Skip to main content

7 Hal yang Disadari Ada setelah 20 Tahun

Jauh sekali rasanya ketika menginjak umur 5 tahun, 10 tahun, hingga 25 tahun hingga sekarang ini. Tentu up and downs sering terjadi. Namun, tidak semua hal baik saya ingat. Bahkan pengalaman tidak mengenakkan yang justru lekat di dalam diri saya. Sempat bingung juga, mengapa ya hal ini bisa terjadi? Karena ada beberapa hal yang membuat saya trauma, takut akan sesuatu, padahal mungkin kejadiannya sudah lama berlalu. Trauma itu semakin terasa ketika umur makin menuju dewasa. Should I go to psycholog? Untuk yang pernah berkunjung ke psikolog, boleh komentar di bawah ya hehehe.

Hal yang baru saya sadari ada ketika menginjak umur 20-an ialah saya begitu AMBISIUS. Untuk mencapai sesuatu, saya selalu menargetkannya. Mulai dari membuat to do list harian, mingguan hingga bulanan dan tahunan. Mungkin bisa dibilang terlalu perfeksionis, tapi ya saya begitu. Mungkin bisa menjadi masukan juga untukk teman-teman lainnya, biar lebih terperinci dan detail dalam menginginkan sesuatu, karena ada tolak ukur dari apa tujuan yang kita buat. Bahkan sangkin ambisnya, punya target sebelum nikah bisa bawa motor dan mobil lengkap dengan SIMnya, dan di awal 2021, it's been finished. Alhamdulillah! 👐 Satu hal yang menjadi kunci dari ambis adalah DIPAKSA, jadi mau bagaimanapun harus memaksa diri sendiri untuk melakukan sesuatu sesuai target yang ingin dicapai. Kalau dulu pas sekolah tidak seambis ini, entahlah mengapa sudah 20 tahun-an semakin ambis yaaa wkwkwk.

Kedua, saya anak pertama. Yaaa, mungkin beberapa orang paham betul tentang ini. Karena ketika pergi ke manapun dengan teman-teman di masa SMP dan SMA, selalu saya yang pulang duluan, maklum orang tua pasti akan menelfon nanyain sudah dimana, sama siapa, pulang jam berapa. Apalagi dulukan masih naik angkot ke mana-mana, jadi harus bisa memperkirakan waktu, kira-kira sampai jam berapa di rumah. Mengapa anak pertama selalu begitu? Faktanya, anak pertama memikul banyak tanggung jawab di pundaknya, tidak jarang terkadang overthinking dengan masalah yang diampuhnya sendiri hehe. Anak pertama ini bisa jadi menjadi tulang punggung keluarga, apakah ada tuntutan yang belum diselesaikan, dan ekspektasi yang diberikan orang tua kepada diri sendiri. Sehingga hidupnya sudah lumayan terbebani, jangan kamu tambahi hehe. Fakta ini merupakan hal yang sudah ada sejak lahir, tapi semakin terasa perbedaannya ketika menginjak umur 20-an.


Pilih-pilih teman. Ya, mungkin dari pembaca semua ada yang merasa kayak.... berteman mah jangan pilih-pilihlah! Ya temenan mah ke semua. Oke, tapi dari perspektif saya, tidak mungkin semua hal kita terima, begitu juga dengan apa yang masuk ke kita melalui media sosial, semua harus terfilter. Mengapa harus memilih dalam berteman? Teman yang dekat dengan kita tentu akan memengaruhi pola pikir dan tingkah laku kita. Sehingga penting juga jika kita memilih pada teman-teman yang baik, dan kalau bisa yang memberikan kebaikan baik bagi dunia dan akhirat. Sewaktu SD memang berteman dengan siapa saja, tapi dengan begitulah, akhirnya saya menjadi korban semi bullying. Ada bos nya, dan saya menjadi anggota yang hanya mengangguk-angguk saja.


Selanjutnya saya sedang mencoba menjadi minimalist person dan zero waste learner. Pengalaman bergabung di komunitas Roda Hijau, Tukar Baju yang merupakan bagian dari Zero Waste Indonesia, serta Lyfewithless. Rasanya gimana? Tentu banyak banget hal baru yang saya sendiripun baru tahu. Lengkapnya bisa dibaca di Mudahnya Pilah Sampah dari Rumah. Bagaimana pakaian yang saya punya harus difilter lagi dengan keadaan sebenarnya, jika tidak digunakan bisa diberikan kepada yang lain, atau bahkan bisa di jual. Sewaktu sekolah boro-boro mikirin sampah, taunya cuma buang sampah pada tempatnya, tidak tahu sampah tersebut bermuara ke mana. Akhirnya ketika kuliah mulai beralih bawa totebag ke mana-mana, buat menghemat plastik sekali pakai, dan rasanya sungguh hemat 💕

Kelima, tentunya suka jalan-jalan. Mungkin ini hal yang diturunkan dari orang tua saya. Dalam sebulan, minimal sekali akan menyempatkan untuk keluar rumah paling tidak cuci mata, tetapi memang ke tempat hal-hal yang berbau alam, bukan tipe mall megah hehe. Kesukaan ini menjadi awal mula saya memberanikan diri untuk kuliah ke luar Medan. Berjalan sendirian ke tempat umum, hingga MCD biar bisa fokus mengerjakan tugas juga sering kali saya lakukan. Rasanya tentu tenang, tidak ada yang mengganggu, bahkan kalau berbelanjapun lebih sering sendiri. Toh, saya bisa menentukan pilihan saya sendiri, tidak perlu saran orang lain. Karena beberapa kali mengajak teman, malah teman saya yang bingung dan pusing, sungguh itu menghabiskan waktu lebih banyak, LOL.

Keenam, menghargai orang lain. Semua orang sudah tentu ingin dihargai, bagaimanapun jabatan yang dimiliki seseorang tentulah kita harus menghargai. Hingga akhirnya kita seperti harus segan, mungkin ke beberapa orang kita harus menjadi tidak enakan. Bahkan untuk beberapa orang menjadi sepele sama kita, dianggap tidak bisa marah, tegas. Padahal hanya karena ingin berbuat baik kepada orang lain. Padahal jiwa dan fisik harus sehat, karena akhir-akhir ini banyak sekali orang yang tidak memikirkan orang lain, sekadar ingin dihargai tanpa menghargai orang lain. Ketika sekolah, mungkin tidak begitu terasa ya ketika kita tidak dihargain. Lingkungan kerjalah yang membentuk seseorang dalam bertindak, bagaimana memperlakukan orang lain, ucapan yang dilontarkan, dan semua gerak-gerik ketika bekerja tentu terekam jelas oleh perusahaan tempat kita bekerja.


Terakhir, always on time. Beberapa kali mungkin pernah saya terlambat. Karena on time tersebut sering sekali saya dijadikan panitia, dan sedihnya orang lain kurang menghargai waktu kita. Tidak perlu melihat apa jabatan seseorang, kalau sudah ngaret tentunya pasti akan membuat mood menjadi jelek hingga kurangnya kepercayaan kita kepada seseorang tersebut. Kalau dulu pas SD SMP sudah terlatih on time, Alhamdulillah terbawa hingga sekarang. Untuk para ibu bapak semua, perlu ya anak diajarkan disiplin dan on time, karena ini jadi kebiasaan yang terbawa hingga kita dewasa.

Jadi, dari 7 hal di atas, adakah hal yang kamu juga alami? Komen dibawah yuk! xD

Comments

  1. Kesamaan kita anak pertama ya Elsa,, jd memang ada beban tersendiri agar jd contoh teladan yg baik bagi adik²nya. Kl ambisius seiring bertambahnya usia, bagi sy akhirnya mencair sendiri, beda dg 20 thn yg lalu ya

    ReplyDelete
  2. Yang terakhir good banget, aku juga berusaha menjadi orang yang on time, kalau pun telat ya berusaha gak telat-telat amat. Jadi sering kali miris kalau ada acara tuh telat dan denger orang bilang "biasa orang indonesia, pakai jam karet".

    ReplyDelete
  3. Waktu saya 20-30 tahun kayaknya juga mengalami ambisi yang sama. Pengen ini itu setinggi mungkin. Namun pada usia 30an ambisi itu pelan-pelan beradaptasi menyesuaikan keadaan. Nanti elsa bakal ngalami sendiri insyaAllah.

    ReplyDelete
  4. Anak pertama memang begitu Els...
    Selain yang disebutkan di atas, anak pertama juga sering jadi bahan percobaan ortu hihihi
    Misalnya saja, anak pertama dimasukkan ke sekolah yang ini.
    Ternyata tu sekolah gak sesuai ekspektasi ortu, yauda ntar adek-adeknya jangan dimasukin situ kwkwkwkwkkw

    ReplyDelete
  5. Banyak kesamaan kita sa.. cuma awak nomer 3. Bukan anak pertama.
    Ambisius dan perfeksionis kadang beda tipis ya.. hihihi

    ReplyDelete
  6. Salah satu hal yg kk suka sama elsa nih bener2 konsisten dlm hal minimalis dan zero waste, duh jadi tersentil saya hihi

    ReplyDelete
  7. Saya terharu dan banggu mengetahui hal-hal yang positif dari Mbak nih. Mulai dari ambisius hingga always on time. Hingga kini pun saya masih belajar untuk mengadakan hal hal positif itu dalam diri. Hal yang baru saya sadari setelah membaca artikel mbak kali ini adalah takaran ambisius ini. Barangkali saya memang harus meningkatkan tarafnya supaya berhasil sesuai dengan target. Bukan hanya perencanaan belaka. Thanks Mba sudah berbagi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!