Skip to main content

Masih Tidak Peduli? Covid Masih Ada!


Wah, sudah masuk di 2021 ya. Postingan saya nih di tahun ini. Alasan postingan ini sih muncul sebagai kegeregetan saya kepada banyaknya masyarakat yang abai atau tidak peduli lagi akan protokol kesehatan. Apakah harus anggota keluarga dan orang terdekat kita divonis covid-19 lalu kita menyadari adanya virus ini? Beberapa bulan yang lalu ketika kasusnya masih tinggi di kota Medan, saya diberikan kebijakan parsial di kantor, Work From Home dan Work From Office, artinya dijeda, beberapa minggu masuk, lalu tidak. Tibalah saya WFO, saya bertemu dengan rekan kerja lainnya. Sebagai manusia yang berakal dan berusaha mencegah masuknya virus, saya menerapkan 3M, memakai masker, mencuci tangan, hingga menjaga jarak dan kerumunan. 

Sudah segiat itu saya, muncullah seorang rekan yang hendak meminjam headset saya. “Mbak, pinjem headsetnya dong”, sembari mengangkat telefon genggamnya. Sontak saya langsung berkata, “Maaf mbak, lagi covid, enggak mau minjemin barang-barang pribadi, hehe”.

Kalian bisa bayangkan bagaimana responnya pada saya? Dia memasang wajah cemberut sambil berujar, “Ih, parah gitu doang, kayaknya enggak segitunya deh. Enggak ada itu covid itu, saudara saya aja dokter di XXX bilang kalau itu hanya blablablaba”. Saya langsung nyeletuk, “Keluarga mbak belum ada yang kena ya? Semoga jangan sampai ya mbak, hehe”.

Hahaha mungkin agak baperan atau apa ya, cuma sebagai orang yang menjaga sekali, headset itukan tempat paling mudahnya virus menempel, kalau ada orang lain yang tidak setuju dengan aturan kita, yasudah tidak perlu meminjampun harusnya tidak masalah kan hehe. Toh untuk kebaikan bersama. Selain tentang covid, awal tahun ini kita dikabarkan dengan kecelakaan pesawat Sriwijaya Air 182. Tentu banyak sekali yang sedang dalam keadaan berduka, ditambah lagi kasus covid 19 yang belum juga mereda. 

Tapi sadar enggak sih berapa banyak yang padahal enggak ke mana-mana tetapi bisa positif terkena virus covid-19 ini? Nah, perlu diperhatikan, ada hal yang mungkin kita merasa biasa saja padahal bisa jadi menjadi pintu masuk virus. Data hari ini masyarakat yang positif covid-19 berjumlah 846.765. Dengan pasien sembuh 965.807, dan meninggal sebanyak 24.645 orang. Tindakan kita yang terkadang kita peduli ini cenderung sebagai gerbang utama masuknya virus, wah dari mana aja tuh? Yuk kita bahas!

 


Pertama, di tempat kerja, sekolah, dan tempat umum lainnya. Hal yang masih sering dilakukan ketika berada di tempat tersebut adalah makan bareng teman, bersama orang lain di dalam lift, menaiki transportasi umum, memakai toilet umum, antrean beli sesuatu, rapat atau belajar kelompok, hingga berfoto bersama dan buka masker. Sering lihat? Hmmm.

 



Tidak hanya itu, bahkan di lingkungan rumah, mulai dari makan bareng keluarga yang tidak serumah, beribadah di tempat ibadah lalu pulang ke rumah, memanggil tukang ke rumah, kumpul keluarga dengan yang tidak serumah, pegawai dirumah pulang pergi, menghadiri arisan, belanja ke pasar atau tukang sayur, hingga membiarkan anak bermain dengan temannya. See? Lumrah sekali hal ini terjadi, tapi sudah bagaimana tindakan kita?

 


Terakhir, agenda acara. Baik dari menghadiri pesta, pemakaman, pernikahan, makan di acara dan buka masker, olahraga bersama, mengunjungi mall, bioskop, restoran hingga berbagi alat makan bersama, menerima tamu keluarga/ teman menginap di ruma. Semua hal di atas jika pernah kita lakukan perlu dipertanyakan bagaimana kita dan keluarga menghadapi kegiatan tersebut? Apakah biasa saja, tetap menerapkan protokol kesehatan atau bagaimana?

Setelah beberapa hal di atas terjadi, kita menyadari dan menjadi parno, bagaimana langkah yang harus di tempuh? Pertama, jangan panik. Pikiran yang grasak-grusuk juga bikin emosi tidak stabil dan tidak jarang bikin overthinking. Usahakan minum yang banyak, tenang, berdoa, dan jangan panik.

Kemudian isolasi mandiri di rumah setelah 5 hari pasca kejadian. Karena rumah sakit di berbagai kota sudah penuh. Petugas kesehatan di Indonesia jumlahnya juga terbatas. Tidakkah kita peduli dengan fakta tersebut? Mereka juga butuh istirahat loh kawan-kawan!

 Jika dalam lebih dari 5 hari muncul gejala di dalam tubuh kita seperti demam, sesak nafas, bahkan muncul ruam, baiklah ini saatnya kita test rapid antigen atau bisa juga SWAB test. Biasanya jika hasilnya positif maka kita akan diarahkan sesuai dengan arahan pemerintah, di rawat dirumah sakit yang menerima pasien covid-19.

 

 

Comments

  1. gapapa sih berhati-hati, walaupun orang lain ga paham biarin aja, hahaha

    ReplyDelete
  2. Memang greget sih liat orang yang cuek begitu. Padahal di sekeliling kita banyak loh orang orang yang sudah menerapkan protokol kesehatan tetap kena juga..
    Apa gak kasian sama orang-orang tersebut ya..
    Apalagi sekarang bayi juga udah banyak yang kena.. hmmm

    ReplyDelete
  3. Awal-awal covid, saya termasuk yang parnoan.
    Bersin dikit, langsung deg-degan.
    Tenggorakan gatal, deg-degan juga.
    Susah BAB, ya gak deg-degan sih, hhihih

    Sekarang, saya lebih santai. Bukan karena gak percaya adanya covid.
    Saya percaya covid itu ada. Adik ketiga saya yang diluar negeri kemaren sempat kena covid, hilang indra penciuman, dan solusi mandiri, Alhamdulilah sekarang sudah sembuh.

    Saya lebih merasa santai karena, mungkin jenuh parno kemaren tu. Dan sekarang mngkin karena sudah terbiasa dan paham bagaimana cara mencegah dan menanganinya.
    Tetap jalankan protok kesehatan, makan yang enak, banyak buah dan sayur, berbuat hal yang bikin hati senang. Terpenting banyak-banyak berdoa.

    Kalo terjangkit parno yang tiba-tiba, saya nonton youtubenya Dr. Tirta, bisa bangkitkan semangat hehehehehe

    ReplyDelete
  4. melihat situasi sekarang, auto nungguin PSBB, sih. Medan kek ngga ada Corona manusianya pada bandel2 sumpah!

    ReplyDelete
  5. Sepupu saya 3 hari lalu meninggal. Hasil swab blm keluar,tp dia reaktif. Rumahnya depannan juga dengan rumah keluarga saya di Lampung. Sebelumnya ya berinteraksi dengan spt biasa, hingga sakit cuma +- 7 hari dan meninggal
    Makin parno saya

    ReplyDelete
  6. Elsa, kita sama ya... sering nemuin orang-orang yang kayak Elsa ceritain di atas. Kl kk buibu di kedai sampah yang suka nyeletuk dan nengok aneh ke kk. Udahlah bermasker, bawa plastik/keranjang belanja sendiri pula dari rumah, sejauh ini kk istikamah. Biar aja, yang menjaga aja ada yg kena apalagi yg abai. Semoga kita sehat selalu ya, Sa ^^

    ReplyDelete
  7. Senyum waktu baca kalimat baru percaya covid ada kalo anggota keluarga kena kak. Ini adalah respon temen2ku waktu aku ceritain keluargaku kena covid dan respon mereka "ternyata bener2 ada ya?". Emang sesuatu yg kalo kita nggak ngeliat langsung atau nggak terjadi ke lingkungan keluarga atau temen deket, itu bikin sulit dipercaya. Tapi jangan sampe udah kena duluan baru jaga diri ya hehehe

    ReplyDelete
  8. Gimana ya, soale awq pertemuan keluarga dan keluar rumah masih, dan pakai protokol, cuma ya itu, ketakutan datang sendiri kalo liat data. Mudah2an dijauhkan lah ya. Sehat utk kita semua.

    ReplyDelete
  9. Itu lah dek, bahkan di kalangan medis aja kopid masih diperdebarkan keberadaannya. Stay safe kita semuaaa

    ReplyDelete
  10. Sebagai survivor covid yang udah sembuh alhamdulillah,, saya tetap menjaga protokol kesehatan kalo kemana-mana. Sempat berpikir kalo covid ini akan menjangkiti semua orang pada akhirnya, kayak flu biasa aja. Kuncinya kuatkan imun. IMHO yaaa

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan