Skip to main content

Pencapaian Tertinggi dalam Hidup, Pentingkah?

Ngomongin pencapaian, rasanya banyak sekali hal-hal yang tercapai tanpa direncanakan. Muncul begitu saja, dimudahkan begitu saja. Suatu saat sibuk meminta sesuatu, di kala sholat, di waktu mustajab berdoa. Tetapi doa tidak kunjung dikabulkan. Menggerutu? Tidak boleh. Doa itu dijawab dengan berbagai cara, dikabulkan saat itu juga, dikabulkan di lain waktu, dikabulkan dengan cara diganti dengan yang lebih baik, bahkan tidak dikabulkannya doa itu sendiri. Maka dalam berdoa, saya selalu menyelipkan kalimat, "Apapun yang terbaik menurut Allah, mudahkan...".


Pencapaian kalau di hitung-hitung tidak akan ada habisnya. Pertama jika melihat ke diri sendiri harusnya kita jadi lebih banyak bersyukur. Namun, jika pencapaian kita dirasa kurang, kita melihat ke orang lain, mencari yang lebih. Padahal belum tentu perjuangannya lebih mudah dari kita, hidupnya lebih mudah dari kita. Maka dari itu, jangan pernah membanding-bandingkan diri sendiri kepada orang lain. Karena tidak akan ada habisnya. Artikel ini bukan hanya untuk membangga-banggakan diri, atau riya. Hanya sebagai pembelajaran yang bisa diambil ibrahnya, Aamiin Allahumma Aamiin.

Pertama, dulu ketika sekolah, saya termasuk siswa yang ambis, rajin belajar, mengerjakan PR, diskusi, ikut ini itu, 5 besarlah selama SMA. Ketika undangan sepak terjang saya jauh ke pulau Jawa, tapi tidak dengan jurusannya, saya diharuskan mengambil IPA, sesuai jurusan saya kala itu. Panjang cerita, ditolak. Akhirnya saya masuk PTN dengan usaha sendiri, doa orang tua, dan pertolongan Allah, bisa disimak di SBMPTN 2013. Ambisi kuliah di pulau Jawa terpenuhi, yang sudah lulus undangan duluan? Hahaha ya menghilang, mereka sibuk dengan diri mereka sendiri sementara saya menghabiskan waktu untuk membahas soal SBMPTN ini. Berat? Iya, saya jadi tahu siapa yang memang ingat dan peduli, dan siapa yang selalu ada. Itupun tidak membuat saya bangga begitu saja. Teman saya yang lulus SNMPTN, lebih lama lulusnya dari saya, dan itu membuat saya teringat bahwa, tidak selamanya memang yang mudah itu indah, yang sulit itu rumit.

Kedua, drama lulus S-1 sebelum 4 tahun. Siapa yang sedang sibuk skripsi? Nah, semoga mentalmu lebih kuar daripada mental saya ya hahaha. Perjuangan ketika ingin lulus juga tidak semudah seperti di sinetron guys, ketemu dosen hahahihi, lalu bimbingan, bareng temen, tahu-tahu lulus. Tidak. Apalagi pembimbing yang beraneka ragam dan wacana kalau di jurusan saya lulusnya lama ya bikin merinding juga. Apalagi di 2017, angkatan 2009-pun ada yang belum lulus, heeeh gimana ceritanya. Berat? Banget. Kondisinya lagi bulan puasa, mau pulang kalau enggak sidang tuh kayak yang... Ah sudahlah sehabis lebaran aja, dan itu akan panjang lagi. Perjuangan itu saya ceritakan di Cerita Hari Minggu. Bersyukur banget bisa (akhirnya) lulus sebelum 4 tahun, maklum biaya hidup dan uang kuliah itu disupport orang tua, kalau makin lama ya makin banyak biaya keluar, sementara adik 3 lagi hehehe. Kebayang yang kepikiran selama kuliah cuma, gimana caranya cepat lulus biar gak mengeluarkan biaya dari orang tua lagi.

Lulus sarjana, cari kerja mudah dong? Hahaha siapa bilang? Saya memulai internship dulu, sampai akhirnya bekerja di salah satu start up. Dan setelah setahun, saya ingin melanjutkan proses belajar saya di S-2. Alhasil pekerjaan ditinggalkan. Belum genap ingin kuliah lagi, muncul tawaran bekerja di perusahaan pertama saya bekerja, bedanya letaknya di kota asal saya. Bekerja tanpa orang dalam dengan skill yang pure dimiliki tentulah menjadi pekerjaan yang diidamkan banyak sarjana. Banyak pengorbanan yang muncul tidak hanya karena bekerja memang sesuai skill, tapi ada waktu, tenaga, dan pikiran yang juga dituangkan. Satu hal yang membuat kecewa, ketika bertemu saudara jauh, apa yang diucapkan beliau? "Kerja di mana? Yang masukkan kerja siapa?" Hehehe di kata semua keluarga kita apa tiap kerja pakai orang dalam. Atau emang kita nih dikira kagak usaha ya. Bukan mengenyampingkan orang yang bekerja akibat ada kenalan. Cuma itu bukan basa-basi yang harus ditanyakan ya, semacam sepele begitu kedengarannya. Selain ketiga hal ini banyak sekali pencapaian yang diberikan Allah, namun senang kiranya 3 hal ini yang bisa dibahas.

Kalau kamu sendiri, bagaimana pencapaianmu? :)

Comments

  1. Masya Allah ya kk. Alhamdulillah. Ada kemudahan disetiap kesulitan.
    Alhamdulillah, awak lulus SNMPTN, kk. Waktu SMA minta izin buat bimbel. Nggak dikasih ortu. Alhamdulillah, bisa menjadi salah satu mahasiswa exchange. Lulus dan bekerja. Serta beberapa pencapaian lainnya.

    Semoga target-target awak yang lain bisa segera tercapai. Aamiin. Begitu pula buat penulis dan pembaca yang lain. Insya Allah.

    ReplyDelete
  2. Selama kita mencapai sesuatu dengan tangan (baca: ikhtiar) kita sendiri, plus doa orang tua, dan minta kepada Allah SWT, insyaallah itulah yg terbaik. Kk sendiri dulu dapat juga pertanyaan kerja di mana siapa yg masukkan. Akhirnya enceng jd honorer di kantor pengadilan yg nota bene keluarga banyak kerja di instansi tersebut (tp tetap melalui ujian CPNS murni) Biar gak berhubungan dg pengadilan, kk banting setir ujian CPNS ke instansi lain, Kemendikbud. Jd ketika org nanya macem2 gak ada hubungannya sm ayah dan keluarga lainnya hehe...

    ReplyDelete
  3. Terkadang apa yang kita anggap terbaik, gak begitu pula yang Allah anggap. Bahkan yang terburuk menurut kita, bisa jadi yang terbaik dipilihkan Allah menjadi takdir kita ya dek.

    ReplyDelete
  4. Memang menyebalkan kan ya elsa kalau pertanyaan pekerjaan kita didapat apakah pake orang dalam? Kakak pun pernah begitu. Tapi memang kenyataannya sih lowongan kerja di Medan seperti itu, sebagian besar pasti pake akses orang dalam

    ReplyDelete
  5. Perjalanan pendidikan dan karirnya panjang juga ya kak? Meskipun berliku-liku tapi pasti tetap disyukuri dan menambah pengalaman juga. Sukses terus tetap semangat

    ReplyDelete
  6. Pencapaian saya saat ini sudah cukup, karna merasa bahagia, diberi kecukupan, dan oza yg menggemaskan, tiada hal lain yg saya inginkan selain skrg ini.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!