Skip to main content

Makna di balik Khitbah dan Pernikahan

 Bismillah...

Di umur segini, saya termasuk agak was-was dengan keadaan sekitar saya yang mempertanyakan kapan saya akan menikah, termasuk dari keluarga inti sendiri. Ketar-ketir, apalagi jarak saya tidak begitu jauh dengan sang adik yang mungkin lebih siap menikah. Tapi, semakin ke sini, rasa khawatir saya berkurang. Justru saya lebih kasian melihat diri saya yang tidak ada ilmu yang saya dapatkan setiap harinya. Ya, misalnya sepele, mendengarkan kajian 5 menit, tapi dampaknya masyaAllah.

Semenjak mengikuti kelas pengembangan diri di Bengkel Diri oleh Ummu Balqis, saya semakin sadar akan tujuan hidup saya. Bahwasanya hidup tidak melulu tentang nikah. Wajib memang, jika sudah sanggup dan dikenakan hukum wajib. Tapi, dianalisis lagi, betulkah saya sudah siap? Atau, tujuan saya menikah itu sebenarnya apa? Anak saya mau dididik seperti apa? Pasangan apa yang saya inginkan? Pertanyaan ini juga pernah saya bahas di postingan Pemikiran di Umur 25.

Menikah adalah salah satu bentuk kesempurnaan syari'at Islam dalam pengaturan naluri manusia, yaitu naluri seksual (gharizah an Naw). Sebelum itu, pendahuluan pernikahan yang penting menurut Ibnu Rusyd (Bidayatul Mujtahid), yaitu:

1. Hukum pernikahan secara syari'at

2. Hukum khutbah pernikahan

3. Bertunangan dengan tunangan orang lain

4. Melihat perempuan yang telah dikhitbah sebelum dinikahi

Khitbah adalah mengajak menikah. Baik dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan, ataupun perempuan kepada laki-laki, namun biasanya laki-laki yang mengkhitbah. Khitbah ini berbentuk pemberitahuan yang diberikan kepada perempuan dan walinya. Yang berhak menerima adalah sang perempuan, kecuali perempuan tersebut telah mewakilkan jawaban kepada walinya. Apa sajakah yang bisa dilakukan ketika masa khitbah?

Setelah khitbah, ada kepercayaan dari wali untuk mengenal calon, hanya saja ada batasan tertentu, tidak boleh berdua-duaan. Boleh juga kita mencari info tentang calon kita tersebut. Karena dilarang interaksi yang berarah ke ketertarikan antarjenis. Paling hanya hal-hal yang bisa terlihat, seperti memberikan CV, apa yang akan dibangun ketika mendidik anak, dll. Khitbah ini juga harus dirahasiakan, karena ada potensi dibatalkan. Sehingga baiknya hanya keluarga inti saja yang wajib tahu. Kecuali untuk walimah ya, itu perlu disebarluaskan.

Islam menganjurkan dilaksanakannya pernikahan. Termasuk hadist dari Abu Hurairah, Nabi bersabda: " Ada tiga golongan orang yang wajib bagi Allah untuk menolong mereka: seorang mujahid (yang sedang berperang) di jalan Allah; orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan dan mukatab (budak yang mempunyai perjanjian dengan tuannya untuk menebus dirinya sehingga merdeka) yang ingin membayar tebusan dirinya". HR. Al Hakim dan Ibn Hibban.

Tujuan pernikahan adalah salah satunya untuk melanjutkan keturunan. Maka dari itu, Islam melarang seseorang hidup membujang (tabattul) yaitu memutuskan untuk tidak menikah, dan menjauhkan diri dari kenikmatan pernikahan semata-mata untuk fokus beribadah saja. Hukumnya adalah makruh. Islam sangat menjaga sekali, bagaimana fitrahnya perempuan dan laki-laki seharusnya bersikap dan menganggap hidup dengan anak sebagai menambah beban.

Setelah Islam mewajibkan menikah, lalu perempuan yang bagaimana yang layak dinikahi?

Pertama, sunnah mencari wanita yang masih gadis/ perawan. Diriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi pernah bersabda padanya, "Wahai Jabir, engkau mengawini seorang gadis atau janda?" Jabir menjawab "Janda", Nabi lalu bersabda, "Mengapa engkau tidak mengawini wanita yang masih gadis agar engkau bisa bermain-main dengannya dan ia pun dapat bermain-main denganmu?". (Muttafaqun 'alaih).

Kedua, sunnah mencari wanita yang subur keturunannya. "Kawinilah oleh kalian wanita penyayang lagi subur, karena aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian dihadapan para Nabi yang lain pada hari kiamat kelak." (HR. Ahmad). Dari mana diketahui seseorang baik keturunannya? Lihat, ibunya berapa bersaudara, sepupunya berapa banyak, begitu pula dari segi ayahnya.

Ketiga, disunnahkan wanita yang baik agamanya. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi bersabda, "Wanita itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena keturunannya, dan karena agamanya. Utamakanlah karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung." (Muttafaqun 'Alaih).

Kemudian, terkait sekufu. Sebenarnya tidak ada ketentuan ini dari Allah, bukan berdasarkan sesuatunya. Berasal dari kata kafa'ah, yaitu kesederajatan atau kesetaraan antara suami dan istri. Di dalam masyakarat kita umumya berarti setara dalam hal pendidikan, status sosial, harta, pekerjaan, dll. Di surah Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman yang artinya, "....Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu....". 

Laki-laki muslim boleh saja menikahi wanita ahlul kitab, yaitu wanita yang menjaga kehormatan diantara orang yang diberi Al kitab sebelum kita dengan maksud menikahinya tanpa maksud berzina, dan tidak pula menjadikannya gundik-gundik (Al-Maidah: 5), akan tetapi muslimah dilarang secara mutlak untuk dinikahi laki-laki ahlul kitab, cek surah Al-Mumtahanah ayat 10. Yang jelas, pilihlah laki-laki yang baik agamanya, toh untuk kehidupan dunia dan akhirat kita.

Suami istri adalah sahabat sejati, bukan bentuknya penjual dan pembeli, mitra bisnis. Sehingga saling mendukung dan menopang. Yaitu keduanya merasa tenteram didalamnya. Jika muncul pertengkaran, maka perlulah dievaluasi kiranya pernikahan tersebut. Allah menciptakan pasangannya itu ya dari dirinya sendiri. Sehingga salah jika menikahi barang, hewan, atau bahkan diri sendiri. Perlulah kiranya kita merasakan sakinah, kedamaian, ketenangan, adanya mawaddah atau kasing sayang dalam pernikahan itu sendiri. Perlu juga ada rahmah, penyayang. Beda dengan pasangan yang selalu berbantah-bantahan. Hal ini terlihat lagi ketika kita berkeluarga diberikan rezeki anak, maka kasih sayang semakin tercurah luas di keluarga tersebut.

Untuk mendapatkan semua hal tersebut perlu kiranya kita memahami hak suami istri dan kewajiban suami istri. Apa saja hak istri?

Pertama, istri perlulah berhias, dipenuhi hak pasangannya, begitu pula sebaliknya.

Kedua, hak mendapatkan nafkah. Dari segi pakaian, tempat tinggal, makanan. Sehingga wajiblah kiranya seorang suami ingat terus akan kewajibannya itu.

Selanjutnya, dipergauli dengan cara yang ma'ruf. Sehingga berinteraksi dan bercampur dengan cara yang baik, keakraban. Berlemah lembut, tidak kasar, tidak menceritakan wanita lain didepan istrinya, dan sebaliknya. Mendapatkan giliran yang adil, sekaligus bagian mahar.

Lalu apa lagi? Tenang... 

Hak suami, suami adalah qowwam bagi istrinya. Suami memiliki satu tingkatan lebih dibandingkan istri. Apapun kondisinya, baik itu gajinya lebih rendah, dia lebih lembut, atau bahkan status artifisial di dunia, tetapi memang Allah sudah menetapkan dia adalah pemimpinnya. Karena tanggung jawab suami akan istri dan anak-anaknya kelak.

Pertama, suami berhak ditaati oleh istri. Haram hukumnya jika istri menolak tanpa alasan yang syar'i. Sebenarnya tidak mudah, tapi itulah sebagai istri kita harus mentaatinya, padahal selera berbeda. Kalau tidak keimanan, ya kita akan membawa keegoisan kita. Akan tetapi Allah memberikan amanah itu kepada suami.

Sangat penting bagi kita karena permasalahan ketaatan istri ke suami, maka perlu legowo dan ikhlaslah ketika berdampingan dengan suami. Maka penting kita lihat bagaimana sikap dan sifat calon pasangan kita. Jangan sampai dia mengajak kita kepada kemaksiatan. Hak berikutnya adalah mendidik sang istri. Suami berhak memberikan hukuman kepada istri, seperti penolakan yang istri tolak tanpa alasan syar'i. Suamilah yang membentuk bagaimana istri tersebut. Begitupun cara menasehati perempuan harus dengan lemah lembut, bukan dengan cara kasar dan keras. Tetapi banyak juga istri yang tidak diajari. Akhirnya istripun tidak tahu perannya bagaimana.

Jika pemahaman agama suami lebih rendah, itulah harus kita ajak suami untuk belajar lebih akan ilmu agama. Istri berhak memberi masukan, saran, tetap saja tanggung jawab dan kepemimpinan ada di tangan suami.

Kewajiban istri dalam rumah tangga, pertama melayani suami dalam perkara yang ma'ruf, menyiapkan makanan dan minuman, perkara yang biasanya ada di rumah. Ditanya mau minum apa, makan apa, itu adalah bentuk khidmat istri kepada suami. Agar suami merasa nyaman bahwa ada yang bisa menenangkan di rumah.

Kedua, mengurus urusan rumah. Tugas domestik, bukan bagian dari tugas suami karena suami yang memberikan nafkah. Nafkah berbeda dengan pelayanan. Bagaimana cara menyajikannya, itu adalah bagian dari tugas istri. Jangan sampai rumah berantakan, maka suami juga perlu mengurus urusan di luar rumah, misal berbelanja di pasar, membeli gas, beli galon, dsb. Namun jika sudah overload, suami wajib membantu, atau bisa saja menyediakan pembantu. Dari tugas inilah anggap sebagai amal sholeh yang dihitung sebagai pahala di hari akhir nanti.

Dunia adalah tempat ujian, ada orang yang diuji dengan hartanya, pernikahannya, anaknya, dan berbagai aspek yang banyak. Tidak ada jalan lain kecuali berprasangka baik kepada Allah. Kita tidak tahu apa hikmah yang ada disimpan Allah. Sampaikan keluhan kita apa adanya kepada Allah. Pertama harus SABAR, kemudian RIDHO, kemudian SYUKUR. Patuh pada suami adalah jalan untuk masuk surga. Carilah amal surgawi lainnya, dunia ini sementara. Pelajari mendalam asmaul husna, tawasul amal sholeh, semoga menjadi jalan terbaik untuk kita yang masih single ini hihi.

Nikah itu kan hukumnya sunnah, jadi harus ada juga hal yang bikin kita terpacu untuk menikah. Karena ada amal sholeh didalamnya. Kemudian, menjadi dominan, ya mungkin bagi sebagian orang akan ada muncul rasa takut menjadi lebih power ketika di rumah, tetapi tenang saja, itu akan berkurang mengikuti peran kita ketika di rumah. Pandai-pandailah menempatkan diri.

Comments

  1. Hal seputar menikah memang mudah trigger orang-orang yang belum menikah. Padahal ini salah satu bentuk privasi seseorang. Semangat buat temen-temen yang berjuang untuk menikah sekarang atau nanti. Kita pasti punya waktu masing-masing.

    ReplyDelete
  2. Wah,,, insyaAllah segera ketemu jodoh ya els.. Sekarang mencukupi diri dengan bekal ilmunya dulu. Isitilahnya memantaskan diri untuk dapat jodoh terbaik dari Allah nanti. Amin.

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah, tabarakallah elsa. Keren deh ilmunya. Aku dulu nikah umur 22 minim banget ilmu tentang pernikahan cuma dulu yang sering aku harapkan bisa sekufu dengan calon suami, Alhamdulillah terwujud. Jadi sekarang mikir semoga nanti anak-anakku nanti bisa dapet ilmu pramenikah lebih banyak daripada aku. Biar makin siap.

    ReplyDelete
  4. DIsunnahkan memperistri gadis yang masih perawan, subur (bisa dilihat dari keluarganya), dan yang baik agamanya. Noted.

    ReplyDelete
  5. Ini nih menarik, istri perlulah berhias, tp kebanyajan berhiasnya saat mo kondangan aja 😀

    ReplyDelete
  6. Teringat sekufu, jadi teringat dengan Zaid bin haritsah anak angkat nabi yang menikah dengan Zainab binti jahsy. Karena tidak sekufu akhirnya mereka bercerai. Padahal keduanya sama-sama orang yang yang yang bertakwa.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!