsapp, instagram dan banyak marketplace lain yang bisa membantu. 

Ketiga, pengelolaan keuangan yang salah. Ketika gajian, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mengucapkan syukur, kemudian membagi gaji ke dalam pos pengeluaran. Bebas mau 70:15:15, atau 60:20:10:10, tergantung bagaimana keadaan kamu. Karena berbeda orang yang merantau dan bayar kosan; dengan orang yang masih tinggal dengan orang tua. Yang terpenting, minimal punya dana darurat, kalau masih single minimal 3x pengeluaran perbulan. Kalau sudah menikah 6x pengeluaran. Penuhi itu dulu ya, tabung terus tiap bulan. 

Poin terpenting juga adalah kewajiban harus dipenuhi. Seperti hutang, maksimalnya 30% dari pendapatan ya. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Apalagi untuk membeli barang mewah hmmm. Untuk biaya kebutuhan sehari-hari seperti listrik, air, itu termasuk ke kebutuhan, usahakan 50%, kemudian cicilan 30%, 5% bisa kamu sedekahkan, 5% pengembangan diri (ikut workshop, beli buku), dan 10% untuk investasi.

Berhutang demi gengsi, ya kesalahan no 4 yang sering sekali saya temui. Lihat teman HP baru, enggak mau kalah, beli juga. Tetangga kulkas baru, beli juga. Padahal ya, semakin banyak barang kita, hisab kita di akhirat semakin lama. Berhutang bisa jadi cash maupun cashless seperti kartu kredit, pinjaman online juga banyak berseliweran. Nah, itu jangan tergoda. Boleh kalau memang yang kamu beli untuk produktivitas kamu. Misal beli mobil, itu juga yang second, karena perlu mengantar anak yang bolak-balik harus ke rumah sakit, karena kalau pakai ojek online, biayanya akan lebih mahal. Iya cicilan minimum, tapi? Kalau kita belum butuh, gak usah ya. Kebanyakan begitu sampai gali lubang tutup lubang, bahkan tidak jarang ada yang rela berhutang demi pernikahan, padahal hari setelah pernikahan adalah hari-hari mulainya babak baru, loh kok baru sehari hidup bareng udah mikirin hutang, kasian toh bojomu :(

Kelima, investasi yang salah. Banyak dari kita yang mudah sekali percaya dengan investasi bodong, iming-iming dapat bagi hasil 20% per tahun, lihat dulu laporan keuangannya, terdaftar di OJK-kah? Investasi yang baik adalah yang dipelajari dan diterapkan. Riset tirto.id 2019 menyatakan, 44% milenial, berinvestasi satu kali dalam setahun atau dua tahun. Sedikit sekali ya. Hmmm. Semoga setelah membaca ini kamu jadi melek investasi hehe. Sebelum investasi pastikan cashflowmu aman, tidak ada cicilan yang menghambat, dan sediakan uang khusus atau uang dingin. Investasi sekarang juga sudah bisa loh mulai dari Rp50.000;. Berikut macam-macam investasi.

Banyak ya? Banyak banget sebenarnya kalau kita melek literasi ekonomi. Nah, semua produk itu kalau dibandingkan kamu akan pilih yang mana? Yang jelas sih yang sudah dijamin pemerintah deh! Hehe. APBN dikelola untuk menghasilkan pembangunan produktif, sebagian didanai oleh pembiayaan hutang, dan kamu bisa investasi disitu! Mudahnya sih investasi di SBN aja. SBN adalah Surat Berhutang Negara, produk investasi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Nah, kita bahas Ritel saja ya, karena ritel saja yang bisa dibeli oleh milenials seperti kita. Non-ritel biasanya berbentuk perusahaan.

SBN terdiri dari Surat Utang Negara (SUN), dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), berbeda di bagian AKADnya. Berikut perbedaan selanjutnya!






Info terbaru nih, Sukuk Ritel 013 akan ada loh di Agustus ini! Jangan ketinggalan ya! Mau tau lebih lanjut? Buka instagram DJPPR dan websitenya di DJPPR Kemenkeu. Cara belinya gimana? Keuntungannya? Ini pengalaman pas beli ST006 ya! Terserah kalian mau beli dimana, saya sih di bareksa, karena mudah untuk daftar dan akses pembeliannya. Lihat caranya di bawah ini ya.

