Skip to main content

Prioritas atau Dihargai, Pilih Mana?

Sebenarnya yang kita butuhkan itu apa? Rasa diprioritaskan atau sekadar rasa dihargai?



Beberapa waktu yang lalu, saya all the time chit-chat about life dengan teman saya. She cares so much. Kalau ada apa-apa, dia respon, tetapi ya gitu, terkadang sehari, dua hari setelahnya. Awalnya saya senang, saya masih berasa diprioritaskan diantara kegiatannya sehari-hari. Dia masih mau meluangkan waktunya menghadapi saya yang mungkin kisahnya tidak begitu berfaedah sebenarnya 🀣 tetapi semakin ke sini, tidak jarang jika dia sedang sibuk atau tidak sibuk, sama sekali tidak membalas pesan saya. Kok bisa?

Lalu tahun berganti. Saya sibuk, dia sibuk. Saya termasuk orang yang tidak begitu terlihat memprioritaskan seseorang kecuali keluarga dan pekerjaan. Sehingga jika ada hal urgent, saya balas, tetapi hanya sekadar menghargai keberadaannya. Saya menganggap, saya temannya, dia teman saya, dan kita berteman, tidak ada kata mantan teman. Saya menanggapi chatnya tapi ya seperlunya. Ketika balasannya hanya "wkwk" yaaa saya cenderung memilih stop it.

Semakin dewasa saya sadar, apa yang saya dan teman saya lakukan adalah tindakan saling menghargai. Hanya sekadar menghargai. Makin ke sini sering no respond yaaa kita mikir aja. Mungkin chat kelelep, atau kita bahkan I'm not her priority, bukan masalah penting bagi saya. Tapi menggantungkan chat di kala kita masih bertanya, apakah itu sopan? Bayangkan ketika anda asik mengobrol. Bertanya ini itu, tiba-tiba teman anda pergi ke pantry mengambil minum. Menurut anda bagaimana? Ya, manner kita dalam berhubungan dengan orang lain semakin ke sini semakin rendah.

We just connected with someone we need. Kita tidak merasa butuh, yaaa we don't keep contact. Bener sih, yang mengontrol kita hendak berteman dengan siapa, di cycle yang mana, adalah kita sendiri. Tapi, relakah kita memilih egois demi hasrat pribadi? Kita ngchat di grup, no respond, salah kita yang terlalu baper? Enggak. Salah dia? Enggak juga sih. Mungkin kita yang terlalu berharap akibat ekspektasi terlalu tinggi. Padahal temen kita di grup merasa, "aku enggak perlu jawab itu, atau aku enggak tau mau jawab apa". So many reasons mengapa mereka tidak membalas.

So what must we do?
Sebagai orang yang terkadang baper dan mencoba bodo amat. I've some tips for you.

1. Semua kita adalah manusia. Kita berhak memperlakukan orang dengan baik, karena kita juga ingin diperlakukan dengan baik.
2. Sabar. Saya sering baca dari postingan teman-teman, "kalau sudah emosi ya lawan balik, jangan mau diinjek-injek"; well, menurut saya dan agama kita diharuskan tetap berbuat baik sekaligus mendoakan teman kita itu.
3. Di bumi ini banyak orang, jangan gampang tersinggung, bukan hanya kita yang punya perasaan. Filter lagi hal apa yang bisa bikin bahagia tanpa overthinking ke semua hal.
4. Ada beberapa hal mungkin kita delete, blokir dari hidup ini. Tapi di dunia nyata? Jangan. Suatu saat ini bisa menjadi boomerang untuk kita, jadi tetap senyum, ramah, sopan, santun ya 🀣 walau dalam hati terasa berat wkwkwk
5. Keep in faith. Orang baik dan teman yang baik akan saling bersautan dan membantu di akhirat untuk ke surga nanti. Semoga kita menjadi teman dan mendapatkan teman yang mampu memberikan pertolongan di hari akhir nanti.

Jadi lebih butuh diprioritaskan atau dihargai? Dua-duanya tentu kita butuh. Hanya saja, setiap orang punya porsinya. Kalau seseorang merasa kita bukanlah prioritasnya, tidak masalah. Tidak ada kata saling didalamnya. Jadi, kita jangan terlalu berharap, biasa-biasa saja. Tetapi untuk perasaan ingin dihargai? Semua orang tentu ingin. Jadilah orang yang menghargai satu sama lain. Mau dia senior, junior, lebih kaya, lebih miskin, disabilitas. Everyone is special. Jadi jangan paksakan dirimu untuk dihargai sebelum kamu menghargai dirimu sendiri πŸ’™

Wallahu'alam bishshoaf.

Comments

  1. Orang bilang, your life will be a blessed and balanced experience if you first HONOR your identity. Jadi, saya pilih dihargai dulu. Soal prioritas, saya gak butuh orang lain, sebab saya bisa memprioritaskan diri saya sendiri.

    ReplyDelete
  2. Sepakat sih, kl semua orang itu spesial.. Kl kita mau dihargai ya mesti menghargai juga.. Aku pun kadang kl lg chating sm teman dan sana cm balas emot atau sekadar wkwkwk yaudah nggak ku balas lagiπŸ˜…
    Ya intinya mungkin kami memang saling menghargai, kl hal penting yg sifatnya pertanyaan atau kepastian selalu ke respon sih :)

    ReplyDelete
  3. agree with you mba ELsa, me too, just connecting with someone we need, and I think its normal. dan setuju banget everybody is special. so we have to treat them with special way. dan menghargai atau prioritas menurut saya itu one of ways menganggap mereka special.

    ReplyDelete
  4. Saya suka kalimat pamungkasnya. Hargai diri sendiri dulu jika ingin dihargai orang lain πŸ‘

    ReplyDelete
  5. Thanks ya kak. Tulisannya jadi reminder tuk diri untuk masalah harga menghargai diri

    ReplyDelete
  6. Kalo saya sih mending dihargai karena kalau dihargai sudah pasti diprioritaskan juga kan??

    Btw saya suka kata penutupnya mbak, "jangan paksakan dirimu dihargai seblum kmu menghargai dirimu sendiri"
    Ahh mantap

    ReplyDelete
  7. Gampangannya sih: bumi akan tetap berputar, awan akan tetap berarak, dan sungai akan tetap mengalir sekalipun kita marah, sedih, atau bahagia

    Ya, alam nggak akan peduli kondisi kita kayak gimana. Jadi ya cuek aja.

    ReplyDelete
  8. Ada memang beberapa temen yang wa/chat hanya saat butuh saja. Hehe, kalo kakak sih selama bisa membantu ya bantu. Ya seadanya aja. Gak dipaksa.

    ReplyDelete
  9. Ah, aku juga sedang menerapkan ini mba. Sabarr. hehe, dulu kalau dibikin kecewa atau marah kadang balik marah juga. Dan efeknya memang ngga ada gunanya. Jadi sekarang mau belajar untuk sabarrr aja :D

    ReplyDelete
  10. Yes, saya sih setuju sama Mbak .. saya bersikapnya demikian. Dalam dunia maya, memang lebih sulit untuk menerka dengan benar reaksi orang itu karena alasan apa karena kita tidak bisa melihat mimiknya dan bahasa tubuhnya. Begitu banyak kemungkinan jadi gak boleh baper. Kadang, kalau perlu balasan, ya saya chat ulang saja. Kalau gak dibalas2 setelah dia read ya sudah ya ... masih banyak kok orang lain yang bisa dihubungi :D

    ReplyDelete
  11. Benar semua punya porsi masing masing. Suka sebel kalau ada temen pas udah jarang ketemu selepas wisuda, eh oas ditanya jawabnya "udah kerja ya sekarang, pasti sibuk makanya jaranh balas chat aku"....
    Aduh gimana ya menghadapi teman yang berubah gitu.
    Memang pada saatnya kita harus memilih teman atau kerluarga, tapi tetap keluarga lah yang punya prioritas penuh

    ReplyDelete
  12. Ini lagi aku alamin jg beberapa temen lg butuh lari ke aku... Pas aku butuh sharing dy lg padet²nya atau memang timbal balik yg tidak efektif entah tapi aku berusaha santai

    ReplyDelete
  13. artikel" kk bagus-bagus apalagi mengenai prioritas atau dihargai ini menjadi cerminan diri sendiri sih jadinya , sangat berat untuk milih salah satu ya kalau bisa 22nya pasti pilih itu yaa. smoga dimudahkan kebaikan pasti di balas dengan kebaikan

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!