Skip to main content

Cerita Keluarga dari Hutan


Sering sekali dalam hidup ini kita dibebankan pada hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan. Mulai dari buang sampah sembarangan, penggunaan kapas sekali pakai, hingga pembalut sekali pakai yang mungkin memudahkan, tapi tidak dapat diuraikan menjadi zat terkecil. Malah menambah frekuensi sampah di TPA. Apakah kita merasa bersalah? Ya, beberapa orang mungkin tersadar lalu berubah, tetapi yang lain? Menjalaninya begitu saja, lalu yasudah dipakai lagi. Concern yang rendah akan lingkungan membuat saya mencoba mulai sharing tentang pentingnya mengganti pembalut plastik menjadi pembalut kain. Kalian penasaran? Boleh cek di RuangSayangBumi, selain menyediakan menstrual pad, saya juga menyajikan cotton pad sebagai pengganti kapas, dan wetbag, pengganti pouch plastik untuk membawa apapun yang bersifat mudah bocor, contohnya untuk tempat menstrual pad yang belum dicuci.

Hutan yang ada di Indonesia tidak sekadar hanya pohon, banyak sekali barang yang bisa kita jadikan jika berasal dari pohon. Mulai dari membuat kertas, tisu, bahkan hingga furniture yang kita gunakan sehari-hari di rumah. Lalu, apa kontribusi kita untuk hutan? Tempat yang digunakan bersama makhluk lain, jika kita keruk terus-menerus tentu akan habis, karena sumber daya alamnya tidak dapat diperbaharui. Cara termudahnya, yuk simak!


Pertama, mulailah menghemat apa yang bisa dihemat. Pakai barang sampai habis. Beli seperlunya, jangan sampai panic buying, membeli hal yang tidak perlu, tetapi khawatir tidak akan ada lagi barang seperti itu yang tersedia. Contohnya seperti hand sanitizer di awal covid-19 muncul, padahal sekarang? Semua dijual murah! Jadi, untuk apa panic buying? Terpenting, bedakan antara kebutuhan, keinginan. Dua hal yang berbeda. Keinginan tidak dapat ditunda, sedangkan kebutuhan harus berada di prioritas yang paling utama kita kerjakan. Kalau baju masih bisa digunakan, ya dipakai saja, dijahit, jangan langsung beli baru! Simak selengkapnya di Lemari Penuh Sesak, Kok Bisa?


Jika memungkinkan, buat sesuatu do it by yourself, banyak sekali sesuatu yang bisa kita buat sendiri, menanam dari rumah, mulai dari sayuran, tanaman. Membuat rak dari kardus bekas, banyak loh video yang bisa kita lihat baik di youtube maupun instagram tentang how to, bagaimana cara membuat sesuatu. Jadi, yuk mulai gunakan media sosial untuk lebih banyak belajar! Hehe.



Jaga apa yang bisa dijaga. Bumi sudah sangat baik pada kita. Melalui hutan banyak sekali yang bisa kita dapatkan. Feedback kita ialah bagaimana membuat hutan kembali asri, tidak melukainya. Terkhusus siapa? Semua orang! Untuk yang suka jalan-jalan, yuk mulai kunjungi hutan dengan barang minim sampah, bawa botol minum, kompor, dan jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak. Bahkan tidak jarang ada yang berkunjung ke hutan lalu menyampah, atau merusak bahkan, mencoret pohon, mengukur nama diri sendiri dan pasangan. Ah... sudahlah kawan, kasian hutan :(

Nenek saya termasuk orang yang sudah lama sekali tinggal di salah satu desa di Pematang Siantar, belakang rumahnya? Hutan, banyak pohon, diseberangnya juga. Mau melihat pohon apa? Bermacam-macam, jika hari sudah sore, kami sering ke hutan untuk mencari buah pala bahkan manggis yang jatuh ke tanah, kadang kalau sedang ada rezeki, ketemu durian yang jatuh, masyaAllah... Sebenarnya bukan hutan sih, lebih ke ladang ya... Karenakan apalah kami ini tidak mungkin punya hutan, bukan siapa-siapa juga wkwkwk. Lalu bagaimana nenek dan keluarga besar kami menjaga hutan secara turun-temurun? 

Melestarikan apa yang ada. Pohon yang terus bertumbuh kami kembangkan sebaik mungkin, jika sudah tidak memungkinkan, dilakukan penebangan dan diganti dengan pohon lain. Alhamdulillah, dari modal itu saja nenek sudah bisa membiayai hidupnya sehari-hari tanpa bantuan anaknya. Hal yang patut ditiru, karena ketika sudah berumur, apalah lagi yang kita cari didunia ini selain amal, ya barangkali ada yang ingin menikmati masa pensiun dengan berjalan-jalan ke sana ke mari, tapi, ya sebenarnya kehidupan di masa pensiun itu murah, kalau kita tidak banyak mau hehe.

Minimal 2 hari sekali, ladang selalu dikunjungi. Apapun yang ada di ladang biasanya kami manfaatkan sebaik mungkin, pala dijadikan manisan. Mangga, kuini, ya dimakan langsung hehe. Sebisa mungkin kami tidak mengurangi apapun yang ada di hutan. Tidak mencelakai, merusak. Hal yang masih terus dijaga sejak dulu selalu dijaga.

Tidak perlu internet, begitulah adanya kehidupan di desa, bahwa ada saja yang bisa dilakukan dan akan tetap hidup walau mungkin hidup belum tersentuh dengan internet. Mau masak? Kangkung ada, kunyit, cabai, terong, beraneka ragam dan tentunya terkadang bikin penasaran kalau ada yang mati huhu. Tapi itulah dukanya, sebagai manusia harus bisa menerima kenyataan bahwa ya dalam hidup ada mati dan tumbuh lalu hilang berganti. Banyak yang menawarkan untuk dijual, dijadikan tempat tower sebuah jaringan telekomunikasi, dan mendapatkan keuntungan pertahunnya, tapi nenek menolaknya hehe. Itulah cerita dari hutan di kehidupan keluarga kami.

Aku jauh kak, gimana bisa berkontribusi? Tenang! Ada, adopsi hutan! Apa itu? Gerakan kerjasama atau gotong royong, mulai dari menjaga flora, fauna, dan keanekaragaman hayati didalamnya. Bagaimana caranya? Silakan klik link berikut, Adopsi Hutan bekerja sama dengan Kitabisa yang mengajak teman-teman semua untuk ikut aktif berkontribusi.


7 Agustus kemarin juga merupakan hari hutan Indonesia! Sebagai pengingat bahwa Indonesia penuh dengan hutan berjenis hutan hujan tropis. Dan harapan akan masa depan Indonesia, mulai dari air, udara bersih, flora, dan fauna, hingga sumber pangan, obat-obatan, hingga ke akar kebudayaan.

Jadi, tunggu apalagi? Yuk berkontribusi sekarang! Info lebih lanjut silakan kunjungi https://harihutan.id/ ya :))



Sumber foto:
Canva

Comments

  1. wuaaah adopsi hutan jadi solusi buat permasalahan hutan saat ini ya dek? semoga indonesia bsa lah balik kemasa kejayaan dulu. hutannya masih benar2 jauh dri penebangan liar dan karhutla juga.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah sekarang udah ada jalan keluar simpel untuk kita menjaga hutan ya sa..
    Meskipun jauh, namun kontribusi kita akan terasa dan bermanfaat bagi keberlangsungan hutan yang asri.

    ReplyDelete
  3. Semangat menjaga hutan yuk,, setuju.. Salah satunya dg membuat sesuatu itu sendiri ya, DIY. Memanfaatkan barang² bekas utk jadi lemari minimalis, gak melulu berbahan kayu dari hutan.

    ReplyDelete
  4. Memang edukasi hutan ini memang harus diberitahu kepada masyarakat luas ya kan. Kadang saya mikirnya gini. Gimana ya mereka bisa ikutan sadar untuk memelihara hutan?
    Jatuhnya pada kesadaran diri masing-masing deh.

    ReplyDelete
  5. Kalau hari hutan tgl 7 Agustus, hari masyarakat adat tgl 9 Agustus hehee, jadi saya sendiri udah memulai menjaga lingkungan dgn membuat sendiri barang2 keperluan sehari2 utk dipakai sendiri, lama2 krn ingin menularkan hal baik akhir nya brg2 itu diproduksi bnyk tapi terbatas dan dijual, mulai dr hand sanitizer, produk bodycare, sampai totebag utk mengurangi sampah plastik.

    ReplyDelete
  6. Itulah enaknya tinggal di kampung mau masak semuanya sudah tersedia dari hutan ya kan, sudah gitu sehat lagi kalau tinggal di kampung tu, memang tugas kita semua menjaga hutan tetap lestari agar bahan pangan dari tumbuhan dan fauna tetap ada

    ReplyDelete
  7. Mau lah adopsi hutan biar bisa berpartisipasi menyelamatkan hutan.

    ReplyDelete
  8. Jadi inget awal² pindah rumah. Lokasi rumah dulunya adalah kebun rambutan + hutan rawa gitu. Banyak monyet gitu deh. Pas udah alih fungsi jadi perumahan akhirnya monyet2nya pd migrasi ke wilayah yg masih berupa hutan.

    ReplyDelete
  9. Setuju banget manfaatkan yang sudah kita miliki ya tidak perlu banyak membeli barang yang akhirnya tidak terpakai

    ReplyDelete
  10. Setuju... Hemat apa yang bisa dihemat. Dan do it by yourself untuk menjaga lingkungan.

    Adopsi hutan ini solusi yang baik. Kalau bukan kita, siapa lagi? Merawat dan menjaga hutan untuk generasi selanjutnya.

    ReplyDelete
  11. keren ya adopsi hutan.
    bukan hanya adopsi anak saja, tapi adopsi hutan pun bisa membantu melestarikan hutan kita.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan