Skip to main content

7 Hal Sederhana yang Bikin Kamu Bahagia

Secara tidak langsung, kita hidup dengan pola pikir yang tumbuh sejak kita kecil, bagaimana pola asuh orang tua, hingga pendidikan dan lingkungan yang ada di sekitar kita. Semuanya saling berpengaruh hingga akhirnya muncullah hal sederhana hingga rumit hasil dari ke semua proses tersebut. Apa yang menurut saya susah, belum tentu menurut kamu juga, begitu juga sebaliknya. Berikut ini 7 hal sederhana yang bisa membuat saya bahagia sebagai perempuan kelahiran tahun 90-an dan hidup di keluarga yang sederhana, apakah kamu juga? Yuk cek di bawah!

Pertama, menurut saya menjadi diri sendiri itu membahagiakan. Saya tidak perlu menjadi orang lain untuk membahagiakan diri saya maupun orang lain. Terkesan mudah, tapi aslinya sulit sekali. Pernah suatu waktu saya dihadapkan pada saudara saya yang sedang menempuh gelar sarjana meminta tolong agar saya mengerjakan skripsinya, saya jelaskan begini begitu, dia bingung, bahkan dia tidak mengerti tentang apa yang ia tuliskan di skripsinya. Lalu saya disuruh mengedit sesuai permintaan dosennya. Kesal? Iya. Mau marah? Iya. Dia tidak mempersiapkan apa yang menjadi tanggung jawabnya dan memaksa saya memutar otak akan apa yang menjadi tugasnya. Alhasil saya burn out, sudahlah saya bekerja di kantor dari pagi hingga sore, terkadang ada shift malam, saya juga membantu orang tua saya dikarenakan beliau hendak ujian sekolah penggerak. Pusing, capek, mau marah. Saya bilang, sudah dulu ya, saya ingin ujian (memang ada ujian di minggu depannya), pekerjaan di kantor juga banyak, ayah juga perlu dibantu.

Saya balas begitu hingga saya dirasanya menghilang ketika beliau meminta bantuan, saya tidak memberikan jawaban pasti kapan bisa diganggu untuk tugasnya tersebut. Ya karena itu bukan kewajiban saya dan saya lelah. Sampai akhirnya orang tua saya marah pada saya akan tindakan saya yang seolah jahat dikarenakan menolak membantu. Padahal, saya juga perlu kan menjadi diri saya sendiri, saya patut sadar dengan kondisi mata saya yang sudah menatap layar seharian dipaksa berpikir keras untuk hal yang bahkan saya tidak mengerti. Bahkan hingga jam 11 malam dan esok pagi saya harus bekerja lagi. Mungkin efeknya saudara saya menjadi tidak enakan pada saya, tapi saya rasa tidak mengapa, karena bermula dari hal beginilah, jika terus-menerus saya menjadi "Yes Woman", bisa-bisa saya jadi tidak mengenal siapa diri saya sendiri, ujungnya mental saya juga terganggu, capek sendiri, ngeluh sendiri, ditahankan sendiri, karena lebih memikirkan perasaan orang lain. Jika kamu berbeda pendapat dengan saya, silakan beri saya masukan jika sikap saya ini kurang berkenan.

Kedua, hidup tanpa tekanan. Tiap umur tentu memiliki tekanan yang berbeda. Ketika mau masuk PTN, tekanan di sana sini, mulai dari sekolah, orang tua yang ambis anaknya pengen jadi ini itu, hingga mentor di bimbingan belajar yang terus memaksa untuk membahas soal hingga mendapatkan PTN pilihan. Tertekan? Saya rasa dulu begitu. Ketika dinyatakan gagal SNMPTN (undangan), saya mati-matian belajar untuk SBMPTN. Baca ceritanya di Tips SBMPTN dan Pengalaman Ikut SBMPTN

Begitu juga di umur 25 ini, dorongan dari keluarga maunya tuh nikah dong, terus punya anak, terus punya adik, gitu terus HAHAHA. Hayooo siapa yang berada di fase ini? Berat? Memang. Apalagi kalau sepupu seumurmu sudah menikah, atau bahkan adikmu ingin menikah, sementara kamu masih santai hahaha. Mungkin ini namanya quarter life crisis, masih ingin ambis mau bekerja, mau kuliah, tapi disuruh berumah tangga. Tapi tenang, di postingan tentang Ada Setelah 20 Tahun dengan membaca kolom komentar yang ada, saya semakin sadar, bahwa umur 30an saya sudah tidak akan seambis ini, jadi tekanan yang ada jalani saja, tidak perlu terlalu di push, walaupun ya anak pertama tetaplah ambisius hehe.

Ketiga, makan yang sehat! It's work. Ketika makan fast food mungkin ada perasaan bahagia dan senang, apalagi kalau menikmati kentang goreng MCD beserta es krim flury nya hmmmm. Ternyata itu hanya mempu bertahan beberapa menit saja. Makanan yang baik dan sehat akan memberikan dampak yang baik di kemudian hari. Sama dengan makanan tidak sehat, beberapa tahun kemudian akan terlihat. Agak berat memang mengurangi tepung, yang biasa makan gorengan, es boba, dan hal lain yang menggiurkan di mata, padahal belum tentu baik untuk jangka panjang. Namun semakin ke sini dan akibat follow Dr Tan, saya sedikit banyak belajar bagaimana sih sebenarnya tubuh kita bekerja, dan apa yang baik bagi tubuh.

Keempat, olahraga. Mungkin keringatan bikin badan bau dan harus segera mandi bikin bete, atau olahragapun sebenarnya mager hahaha. Tapi beda rasanya kalau dalam seminggu tidak ada olahraga, bawaan tubuh tuh akan lemas, seperti mudah capek, apalagi kalau sahurnya makan nasi putih terus WKWKWKWK. Olahraga tidak perlu harus berenang, berlari, silakan jalan pagi 3-15 menit saja di komplek rumah kamu atau ya di sepanjang jalan rumahmu, Insya Allah pulang dari berjalan kaki tubuh makin fresh, biasanya saya menggunakan aplikasi Strava untuk melihat bagaimana sudah olahraga saya dalam sebulan, biasanya ada challengenya juga.

Kelima, membaca buku tanpa gangguan siapapun. Untuk ibu rumah tangga, saya kurang tau, apakah kalian bisa melakukan ini apa tidak apalagi untuk yang sudah punya anak. Mungkin hal ini bisa berlaku di para anak gadis, entahlah. Saya suka keheningan, saya tidak bisa berkonsentrasi jika banyak orang. Yang ada, saya bisa grogi jika salah berbuat. Untuk itu me-time itu perlu sekali. Bebas apapun itu. Mengapa penting? Membaca buku ibarat memberi makan pada diri sendiri, pada otak, dan dampaknya sama seperti makanan, tidak langsung terlihat, namun selalu bermanfaat. Tentu ada pola pikir tambahan yang masuk ke dalam relung diri setelah membaca.

Keenam, mencium bau tanah. Mungkin kedengarannya agak aneh. Tapi ya, sehabis hujan biasanya saya akan keluar rumah demi menghirup udara segar dan bau tanah yang lembab gitu. Entah mengapa, rasa saya menyegarkan dan membuat otak menjadi fresh. Sama seperti menghirup aroma kopi, saya menyenanginya. Murah ya, sederhana sekali malah hehe.

Terakhir, berkebun. Bagi yang kurang suka berkebun mungkin ya biasa saja. Tapi semenjak pandemi, saya dan orang tua saya merawat lebih banyak tanaman di rumah. Mulai dari anggrek, hingga daun jeruk dan pepaya. Ya suka aja gitu, megang tanah walau kata orang jorok, jijik, nanti ada cacingnya, bagi saya ya sebagai manusia kita tentu akan kembali ke tanah, jadi, mengapa harus takut pada tanah?

Saya rasa hal diatas sudah membuat saya cukup bahagia walaupun dengan gejolak yang muncul sana-sini. But, that's life, selagi kita memberikan alasan yang kita rasa baik menurut kita, tidak merugikan pihak lain, go on, bismillah saja. Karena kita hidup bukan untuk menyenangkan orang lain.

Comments

  1. Membaca ini kan sa... Jadi berkaca ke diri sendiri beberapa tahun lalu.

    Rasanya gak enak jadi yes woman.
    Tapi...... Kemudian ada titik, di mana mengikuti semua kemauan orangtua meski terkadang lelah menjadi sebuah jalan bagi kita untuk mencapai ridho mereka. Kemudian kita tersadar, kemudahan yang kita dapatkan karena membantu mereka adalah berkah karena selalu nenuruti mereka. Dan kita sadar bahwa mereka semakin tua. Takut kalo mereka pergi membawa penyesalan kita yang belum memenuhi keinginan mereka.
    Yakinlah sa.. ketika kita menikah dan menurut pada suami adalah kewajiban, maka akan kita rasakan bahwa lebih mudah mencapai ridho orangtua dibanding keridhoan suami. Hehehe

    ReplyDelete
  2. Jadi diri sendiri, hidup tanpa tekanan, makan sehat, olahraga, membaca buku tanpa diganggu, mencium bau tanah sehabis hujan atau pagi2 saat dibasahi embun, dan berkebun. Well noted, Elsa, tfs

    ReplyDelete
  3. artikelnya bagus kak sekarang sy di fase umur 26 thn dimna orangtua pengen kli sy cepat nikah masalahnya pasangannya pun belum ketemu2 :( hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!