View this post on Instagram

Halo Rekans! Hari ini Pemerintah telah menetapkan hasil penjualan SBN Ritel seri ORI017. Meskipun di tengah krisis kesehatan dan keuangan di masa pandemi, Pemerintah tetap sukses menjual ORI017 secara online kepada #RekansDJPPR individu masyarakat Indonesia. Ini menunjukkan ORI017 mampu menjawab kebutuhan investasi saat ini yang mengedepankan kemudahan, kepastian dan rasa optimisme, serta tentunya imbal hasil yang menarik. Pencapaian ini juga menjadi bukti menguatnya habit investasi #RekansDJPPR, dimana sampai saat ini tetap setia berkontribusi pada penguatan ekonomi negara melalui investasi ORI017. Terima kasih pahlawan negara! kontribusimu adalah wujud nyata untuk bersama-sama menjaga Indonesia. Apakah kamu sudah siap untuk Investasi SBN Ritel berikutnya? Kalau penerbitan berikutnya adalah SBN Ritel jenis syariah, kamu lebih pilih Sukuk Tabungan atau Sukuk Ritel? Tulis jawabanmu di kolom komentar dan sertakan juga alasannya ya! #IniUntukKita #InvestasiNegeriku #MenjagaNegeriLewatInvestasi Infografis : DJPPR/@anindiye

A post shared by DJPPR Kementerian Keuangan RI (@djpprkemenkeu) on

Postingan diatas hasil dari ORI017 kemarin. Daripada kamu mengkritik, "Apalah Indonesia ini ngutang aja ke sana ke mari, ganti presiden nambah hutang". Lah gimana, kan masyarakatnya tidak mau meminjamkan uang pada negara :)). Kurang percaya apa gimana sis? Mending mulai investasi di SBN yuk! Mulai dari 1 juta rupiah! Semakin optimis dong untuk pembangunan Indonesia yang lebih baik melalui creative financing, wah apaan tuh? Yaitu pembiayaan yang tidak bersumber dari APBN, kerjasama pemerintah dan bahan usaha (KPBU). Agar dana yang dikeluarkan oleh APBN tidak begitu besar, bahkan  targetnya di 2020 akan dibangun waste management di beberapa kota. So proud! semoga akan berjalan dengan baik.

Creative Financing


Sumber: 

Comments

  1. Yuklah investasi di SBN. Memang sih blm populer di kalangan milenial. Padahal terjangkau ya, mulai 1 jutaaan. Selain bisa bantu negara, juga lebih menguntungkan dibanding investasi lainnya, pastinya juga aman ya 🙏😊

    ReplyDelete
  2. Wah saya kelahiran 81 akhiir... masih milenial lah ya hihi... bener tuh, ngerasain juga ada sindrom YOLO and FOMO. Nice quote, investasi yang paling baik adalah investasi yang dipelajari DAN DITERAPKAN. Tfs about SBN nya yes, mudah2an setelah dipelajari bs diimplementasikan untuk masa depan.

    ReplyDelete
  3. Rela berhutang demi gaya biasanya melanda para milenial yang masih labil ya kan sa.. hihihi
    Mungkin masih terjebak dalam pemikirannya bahwa gaya hidup adalah prioritas. Memang susah loh nyuruh tobat orang yang begini..

    ReplyDelete
  4. Meskipun saya milenial untungnya gak masuk ke dalam golongan YOLO dan FOMO duh jauh2 deh dari golongan itu, memang edukasi akan literasi keuangan itu penting banget, masih banyak orang yg percayain duitnya di broker saham illegal, forex, dan bitcoin yg belum ada izin resmi dari OJK

    ReplyDelete
  5. Bagus banget ini, buat saya jadimelek akan literasi ekonomi,. Banyak hal yang ga ngerti dan ga tahu dan disini baru tau...masyaallah..makasih banyak ya mba sharingnya.

    ReplyDelete
  6. Setuju deh, generasi milineal dengan generasi sebelumnya beda banget Pandangan soal uang, kalau sekarang sangat konsumtif dan lebih karena gengsi bukan kebutuhan

    ReplyDelete
  7. Beli sukuk memang menguntungkan ya, baru tau ternyata djppr buka pembelian sukuk ya dek

    ReplyDelete
  8. kerennn banget penjelasannya 😍

    ReplyDelete
  9. Kesalahan terbesar aku tuh karna tidak mencoba mengenal kakak Elsa lebih dalam :(

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan