Skip to main content

9 Penyebab Seseorang Futur, Apakah Kamu Merasakannya?

Beberapa bulan terakhir walaupun masih pandemi, tidak tahu rasanya malas saja begitu membaca buku yang bertengger di rak padahal masih banyak sekali yang belum selesai. Bahkan ada yang masih dipinjam dari orang lain, ya Allah maafkan :( Tidak tahu mengapa, mungkin ada perasaan kurang tertarik atau merasa sudah jenuh dengan aktivitas yang ada, sehingga membaca dirasa semakin membuat hidup ini jenuh. Padahal buku kan jendela dunia. Lalu ditegur sama bloger yang suka membaca hehe.

Rasanya memang ada yang kurang, kalau biasanya membaca, menulis, ini menjadi nihil. Banyak hal baru yang terlewat begitu saja tanpa ada tambahan asupan ilmu di hidup saya ketika tidak membaca buku. Baca artikel? Tentu. Postingan akun favorit? Ya! Tapi mengapa buku yang sudah dipilih dan dibeli dengan uang hasil jerih payah sendiri disia-siakan? 

Gambaran diatas adalah contoh real dari rasa malas dalam tubuh. Kalau di agama Islam, rasa malas akan berbuat kebaikan disebut Futur. Tahukah kamu apa itu futur? Futur adalah malas dalam beribadah bahkan berhenti dari aktivitas kebaikan. Seperti yang dulunya rajin sedekah, kini agak jarang, alasannya covid-19. Yang dulu meminta di Tahajud sesering itu untuk berharap diberikan jodoh terbaik, sekarang sudah menikah, ibadah malamnya menghilang. Banyak sekali hal yang berubah, tidak terasa, tapi nyata adanya. Itulah futur.

Apa sebenarnya penyebab dari munculnya futur ini? Apakah hanya pengaruh setan? Atau ya kondisi fisik juga bisa memengaruhikah? Baik, insyaAllah akan kita bahas ya...

Pertama, hilangnya keikhlasan. Ingat lagi, kita hidup untuk mencari Ridho Allah. Sempat beberapa minggu yang lalu, sewaktu mengisi formulir saya ditanya, kenapa kamu mengambil ini? Ya, jujur hanya karena butuh gelarnya saja. 2 hari kemudian, pengumuman. Saya ditolak. Teguran? Iya, nyatanya Allah ingin menolong saya dibandingkan jika saya lolos maka waktu saya akan terbuang sia-sia. Uang apalagi. Karena sayapun tidak biasanya berniat begitu. Langsung plek! Secepat itu jawaban Allah. Dari situ saya semakin fokus akan hal yang memang benar-benar ingin saya raih karena Allah.

Kedua, lemahnya alasan mengapa kita harus melakukan hal tersebut. Contohnya, dahulu sekali sebelum pandemi, banyak kajian bertebaran di masjid di kota Medan ini. Ikut sana, ikut sini. Lambat laun gaya pakaian berubah, dari yang dulunya biasa saja, sekarang menjadi syar'i, Alhamdulillah. Seiring berganti waktu, sudah tidak ikut kajian lagi, tetapi pakaian sudah berkurang syar'inya. Alasannya yaa tidak ada yang mengingatkan, begini begitu. Allahu Akbar. Ingat, mengapa kita berdandan syar'i karena itu anjuran Allah untuk menjaga kita, bukan sebagai tujuan dari kita kajian.

Ketiga, rasa cinta pada dunia yang begitu besar. Banyak yang bilang, "haduh enggak usah repot-repot deh mikirin biaya pendidikan anak, biaya pensiun, jalani aja, ada kok rezekinya". Ini sering sekali saya baca di postingan influencer yang peduli keuangan, bahkan di akun keuangan itu sendiri. Padahal mengapa harus dipersiapkan? Karena sebagai bentuk tanggung jawab kita terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah. Karena memang pada akhirnya Allah tidak suka segala bentuk foya-foya. Dan akan ditanyakan di hari perhitungan nanti, kamu dapat uang dari mana, dikemanakan, dll. "Udahlah uang ada aja, nikmatin aja kali". Iya dinikmati, tapi kita juga perlu mempersiapkan yang lebih baik untuk generasi setelah kita. 

Dulu saya diajarkan mengaji, les ini itu, anak saya? Tentu saya bertanggung jawab pada anak saya, pendidikannya, kehidupannya. Kebayang enggak sih kalau orang tua meninggalkan anak tanpa ada bekal apapun? Kebanyakan anak menjadi maaf kurang beres, karena tidak ada yang mendapatkan tugas pengganti orangtuanya. Kecuali, jika ada obrolan, kalau saya meninggal, tolong saya titip dirawat anak saya. Entahlah ini masih menjadi pro kontra. Cuma saya pribadi prefer mempersiapkan diri saja. Karena kalau bukan orang tuanya yang berusaha, siapa lagi? Mengharapkan orang lain? Pemerintah?

Keempat, fitnah atau cobaan. Ini beragam. Mulai dari suami yang tidak mengingatkan, yang tidak mendorong istri untuk selalu berbuat kebaikan. Anak yang selalu rewel, tapi itulah ceritanya. Bagaimana caranya agar kita tidak futur dengan cobaan tersebut.

Hidup di tengah masyarakat yang rusak juga memengaruhi futur atau tidaknya kita. Jika kita hidup bertetangga penuh dengan drama dan gosip sana-sini. Apa kamu yakin ketika kamu tidak ada bersama mereka, kamu tidak akan menjadi topik obrolan mereka? Jika sekeliling kita baik, maka insyaAllah kita juga kecipratan kok amalan baik itu. Bahkan pernah saya baca postingan mas Gun, sebelum menikah, dia sudah survey beberapa perumahan, untuk melihat bagaimana lingkungan keluarganya kelak, anak-anaknya. Berasal dari keluarga yang sopan, mengerti agama atau tidak. Padahal istrinya juga belum ada. Segitu pentingnya tetangga itu.

Berteman dengan orang yang rendah keinginannya untuk berbuat kebaikan. Sering tidak kalau berteman dengan orang yang omongannya kasar, maka refleks sesekali omongan itu bisa keluar dari mulut kita juga? Ya. Saya mengalami itu, Sewaktu kuliah di Bandung, kata-kata yang keluar dari mulut teman-teman saya ya bisa kamu tebak ya mojang jajaka Bandung hehe, yang sopan mah ya sopan sekali, yang kelewatan juga ada. Dan itu terkadang terbawa saya ketika kerja di Jakarta, bahkan omongan mereka lebih-lebih kasar menurut saya. Di situ saya mulai sadar, tidak bisa melulu saya berteman dengan lingkungan yang tidak membawa kepada kebaikan. 

Selanjutnya, memakan makanan yang haram, tidak hanya futur, bahkan doa kita juga tertolak ya. Sepele tapi ngeri pengaruhnya. Bahkan kemarin ketika saya ke Brastagi Supermarket, tergiur melihat OREO pink versi cereal kalau tidak salah, syukur tangan ini tidak memaksa untuk mengambil. Saya lihat bahasanya juga seperti dari luar. Sehari berselang, muncul diberanda instagram saya kalau oreo itu HARAM. Bahkan di daerah Nusa Tenggara, ada seorang ibu yang komplen ke pemilik swalayan karena menaruh oreo tersebut di rak dimana cereal halal lainnya ada. See? Di pandangan saya, konsumen adalah raja, tapi, konsumen juga menentukan mana yang baik dan tidak baik untuk dirinya. Terlepas dari produsen dan penjual yang menjual barang tersebut. Harus kita yang lebih aware, bukan penjual.

Tidak punya tujuan yang jelas adalah penyebab futur yang kedelapan. Banyak ya? Iya hehe. Ibarat naik angkot random aja gitu naik nomor berapa, tidak tahu tujuannya ke mana.

Kemudian, menyendiri dan tidak mau menolong orang lain. Mungkin ini yang menyebabkan kita futur, kita terlalu larut dalam diri dan keegoan diri sendiri. Padahal banyak tanggung jawab dan kebaikan yang perlu disebar.

Banyaknya penyebab futur itu, bagaimana menyembuhkannya? Mengikhlaskan niat bahwa semuanya untuk Allah. Selalu bersama orang baik dalam menuntut ilmu. Dan bersabarlah ketika jiwa mengajak berpaling dari ilmu. Semoga bermanfaat!



Semua adalah hasil kuliah bersama Ummu Balqis.

Comments

  1. Ini penting sekali dicamkan ya. Futur itu pasti salah satu sebabnya karena wahn alias cinta dunia. Kalau orang masih kecewa dengan kelakuan makhluk-Nya, pertanda ia masih mencintai dunia yg fana ini, huhuuu

    ReplyDelete
  2. Thanks for reminding ya dek.
    Kadang, ketika udah merasa bahagia, rezeki selalu ada, jadi lupa untuk tetap menggalakkan ibadah.
    Kebanyakan setelah ada musibah baru mendekat pada Allah.
    Ya Rabb..ampuni kami yang sering khilaf..

    ReplyDelete
  3. Jadi bertambah pengetahuan ttg futur kk karena selama ini kk taunya futur itu berhubungan dengan agama aja, futur yg dirasain banget ya rasa malas ini sukanya leyeh2 dan membuang waktu2 :"(

    ReplyDelete
  4. Seringkali kalau kita mau beli makanan itu mesti hati-hati banget. Apalagi di supermarket brastagi yang emang notabene pembelinya banyak noni. Jadi kayak ayam dan daging saja, kemarin aku tanyain sertifikat halalnya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan