Skip to main content

Puasa di Kala Pandemi

Puasa kedua kalinya di masa pandemi membuat kita sudah terlatih menghadapi bagaimana gejolak covid yang masih tinggi tetapi masih ingin berkumpul bersama keluarga. Kalau tahun lalu masih bisa mudik ke Siantar di hari kedua lebaran, kalau tahun ini full di rumah saja. Bahkan selama bulan puasa ini hanya 1x saya berbuka di luar. AMAZING. Selain takut akan covid itu sendiri, saya juga mengurangi berpapasan dengan banyak orang, ingin lebih banyak ibadah, mendekat kepada Allah. Saya juga bisa berhemat banyak dari tidak ikut bukber ini hehe.

Kira-kira hal apa saja yang berubah ketika puasa berada di masa pandemi? Pertama, semua penjualan beralih ke online. Pedagang offline mau tidak mau harus mau belajar bagaimana caranya mengembangkan sayap ke dunia online ini. Mulai dari shopee, tokopedia, bukalapak, hingga promosi di akun instagram. Semakin ke sini jualan orang juga semakin beragam, mulai dari makanan, pakaian, hingga hampers yang dibalut dengan kain lembut untuk persiapan lebaran. Semua ini membutuhkan kreativitas yang tinggi. Sehingga tidak jarang, dengan banyaknya seller, semua berlomba-lomba untuk menggaet pembeli, memberikan promo gratis ongkir, cashback, potongan harga, dan lain sebagainya.

Kedua, bekerja dan berpuasa sekaligus di masa pandemi rasanya lebih melelahkan. Belum lagi di kantor harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat, pakai masker dan handsanitizer jalan terus. Padahal badan engap juga nih butuh udara hehe. Tapi bersyukurlah kita yang masih bekerja, karena di luar sana masih banyak orang yang kesulitan mencari pekerjaan, bahkan di PHK oleh perusahaannya.

Godaan semakin banyak. Makin ke sini toleransi ini agak berubah maknanya, dikarenakan banyaknya pemikiran yang ada di luar sana. Kalau kita puasa, ya harus kita yang menjaga mata, lisan, bukan yang tidak puasa yang harus menghargai. Karena kenyataannya mereka makan ya makan saja, minum hingga minum kopi di depan yang berpuasapun sudah menganggap biasa saja. Wallahu a'lam.

Jika ada keluarga sakit, maka sebaiknya jangan dikunjungi. Ya, ini terasa sekali di keluarga saya. Semuanya menahankan untuk bersabar tidak saling berkunjung. Karena ketika sakitpun ingin berobat rasanya bikin parno dikira Covid, jadi mending istirahat di rumah, minum obat beli di apotik, dan kurangi pikiran dari hal-hal yang membuat overthinking.

Comments

  1. Meskipun anjuran untuk menghibur saudara yang sakit, namun untuk saat ini dihentikan dulu ya sa. Karena sakit karena covid beda dengan sakit biasa.
    Semakin ngeri juga karena angka covid sudah semakin tinggi.

    ReplyDelete
  2. Yang sedihnya kl ada sanak saudara yang meninggal dunia terpaksa hanya mengucapkan stiker innalillahi ya, mau ikut takziyah khawatir berada dalam kerumunan dan meskipun keluarganya mengatakan bukan meninggal karena C-19, who knows ya kann

    ReplyDelete
  3. Kami malah gak pernah berbuka di luar ramadhan kemarin. entah kenapa masih parno buat ke tempat-tempat ramai. Begitu pun dengan belanja baju, kami menskip juga aktivitas ini. Soalnya ngeliat dari luar aja mall dan swalayan pada penuh.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!