Skip to main content

Kehilangan di Masa Pandemi

Semua yang bernyawa pasti akan mati.

Kata-kata yang sering kali terlontar jika ada sanak kerabat yang berpulang. Lalu bagaimana rasanya? Selama 25 tahun, saya belum pernah merasakan kehilangan yang berarti. Yang meninggal itu bukan orang terdekat, jadi rasanya? Biasa saja, sedih, esok hari hidup berjalan lagi, bahkan saya hampir lupa. Tapi ditinggalkan oleh orang terdekat di masa pandemi membuat saya kembali berpikir dan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah pada saya. Sebagai bahan introspeksi diri juga, kalau saya yang dulu bukanlah yang sekarang.

2,5 tahun yang lalu saat memutuskan kembali ke rumah karena ingin melanjutkan studi menjadi awal terungkapnya penyakit yang diderita ibu saya. It's means adik kandung mamak. Saya juga sempat bercerita tentang perjuangan dan mohon doa dari teman-teman semua. Kanker, kata dokter. Bermula dari operasi mium, dan tidak tuntas, tidak dilakukan pengecekan dan pengkontrolan kembali. Sehingga apabila sudah ganas, dia kembali muncul, bahkan menjalar ke mana-mana akibat akarnya semakin kuat. Dropnya di akhir tahun lalu, saat perutnya mulai membesar, hingga tidak bisa buang air, kami sepenuh hati dan tenaga mencari ke sana ke mari pengobatan untuk beliau. Dan ya, biayanya tidak besar. Ratusan juta. Belum lagi saat itu covid sudah ada, dan ngeri. Takut kalau-kalau sehabis operasi dinyatakan covid, sehingga akhirnya kami memilih rumah sakit swasta, Alhamdulillah ada saudara yang berprofesi sebagai dokter juga di sana. Arrazaq, maha baik Allah memang, dia begitu semangat mau sembuh, bahkan kami yang lebih melow jika menghadapinya.

Operasi itu membutuhkan plasma darah yang sesuai dengan tipe darahnya, berawal dari share di whatsapp lalu ke instagram, hingga akhirnya berjodoh kepada temannya teman yang bersedia membantu mendonorkan darahnya untuk ibuk. Operasi dilakukan 2x, diakibatkan kesulitan mencari darah tadi. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, serahkan sama Allah.

Alhamdulillah dalam 1 minggu itu 2 operasi berjalan lancar, membuat saluran untuk 2 proses buang air manusia. Setelah ini, masihkah kita tidak bersyukur diberikan nikmat oleh Allah akan fisik kita yang sempurna fungsinya? Singkat cerita, beliau sehat, bahkan bisa berjalan ke sana ke mari selama 2 bulan. Hingga akhirnya dibulan puasa mulai drop lagi, tidak selera makan dan ingin ke rumah sakit untuk diinfus. Sementara covid sedang melonjaknya saat itu. Dibujuk, diberi masukan, akhirnya diinfus saja di rumah. Hari Senin diinfus, Kamis sehabis kami pulang dari sholat Eid diluar gelagatnya sudah mulai beda. Ia tidak merespon kami. Ia berubah. Sepanjang hari pertama Idul Fitri kami hanya membacakan yasin, berulang-ulang. Hingga akhirnya, di malam Jumat malam kedua Syawwal itu, ibuk memilih bertemu malaikat Izrail, yang mungkin sudah sejak lama ditunggunya. Tak jarang keluar dari mulutnya kata, "Sudahlah, aku mau pulang saja". Padahal jelas rumahnya di Pakam dan itu tidak memungkinkan untuk pulang. Menggerutu? Tidak. Dia sangat sabar akan sakitnya.

Lalu kami shock? Tidak, jauh ketika beliau mengikuti proses operasi demi operasi kami sudah ikhlas. Terlebih ketika hari pertama Idul Fitri itu, kami sudah ikhlas dengan apapun yang Allah berikan jalan hidupnya diantara kami. Dan ya, semoga sakitnya menjadi penggugur dosanya selama hidup di dunia. Semoga dengan wafatnya ibuk di masa pandemi di malam Jumat, menjadi bahan agar diberikan naungan oleh Allah agar tidak mendapatkan azab kubur, tsumma naudzubillah.

9 hari berikutnya, om sekaligus tetangga kami. Suami dari sepupu mamak yang harus meninggalkan kami semua. Begitu cepat. Dia sedang duduk di depan TV, tak sengaja menyenggol toples kaca, lalu toples kaca itu jatuh, dan diapun ikut terlelap. Bahkan tidak terlihat bagaimana proses sakaratul maut itu datang kepada dua saudara kami ini. Hanya Allahlah yang tau, dan semoga ketika berpulang dari dunia kelak kita tidak memberatkan orang lain, pulang dengan tenang membawa amalan.

2 bulan kemudian, tepat kemarin sore, atok kami, adik dari nenek perempuan meninggal. Covid, kalian bisa bayangkan bagaimana rasanya ditinggalkan tanpa disampaikan pesan, bahkan dilihat wajahnya untuk yang terakhir kalinyapun tidak bisa. Langsung di wrapping dan dibungkus dengan peti. Hancur rasanya ditinggalkan orang baik dan sangat dekat dengan kehidupan kami. Rasanya kalau bisa menjerit ingin saja, tapi ujungnya selalu menangis.

Manusia memang akan mengalami mati. Dan kita ini ibarat sedang menunggu kapan waktu untuk berpulang saja. Semuanya bertujuan ke surga, hanya jam berangkatnya yang berbeda. Jam tibanya sama, yaitu ketika hari kiamat nanti. Wallahu'alam bisshoaf.

Mohon maaf kiranya ada salah saya dan keluarga selama ini, baik itu via chat, DM, atau postingan blog. Mohon maaf lahir dan bathin.

Semoga daintara teman-teman yang diberikan nikmat sakit, lekas sembuh, diangkat penyakitnya. Yang sehat, diberikan kedamaian dan kesabaran menghadapi pandemi ini. Nyatanya mencari kerja lebih sulit daripada menghadapi pekerjaan yang ada, jadi bersabarlah. InsyaAllah ada kebaikan <3


Comments

  1. Ya Allah, semoga orang-orang dekat dalam kisah Mbak di atas Allah lapangkan kuburnya dan berikan tempat yang indah di alamnya yang baru. Semoga kita semua sehat ya, Mbak.

    ReplyDelete
  2. Turut berduka cita kak elsa,, semoga amal dan ibadahnya di terima di sisinya, amin..

    Pasti berat banget, sampe kehilangan 3 sosok terdekat dalam keluarga yang sabar yah kak....

    ReplyDelete
  3. Aamiin...

    Setiap ada kejadian, sesungguhnya pasti mengandung hikmah. Hanya kita sebagai manusia ada yang bisa menelaahnya, ada yang tidak menyadarinya.

    Sehat selalu juga ya Mbak, bersama keluarga. Jangan lupa prokes, selaku bentuk ikhtiar kita

    ReplyDelete
  4. Nyatanya mencari kerja lebih sulit daripada menjalani pekerjaan yang ada.

    Bersyukur walau pedih duka serupa membalur seluruh jiwa, nggak mudah memang, namun ternyata akhirnya hidup itu demikian.

    Peluk jauh Mba. Semoga semua sanak keluarga yang telah lebih dulu berpulang, mendapat tempat terbaik di sisi Allah subhanahu wa ta'ala. Aamiin.

    ReplyDelete
  5. Inalillahi wa inailaihi rojiun.. Rasanya baca ini ikutan rontok hatiku mbak. Sungguh. Terima kasih sudah menuliskan kekuatan2 yg menguatkan. Semoga mbak sehat2 yaa.. Kami pun lg masa pemulihan pasca positif covid-19.

    ReplyDelete
  6. Sedih sekali rasanya kehilangan orang terdekat karena bertahun2 tinggal dgn mereka, kk pun merasa begitu dulu tapi harus tetap tegar ya kan, turut berduka cita ya elsa, semoga diberikan kesabaran dan ketabahan

    ReplyDelete
  7. Saya sejujurnya ketika awal pandemi sudah menyiapkan diri apapun yang diberikan oleh Allah swt pada saya dan keluarga. Karena skrng tidak menentu keadaannya jadi mau tidak mau manusia dipaksa untuk menerima takdirnya yaitu kematian

    ReplyDelete
  8. Ibu berpulang di hari baik mba, insya Allah berkumpul bersama orang-orang soleh. Terima kasih sudah berbagi cerita yang mengharukan ini. Sangat banyak pelajaran yang bisa saya petik sebagai anak dari ibu yang juga kondisinya sudah tidak fit lagi.

    ReplyDelete
  9. Patah hati terberat emang ditinggal orang terdekat...
    Semoga selalu dikuatkan ya mbak. Tetap sehat tetal semangat

    ReplyDelete
  10. Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun,, turut berduka cita yaa Elsa,, cukup mengikuti jg cerita Elsa ttg ibuk Elsa itu. Setelah ibuk, om dan atok ya Sa,,. Benar² kehilangan ya,, semoga sehat selalu kita semua ya Sa..

    ReplyDelete
  11. Sejak beberapa bulan ini, kalo mendengar suara dari masjid selalu berharap kalo itu bukan berita duka cita dek. Rasanya selalu silih berganti berita duka yang bikin terkejut dan sedih. Semoga kita semua selalu sehat ya.. semoga pandemi ini juga segera berlalu

    ReplyDelete
  12. Aamiin mudah2an begitu juga dengan doa-doa baik yang dituliskan oleh kak elsa. Sabar dan kuat yaa kak. Saya juga kehilangan beberapa orang yang saya sayangi di tengah pandemi ini. Mudah2an pandemi segera usai.

    ReplyDelete
  13. Turut bedukakcita ya kak. Sedih memang kl ditinggal otang yg kita kenal apalagi sanak saudara. Masa skrg ini di grup hampir tiap hari ada info meninggal. Moga kota sehat2 selalu ya 🙏

    ReplyDelete
  14. kuat-kuat, kak Elsa. semampunya sebagai manusia. senantiasa dilapangkan

    ReplyDelete
  15. Closing statement-nya menambah rasa syukur pembaca ya Sa... Btw kk 2 minggu ini cuapeknya luar biasa, mempersiapkan artikel utk dipresentasikan di konferensi nasional, langsung disambung ngoreksi UAS 233 orang yg harus selesai H+3 ujian. Tp dinikmati aja ya kan Elsa... mungkin masih banyak org di luar sana yg pingin jg jd dosen PNS kayak kk ini

    ReplyDelete
  16. Keep spirit ya sa... Beberapa hari belakangan banyak banget berita sedih. Semoga Allah menguatkan kita semua. Kita harus kuat melalui masa sulit ini.

    ReplyDelete
  17. Banyak berita duka selama pandemi ini berlangsung ya dek. Tapi percayalah apapun itu, semua sudah tertulis di lauh Mahfudz. Tinggal bagaimana kita mengelola rasa sedih kita menjadi sabar dan tetap semangat menjalani hidup ke depan..

    ReplyDelete
  18. Ibu kk juga waktu meninggal kmaren rasanya sedih banget, baru kali ini merasakan kehilangan yg sangat mendalam

    ReplyDelete
  19. Aaamiin ya Allah..
    Dan saya mohon maaf ya Elsa, jika pernah menyakiti elsa dengan kata-kata.
    Sungguh saya tidak ada sengaja dan niat untuk itu.
    Semoga ketika tiba waktunya, kita dan orang-orang yang kita cintai, serta anak keturunan kita berada dalam keadaan khusnul khotimah, Aaamiin ya Allah...

    ReplyDelete
  20. Kehilangan yang beruntun ya kak. Turut berdukacita. Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa ikhlas dan tetap semangat melanjutkan hidup

    ReplyDelete
  21. sediiih banget dengar berita akhir-akhir ini banyak kehilangan, bahkan hampir setiap hari orang terdekat dari kita ya mbak :( harus lapang dan bersiap kalau memang sudah jalannya. Semoga badai ini segera berlalu..

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah meluangkan waktu kamu untuk membaca. Tolong jangan komentar dengan link aktif ya! :))

Popular Posts

Mengapa Harus Pilih MRT?

Review CoHub Indonesia, Coworking Space di Medan

5 Alasan Mengapa Memilih Ruangguru!